Tuesday, October 30, 2018

Oy! Messenger, Kini dan Dulu

  No comments

Pernah dengan Oy! aplikasi pesan singkat yang dikembangkan oleh orang asli Indonesia. Pertama kali diciptakan untuk memudahkan komunikasi anatar pelau usaha kelas menengah kebawah. Dengan berbagai fitur yang mudah digunakan seperti transfer tunai melalu chat dan berbagai fitur lainnya, Oy! sempat booming di kalangan anak muda.

Awal kemunculannya, Oy! memberikan poin kepada pengguna atas setiap chat yang terkirim dan diterima. Dalam aplikasinya ada yang menyebutkan untuk mendapat satu poin kita harus caht sesorang lalu dibalas oleh orang tersebut ad\gar mendapat poin. Jika chat hanya berisi spam, maka chat kita akan dianggap sebagai spam dan otomatis kita tidak akan mendapt poin.

Selain itu, pilihan reedem poinnya yang bisa dibilang variatif, sdeperti pulsa, Power bank, Kamera dan berbagai itemk lain membuat banyak orang memakai Oy!

DSayang, akhir-akhir ini pwngguna Oy! muli turun drastis. Hal ini berawal dari naiknya harga reedem item serta makin sulitnya pengguna untuk mendapatkan poin. Bagi saya, hal ini merupakan suiatu hal yang baik untuk memfilter pengguna yang hanya mengirimkan spam demi poin semata.

Saya akui, selama menggunakan aplikasi Oy! ini, kebanyakan pengguna hanya mengirimkan pesan spam berupa copy paste artikel atau huruf-huruf tidak jelas seperti "ahdbhagfdhagfjhbais"

Hal pertama yang dilakukan pihak Oy! adalah menaikkan harga reedem beberapa item seperti pulsa 20K yang dinaikkan dari 260 poin menjadi 280 poin. Hal ini saya rasa berdampak signifikan dimana para pengguna Oy! ulai mengurangi spam pesannya dan terkadang menanggapi serius chat yang masuk.

SAyang, sejak pihak Oy! menghapus item pulsa dari daftar reedem, para pengguna Oy! bergugran satu-persatu. Untuk saya sendiri, pengguna Oy! yang masih aktif berkirim pesan dengan saya hanya tersisa 1 orang. Ya! 1 orang saja! dan poin harian yang saya dapatkan pun mentok 1 poin saja hahahaha

Saya sendiri merasa bingung dan dlema dengan keadaan ini. Satu sisi sya mulai bisa menemukan beberap apengguna yang benar-benar menggunakan Oy! sebagai salah satu media komunikasinya. Di sisi lain saya juga merasa sepi karena hanya memiliki beberap teman yang aktif menggunakan OY!

"Seperti kenal tapi tak mau melihat muka!" itulah yang saya rasakan selama ini saat menggunakan Oy! maklum, rata-rata engguna hanya mengirimkan pesan copy paste yang sekiranya tidak dinilai spam oleh sistem Oy!

Overall, semoga Oy! bisa kembali berjaya, sebagai produk bangsa saya mengapresiasi keberadaan Oy! pertama sebagai produk lokal (yang pernah digandrungi) kedua sebagai aplikasi yang telah menghubungkan saya dengan orang-orang baru!

Terima kasih Oy! semoga kedepannya bisa berinovasi dan menggaet khalayak lokal lagi! LOve produk lokal!  

Friday, October 26, 2018

NOSTALGIA, Sebuah Cerita Sederhana Tentang Persahabatan

  2 comments

Kali ini tulisan ini bakalan fokus tentang si A. Si A yang sempat saya singgung beberapa saat yang lalu di tulisan saya. Kalau kalian belum membacanya, tulisannya ada disini.

Jadi saya mau jelasin lebih jauh tentang si A. Dia ini temen SD saya. Murid pindahan dari ibukota. Entah apa alasannya, dia pindah dari ibukota. Yang jelas, selama di desa Ia diasuh oleh Ua nya. Ua, begitulahia biasa memanggil  pamannya.

Dari dulu yang saya herankan apa itu artinya Ua, apakah nama spesial atau apa. Hal itu sejak dulu menjadi momok dalam kepala saya. Eh, ternyata belakangan ini saya tahu kalau arti Ua adalah paman dalam bahasa sunda 😂. bagai peribahasa

"Gajah di depan mata tak terlihat, semut di seberang lautan malah terlihat"

 Singkat cerita kita berpisah, saya melanjutkan pendidikan saya di daerah Probolinggo, ada yang melanjutkan pendidikannya di luar kota, ada pula yang terus melanjutkan pendidikannya di Besuki. Omong-omong kalian tahu Besuki? kalau tidak silahkan cek di google map (Besuki, Situbondo). Nah, kabarnya si A ini balik ke ibukota, melanjutkan SLTP nya disana.


Berkat kemajuan teknologi saya dan teman-teman SD saya bisa tetap terhubung. Melalui aplikasi pesan singkat salah satu teman saya mengumpulkan kontak teman-teman sekelas lantas ia buat Group chat. Walau isinya hanya wacana

"Ayok kumpul!"
"Makan-makan yuk!"

dan wacana lain yang kadang tak terealisasi semuanya (meski lebih banyak yang tetap menjadi wacana 😂). Setidaknya saya masih bisa terhubung. Hanya beberapa teman yang masih akrab berhubungan dengan saya. Sebut saja Roni yang menggeluti seluk beluk dunia youtube dengan Channel youtube nya "Hokya Hokya", semoga adsensemu segera kelar mas bro!

6 tahun saya bersekolah di Probolinggo. Berpisah dengan teman-teman saya yang kebanyakan melanjutkan pendidikannya di Besuki. Terlebih si A yang balik ke ibukota. Lebih-lebih dia juga tidak bisa dihubungi karena tak satupun dari kami punya kontaknya.

Lalu beberapa hari yang lalu saya baru menyadari kalau ada salah satu teman saya yang mengirim kontak si A ke group SD. Maklum, saya jarang buka group karena group saya mute semuanya 😁. Karena usut punya usut, aplikasi yang terus menyedot kuota internet saya adalah Whatsapp 😒, ini juga yang menjadi alasan saya kenapa kemudian memakai aplikasi pesan singkat Oy!

Jadi saya pun  menghubungi si A. Seperti sahabat yang lama tak berjumpa kita bercerita banyak. Cerita tentang kisah masa kecil. Saat saya masih lugu, masih ganteng, masih imut-imut 😂

YA, seperti yang sudah saya ceritakan. Nostalgia itu kebutuhan, kita harus melakukannya sesekali. Selain itu saya juga merasakan suasana baru. Maklum, si A ini kan orang kota, jadi ngomongnya juga kota. Sedangkan saya orang desa, terkadang saya harus menghapus pesan saya seblum saya kirim karena ada beberapa kata daerah yang kadang terselip.

Bukan cuma masalah bahsa daerah yang kadang terselip, fitur auto correct juga membuat saya harus mencermati pesan yang ingin saya kirimkan kepada teman-teman saya.

Singkatnya, nostalgia dengan si A ini telah memberikan saya banyak hal. Pertama tentunya mengingat kembali momen-moemn masa kecil saya. Kedua, saya mendapatkan suasana baru dan bisa keluar dari tekanan serta stress akibat gunungan makalah yang belum saya selesaikan. 

Oh, dosen, semoga amal ibadahmu dibalas setimpal 😂

Oh, terima kasih A karena mau saya tulis! Si A ini sekarang bekerja sebagai admin di ibukota, menurut saya orangnya cantik, gk banyak berubah dari penampilannya kala SD. Haya sedikit gemukan tutrnya kepada saya. Orangnya juga pandai memasak dan suka bersih-bersih. Siap dilamar pula tuturnya 😂

Salam hangat dari Situbondo 😁 Oh ya, jangan lupa subscribe juga channel youtube saya 😊

Thursday, October 25, 2018

Bukan Rindu yang Berat! Tapi Menjadi Suporter Klub Sepak Bola

  No comments

Sungguh betapa bahagianya saya saat wasit meniupkan peluit panjang. Menyudahi pertandingan panjang nan panas dengan drama 7 menit pertambahan waktu antara Indonesia VS Uni Emirat Arab. Sungguh pertandingan yang menegangkan dimana Indonesia hanya dengan 10 pemain tersisa bisa bertahan dari gempuran pemain UEA yang datang bagai ombak (seperti gaya komentator yang sungguh kocak :D).

Sebagai warga Indonesia tentu saya sangat bangga atas prestasi anak muda bangsa yang bisa lolos hingga perempat final. Walau berat tapi mereka berhasil membuktikan bahwa mereka bisa. Garuda muda bisa terbang diantara para raksasa.

Sepakbola adalah olahraga yang benar-benar hebat. Bisa mempersatukan bangsa. Demi mendukung timnas, para fans militan melebur satu menjadi merah. Merah yang menutupi sebagian besar tribun Gelora Bung Karno. Andai pemandangan itu bisa kita lihat di setiap pertandingan liga 1 Indonesia. Suporter mendukung tim kesayangannya dengan antusias tanpa adanya kericuhan. Sepakbola adlaah olahraga yang menyatukan, seharusnya, bukan malah mematikan. Semoga insiden kemaren menjadi yang terakhir dan tak akan terulang lagi.

Saya mau bercerita sedikit, di akhir pertandingan para pemain UEA nampak kesal dengan permainan Indonesia yang seperti mendelay pertandingan. Mudah jatuh, dan terkesan mengulur waktu. Ya, hal itu memang salah satu trik dalam sepak bola, terlebih bagi tim yang unggul. Tentu menit-menit tambahan waktu akan terasa begitu cepat bagi tim yang tertinggal, dan terasa begitu lambat bagi tim yang sedang unggul. Tapi walau bermain dengan tempo lambat, Garuda muda bisa memberikan beberapa tekanan yang cukup membuat barisan belakang UEA ketar-ketir.

Andai Indonesia berada di kondisi tertinggal, tentu tim kita akan tertekan dan berpikir keras bagaimana caranya keluar dari situasi tersebut di tengah waktu pertandingan yang sudah hampir habis. Kita sebagai penonton mungki juga bakalan ikut baper, ada yang merapal doa, ada yang memisuhi wasit, ada yang harap-harap cemas. Jujur kalian pasti pernah merasakannya. Saya sendiri juga pernah merasakannya, saat dimana timnas berada dalam ketertinggalan dan tim musuh malah mengulur waktu. Kesel tau rasanya :" dan kadang saya terbawa emosi sendiri menyaksikannya

Wujud syukur pemain timnas setelah berhasil memastikan lolos ke perempat final AFC U-19


Menjadi seorang suporter itu bukanlah hal yang mudah. Kita harus kuat hati menerima hasil akhir di setiap pertandingan. Bisa buah manis kemenangan, bisa juga pahitnya kekalahan yang kita bawa pulang. 

Pernahkah kita berpikir, saat tim kesayangan kita menang, ada orang yang sedih atas kekalahan tim kesayangan mereka? pernahkah kita berpikir perasaan suporter suatu negara yang haru menerima kekalahan?

Saya sendiri pernah mengalaminya, saat Indonesia melawan Palestina di Asian Games kemarin. Dalam otak saya, yang saya pikirkan adalah perasaan mereka para pendukung Palestina jika tim kesayangan mereka harus pulang dengan kekalahan. Jujur saat itu saya tidak memikirkan Indonesia. yang dalam fokus saya adalah Palestina. Negaranya sudah melarat, masih harus pulang dengan kekalahan pula

Pertandingan lain yang cukup menyita emosi adalah saat bertanding melawan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, betapa kasihan saya saat pendukung yang rela datang jauh-jauh hanya untuk menyaksikan klub tercinta mereka bertanding. Perjuangan mereka mengantri tiket. Perjalanan mereka dari rumah mereka menuju venue pertandingan. Semuanya berkelebat, terlebih kemarin aksi pengeroyokan suporter bola lokal yang sampai menewaskan salah satu suporter.

Kalau kalian bilang rindu itu berat, sadarlah ada banyak hal lain yangjauh lebih berat! salah satunya ya menjadi suporter ini. Kita harus legawa menerima hasil akhir. Baik menang maupun kalah. Baik pahit maupun manis kita harus menerimanya dengan hati terbuka. Namanya juga kompetisi, pasti ada yang kalah, ada pula yang menang. Semua itu hanya soal klasemen, poin klub, dan permainan. 

Lantas apakah kalian menjadi suporter karena klub itu menjadi pemuncak klasemen? karena selalu mendapat untung dari taruhan atas klub tersebut? maka jangan sebut diri kalian suporter bola jika itu alasan kalian.

Menjadi suporter berarti kita mendukung sepenuhnya klub yang kita bela. Walau hanya dari tribun, walau teriakan atau yel-yel kita tak terdengar karena suara yang sudah mulai serak. Tapi sikap kita sebagai suporter yang menjaga nama baik klub kita juga merupakan dukungan moral yang secara tidak langsung mempengaruhi klub kesayangan kita.

Rivalitas memang ada! tapi rivalitas itu hanya saat bertanding, diluar lapangan kita semua bersaudara, lepaskan atribut kita, lepaskan bendera kita! kita semua saudara, kita semua sama. Kita manusia, kita warga Indonesia! satu hal yang harus kita pahami, RIVAL is not ENEMY.

Jangan pernah bawa rivalitas kita keluar lapangan. Karena kita hidup bukan untuk mencari musuh. Kita hidup untuk saling membantu satu sama lain. Semoga bukan hanya saat timnas bertanding kita bisa bersatu, tapi di setiap pertandingan, di setiap perlombaan, kita bisa menjadi suporter yang damai, yang loyal tapi tidak rusuh!

Sepabola adalah olahraga ajaib yang bisa menyatukan kita, jangan nodai hal itu dengan tawuran dan hal buruk lainnya. Menjadi suporter memang berat, tapi kita harus menerima dengan lapang dada hasil akhir dari setiap pertandingan. Bola itu bundar dan semua hal bisa terjadi dalam sepakbola

Selamat untuk Indonesia, Selamat untuk seluruh suporter di seantero Indonesia, Nusantara tercintaku 

_________
Sumber gambar :
pixabay.com
Surabaya.tribunnews.com








Saturday, October 20, 2018

Unlimited Hanya Omong Kosong?

  2 comments

Pernah denger kata Unlimited? baik di media sosial maupun di media cetak. Biasanya di iklan provider internet atau kaartu perdana. Iming-imingnya adalah internet Unlimited tanpa batas kuota. Tapi apakah itu benar-benar unlimited?

Dahulu kala saya sungguh senang saat membeli paket Unlimited. bisa ngelakuin apa aja. Bisa donwload apa aja, toh gak ada batasnya kan! tapi ternyata itu semua hanyalah strategi pemasaran semata. memang kita merasa seperti unlimited, atau tidak ada batasnya. Tapi sebenarnya ada limit yang tidak kita ketahui, dalam artian lain unlimited itu sebenarnya memiliki batas sendiri. tapi kita tetap bisa browsing, tapi mungkin kecepatan download akan berkurang, dan akan ada sedikit lag dalam koneksi.

Bagi saya, Internet itu adalah suatu kebutuhan. Terlebih kitaa hidup di zaman sekarang. Segalanya terkoneksi. Kita tidak bisa lepas, atau bahkan ketinggalan berita sedikitpun. Hari ini bukan soal siapa yang kuat, tapi siapa yang cepat.

Bicara  tentang unlimited, sekarang ini lagi marak kembali iklan unlimited lo. apakah unlimited kali ini hanya omong kosong dan strtegi pemasaran semata, atau memang benar-benar unlimited sungguhan?

Well, gini! internet itu kebutuhan banget. Kita bisa ngelihat orang yang berada di jauh, telekonferens, dan hal lainnya. Kuliah online pun marak. Pengeluaran untuk kuota pun menjadi salah satu kebutuhan penting banget hari ini. Sudah berapa rupiah kalian habiskan untuk pulsa dan kuota? 

Saudara-saudara, Internet di Indonesia bisa dibilang masih buruk. Kalau unlimited hanya digunakan sebagai omong kosong pemasaran, kapan Indonesia bakal maju? kita kudu bersaing dengan negara luar. Kita harus juga terkoneksi. Sekarang rupiah melemah, tapi ada sedikit orang, yang kreatif, yang gak mau kalah, yang berjuang survive di Internet. Dengan bekal koneksi dan internet mereka bisa meraup untung. 

Bayangkan jika seluruh masyarakat Indonesia bisa terkoneksi. Bisa bersaing. Tentu Indonesia gak bakalan kalah jauh dengan negara tetangga. Andai unlimited itu bukan hanya isapan jempol belaka, bukan hanya omong kosong pemasaran. 

Andai

Saturday, October 13, 2018

Hal-hal luar biasa yang Saya Sadari ketika Mati Lampu

  No comments

Satu Minggu ini saya benar-benar dibuat kesal dengan pemadaman listrik yang tidak berkesudahan. Usut punya usut pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Paiton sedang mengalami gangguan dan sedang dalam proses perbaikan. 

Akhirnya selama satu Minggu penuh saya harus bisa beradaptasi dengan pasokan listrik yang baru hidup pada jam 9 malam dan mati kembali pada jam 9 pagi. Ingin saya komplain, tapi pasokan listrik satu-satunya ya hanya dari PLTU. Pihak PLN pun hanya bisa memberikan berita terkini terkait proses perbaikan serta tentang pemulihan pasokan listrik.

Walau harus terbiasa dengan keadaan setengah terang setengah gelap seperti itu, ada beberapa hal yang saya rasa mungkin tidak akan. Saya rasakan jika pasokan listrik dalam keadaan normal.

Pertama, saya terpaksa mandi di sungai (bisa dibilang Empang, atau kali! Terserah mau pakai istilah yang mana!). Kejadiannya cukup lucu, ibu saya sedang mandi kala itu, karena bak kamar mandi terlihat kotor beliau pun menguras bak kamar mandi. Ternyata pemadaman sudah berlangsung. Alhasil saya terpaksa mandi di sungai.

Saya bersyukur bisa mandi di sungai. Mengingat masa-masa kecil saat dengan bebas mandi di sungai. Biasanya saya dan temen-temen mandi di bendungan buatan warga. Saya masih ingat saat kami sedang adik-adik nya mandi, ada yang lompat salto, ada yang berenang. Tiba-tiba semuanya kabur, karena seekor ular air melintas 😂😂. Dengan segera kami langsung pergi ke tepian 😂.

Selain itu saya juga melihat beberapa orang tua menyikat giginya dengan batu bata yang dihaluskan. Sampai sekarang saya tidak tahu apakah kebiasaan ini baik atau tidak, tapi katanya hal ini tidak baik karena dapat membuat gigi menjadi tipis.

Hal lain yang saya sadari, lebih tepatnya nostalgia. Saya dapat mengingat momen saat kecil berjalan melewati pematang sawah. Pertama karena lebih cepat sampai. Kedua GK terlalu panas dan tak perlu memutar seperti saat lewat jalan beraspal.
Ya, dulu setiap pagi saat libur pagi hari pasti saya sudah sarapan. Lantas langsung minta uang jajan dan bergegas ke tempat rental PlayStation. Dulu belum ada android, HP paling canggih ya Nokia Express music di rumah saya. Sungguh bahagia rasanya mengingat momen momen masa kecil yang absurd itu. Rebutan Stik PS, main bola di sore hari.

Saat ini saya sudah tidak bisa merasakannya. Kebahagiaan, keceriaan, tawa lepas itu. Anak kecil sekarang sudah pada kecanduan gadget. Mereka tak bisa lepas dari gadget. Kumpul sih, tapi pada kandang HP semua. Gadget lagi, gadget lagi 😥.

Saya jadi teringat sebuah ucapan. 

"orang paling bahagia adalah orang zaman lampau, karena mereka bisa berinteraksi satu sama lain secara langsung" 

dan memang benar, interaksi langsung dengan orang lain sangat berpengaruh terhadap psikologi dan kejiwaan. Jadi seperti penambah kebahagiaan, sederhananya Moodbooster lah.

Sungguh, saya Rindu momen-momen itu. Berlarian lepas di pematang sawah mengejar layangan putus, main bola, walau hujan tetap berlanjut, malah makin antusias. Ngolok teman pake nama orang tua 😂😂 aduh, masa kecil yang benar-benar absurd.

Saat malam hari karena mati lampu saya pun terpaksa menghidupkan lilin dan lampu tempel. Ada satu momen lagi yang saya sadari, keindahan alam semesta, bentangan indah langit hitam dengan taburan bintang dan benda luar angkasa. Sungguh bersyukur kita bisa hidup di planet yang memiliki keindahan ini. Sebuah bukti keagungan sang pencipta.

Ya, berhenti sejenak dari dunia Maya. Keindahan dunia benar-benar nyata. Interaksi sosial kebutuhan kita, bukan hanya interaksi Maya melalui sosial media.
Guys, we need and break from our virtual world. Let's take and look on our real world. Banyak bersyukur, banyak bahagia, banyak senyum lah. 

Sekian dari saya 😊 salam hangat dari Situbondo 😊