Friday, November 25, 2016

Emha Ainun Nadjib in WPAP by Rahman Kamal

  2 comments


Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik Kyai Kanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/1140-kyai-kanjeng-sang-pelayan
Copyright © tokohindonesia.com
Emha Ainun Nadjib atau yang lebih akrab dengan panggilan Cak Nun merupakan budayawan dan intelektual muslim asal Jombang, Jawa Timur. Anak keempat dari 15 bersaudara ini pernah menjalani pendidikan di Pondok Modern Gontor-Ponorogo dan menamatkan pendidikannya di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Namun pendidikan formalnya di UGM, tepatnya di Fakultas Ekonomi, hanya mampu Cak Nun selesaikan 1 semester saja.

Sebelum menikah dengan Novia Kolopaking, Cak Nun pernah menukah dan dikaruniai seorang anak yang merupakan vokalis dari grup band Letto, Noe. Sedangkan dari pernikahannya dengan Novia, Cak Nun dikaruniai empat anak.

Pada bulan Maret 2011, Cak Nun memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, Penghargaan Satyalancana Kebudayaan diberikan kepada seseorang yang memiliki jasa besar di bidang kebudayaan dan mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Cak Nun belajar sastra pada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius, dengan merantau di Malioboro, Yogyakarta antara tahun 1970-1975. Ia pun gemar menekuni beberapa pementasan teater yang berhasil digelarnya. Cak Nun juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Selain teater, Cak Nun juga adalah seorang penulis buku dan aktif di kelompok musik arahannya, Musik Kiai Kanjeng, yang selalu membawakan lagu-lagu sholawat nabi dan syair-syair religius yang bertema dakwah. Selain itu, Cak Nun rutin menjadi narasumber pengajian bulanan dengan komunitas Masyarakat Padang Bulan di berbagai daerah. (Sumber merdeka.com)

Thursday, November 24, 2016

Resensi buku Tentang Kamu karya Tere Liye

  No comments
Kisah berliku Sri Ningsih
Di tahun 2016 ini, tere liye kembali memanjakan para penggemarnya melalui novel terbarunya yakni tentang kamu yang diterbitkan oleh Republika penerbit. Seperti novel-novelnya yang lain, tere liye kembali mengangkat suatu hal remeh dalam hidup. Yakni harta warisan. Dengan tokoh utama seorang lawyer muda yang bekerja  kepada firma hukum Thompson & Co dijamin membuat pembaca penasaran akhir cerita novel ini.
                Pemilihan katanya pun sederhana, mudah dicerna dan mengembangkan imaji para pembacanya. Dengan tokoh utama seorang Zaman Zulkarnaen yang notabene seorang lawyer muda atau junior associate di sebuah firma hukum di london, suatu hari iya mendapat panggilan langsung dari bos sekaligus mitra firma hukumnya yakni Mr Thompson Jr yang akhirnya mengubah pandangan hidupnya.
                Firma hukum yang mana Zaman bekerja memang berfokus kepada penyelesian sengketa harta waris sehingga harta waris diperoleh oleh pihak yang benar-benar merupakan ahli waris atau bisa diurus seadil-adilnya. Berawal sebuah pos yang berisi surat kepimilikan saham sebesar 1% yang bernilai triliunan rupiah, perjalan Zaman pun dimulai guna menelusuri siapa ahli waris yang berhak menerima warisan itu.
                Alur cerita yang dikemas secara mengesankan membuat kita tak merasa bosan sehingga tidak sabar membuka lembar demi lembar. Selain itu ciri khas seorang Tere Liya yang di setiap akhir bab nya meninggalkan beberapa patah kata yang sangat menggelisahkan sehingga kita akan sangat penasaran dengan kelanjutan bab berikutnya, sungguh hebat.
                Masa lalu Sri Ningsih, klien Zaman diceritakan begitu apik. Sosok wanita tangguh yang jatuh bangun, pantang menyerah walupun sudah berkali-kali gagal. Memang masa lalu, luka dan masa depan tidak bisa dipungkiri. Maka biarkanlah mengalir bagai alirang sungai. Maka  hidupku biarkan seperti itu, mengalir laksana sungai kehidupan.
                Selain itu pesan-pesan moral yang terselip serta isu-isu yang sedang panas berhasil dikritisi tanpa terkesan menggurui sungguh menakjubkan. Dengan beberapa kejutan dibagian 1/3 akhir buku dijamin membuat para pembaca kembali antusias mebalik lembar demi lembar hingga akhir cerita. Ending nya pun cukup mengejutkan untuk sebuah novel petualangan.
                Dijjamin, para pembaca tidak akan bosan, tapi malah tak bisa berhenti membalik lembar demi lembar. Bagai candu, plot yang didesain apik serta pemilihan diksi yang familiar dan penciptaan imaji yang jelas membuat kita seakan juga terseret dan ikut menjadi bagian dari cerita, berlatar cerita tahun 2016 lalu mundur ke tahun 1940 lalu terus berjalan hingga kembali ke tahun 2016 sungguh manakjubkan. Selain itu fakta sejarah juga berhasil dibungkus secara ringkas padat dan jelas melalui beberapa bab yang menceritakan jerih payah seorang Sri Ningsih. Tertarik untuk membaca? Segera kunjungi toko buku terdekat.
                Ingat budayakan membaca sejak kini, karena budaya literasi sangatlah dibutuhkan oleh bangsa ini. Mari bangun Indonesia yang lebih baik. Oh ya budayakan membeli juga ya... yang asli say no to BAJAKAN. Wassalam Salam Hangat

Friday, November 18, 2016

Merdeka: kita belum sampai disana ! (refleksi hari pahlawan 10 November 2016)

  No comments
Courtesy: Google.com


                “Perjuanganku lebih mudah, karena aku mengusir penjajah sedangkan engkau melawan bangsa sendiri!” –Ir. Soekarno
                Ungkapan proklamator kita tersebut diatas sangatlah relevan untuk menggambarkan dinamika bangsa Indonesia era kini. Semangat persatuan mulai luntur. Lawan kita bukan lagi penjajah, tapi bangsa sendiri yang berselisih pandang dengan kita. Sudah terlalu sering media mengabarkan kita tentang kasus tawuran antar pelajar, kericuhan antar suku dan kekerasan yang mengatasnamakan SARA. Sungguh ironi, Negara yang 71 tahun yang lalu dideklarasikan medeka dengan kekuatan persatuanya kini berubah menjadi individualis yang hanya mementingkan kepentingan masing-masing.
                Ungkapan tesebut diatas patut kita renungkan dalam-dalam karena sesungguhnya problematika nyata yang kita hadapi adalah tidak singkronnnya elemen bangsa ini. Yang pusat bertikai dengan yang daerah, yang daerah menyalahkan yang pusat, tak ada yang mau mengalah, setiap pihak punya argument pembenarannya masing-masing.
                Sungguh ironi, karena bangsa yang besar harus memiliki visi yang jelas, tujuan yang nyata guna diraih bersama-sama. Lihatlah kisah sukses lee kuan yew merevolusi singapura yang notabene Negara dengan luas tak lebih dari separuh nusantara, dalam waktu singkat mampu berevolusi menjadi Negara maju khususnya dikawasan asia tenggara. Hal tersebut tak lepas dari semangat pesatuan yang dikoarkan oleh lee kuan yew guna bersama-sama mencipta singapura yang lebih baik.
                Sudahkah kita medeka? Tidak, itu hanya deklarasi tapi sebenarnya secara implisit kita (bisa dibilang) masih dijajah oleh Negara lain. Betapa bodohnya kita, disaat Negara kita sedang gaduh karena saling tusuk satu sama lain pihak asing memanfaatkan moment tersebut untuk menanamkan identitas mereka di Indonesia. Contohnya, dimana-mana produk made in china mudah ditemui dimana-mana. Mulai dari barang elektronik hingga alat tulis dibuat Negara asing, mungkin hanya kopi  pinggir jalan yang sampai sekarang masih 100% butan Indonesia. Sungguh ironi.
                Sebenarnya, Negara kita mempunyai potensi menjadi Negara besar, seperti apa yang diungkapkan HaryTanoe bahwa kita masih memiliki banyak sumber daya alam dan tenaga kerja yang melimpah, sedangkan China dan eropa mulai menua, 70% populasi di Indonesia adalah generasi produktif yang berumur dibawah 40 tahun. Sungguh fakta yang mengejutkan, dan jikalau kita mampu memanfaatkannya dengan cerdas niscaya Indonesia akan menjadi salah satu Negara yang diperhitungkan di kancah dunia.
Maka dari itu, momen hari pahlawan kali ini haruslah diisi dengan semangat perubahan guna menjadi lebih baik.Tak hanya diisi dengan  peringatan memperingati jasa para pahlawan, tapi kita harus berjuang memajukan bangsa kita. Karena zaman ini adalah zaman global dimana segala sesuatu terhubung dan hukum rimba tak lagi berlaku tapi yang cepat kini melindas yang lambat, maka oleh karena itu kita tak boleh terlalu lama terpaku melakukan hal yang tak bermanfaat dan terpecah menjadi beberapa golongan tapi kita harus segera bertindak dan bersatu untuk Indonesia yang lebih baik kedepannya. Penulis percaya dengan berjuang memajukan bangsa para pahlawan akan tersenyum dialam sana melihat kegigihan kita yang terus berjuang walau tak lagi melawan penjajah tapi melawan bangsanya sendiri.
                Hemat penulis, ada beberapa hal yang patut ditanamkan kepada generasi muda agar nantinya memiliki daya saing dan mental baja untuk bersaing dengan Negara lain kelak. Hal pertama yang harus ditanamkan adalah semangat toleransi, menerima perbedaan. Dengan memiliki semangat toleransi yang tinggi kita mampu berjalan beriringan mengesampingkan unsur SARA dan begerak bersama memajukan bangsa. Semangat toleransi ini bisa ditanamkan dengan mengenalkan kekayaan bangsa kepada generasi muda agar mereka tahu betapa kayanya Negara kita dan juga dengan memberikan wawasan tentang sejarah merdekanya bangsa yang diraih dengan keringat banyak golongan yang bersatu mengesampingkan kepentingan individu dan bersatu meraih kemerdekaan bangsa 71 tahun yang lalu.
                Hal  kedua yang harus ditanamkan adalah semangat persatuan. Seperti yang telah penulis paparkan sebelumnya, sebagai Negara besar kita harus berjalan beriringan mengesampingkan kepentingan individu dan kelompok demi kemajuan bangsa kita kedepannyya. Dengan semangat pesatuan yang dijunjung tinggi, seluruh aspek di Negara ini akan berproses, begerak dan berjalan beriringan guna mewujudkan mimpi bersama Negara ini yakni untuk menjadi lebih baik.
                Akhirul kalam, sebagai penutup, izinkan penulis mencuplik puisi seorang Sapardi Djoko Damono yang dengan begitu indahnya mengilustrasikan betapa powerfullnya persatuan dan toleransi
Berjalan kebarat waktu pagi hari
Waktu aku berjalan kebarat di waktu pagi matahari
                                Mengikuti di belakang
Aku berjalan mengikuti bayang-bayang sendiri yang
                                Memanjang didepan
Aku dan matahri tidak bertengkar tentang siapa diantara
                                Kami yang telah menciptakan bayang-bayang
Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di
                                Antara kami yang harus berjalan didepan
Wallahua’lambisshawab

Sunday, November 6, 2016

NIGHTMARE : a story telling text

  No comments


This story was started in unknown city where all people were haunted by bad incident ever in that city’s history. No one was brave to go out from the house, they could not do anything nicely like the normal people did. This city was like dead city, there was no activity done by the society.
At the one day, the sky looked cloudy. Two young men coming from other cities came to the city. Joe and Roy who liked travel did not understand about this city’s situation. They walked as usual as they did, they walked through many places in that city. But, the sun did not support them to look for the society. It was nearly dark. Besides, the black demon had looked them and the danger event would come to their lives soon.
Roy: Joe, what do you think about this city? It is quite good, isn’t it?
Joe: yes, I think it is quite good. But, there is no activity of human right here I see.
Roy: that is bullshit you know! They probably have a nice sleeping.
Joe: sleeping? What do you mean? It is impossible!
The Black Demon: I am going to have the souls of yours and you will not be safe anymore! (Laugh)

            Then, they did not know what they were going to do. No longer after, they began looking for motel around the city. The night had greeted them, but they had not still found it. Then, they saw an old motel near by a big river.

Roy: excuse me, is there anybody inside? (Knock the door)
The Hostess: yes, can I help you boys? (Open the door)
Roy: I and my friend would like to spend night. Is there any room free?
The Hostess: yes, it is only one. You may enter and here you are. (Give a key)
Joe: our gratitude for you madam!
The Hostess: most welcome and I just suggest you that just be careful! (Laugh)

            Their afraid states were coming when the hostess left them. They came to the room which was shown by the hostess, began cleaning the room, and tried to enjoy the situation which haunted them. Suddenly, Joe felt stomach-ache and left Roy alone.

Joe: damn! This room is so dirty, the hostess probably cleans it once five years.
Roy: Joe…Joe…Joe…calm yourself! Try to enjoy this situation! We are lucky to get this.
Joe: I will make it to you! Your speaking makes me get stomach-ache. Forget it! I am going to the rest room

            Roy just did nothing to wait Joe. He tried to play his gadget and listened to the music. It was nonsense, he felt bored and began sleeping. But, he could not sleep nicely, he still thought about Joe. At the time, he entered in black demon’s vortex and the nightmare came to life.

The Black Demon: nightmare! When the nightmare comes to life!
Roy:  Joe? Where are you Joe? I need you!
The Black Demon: your friend had already passed away! No matter you scream out, no one hears you! (Laugh)

            Roy could do anything except praying to god. Wishing his voice was heard by the god. But it was only the black demon’s voice bothering his mind.

Roy:  don’t kill me, don’t kill me, please!
The Black Demon: what are you talking about?
Roy: I do not want to die, I have a family in my house.
The Black Demon: i do not care of your family. And it gets you! (Kill Roy)

            Finally, Roy passed away in that house and Joe did too. In society’s story, that house was a big grave yard in that city. No one was brave to come there and it left bad memory for everyone. Because, it was awful to come and that black demon still waited everyone to come there.

“Moral Value: Believe what you believe because GOD creates visible and invisible matter in the world”