Mengkritik Tanpa Memberikan Luka




Dalam kehidupan sehari-hari tentu Kita akan bersinggungan dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Segala sesuatu acapkali sering juga tak berjalan sebagaimana mestinya. Apa yang sudah Kita rencanakan seringkali tidak terlaksana dan hanya menjadi wacana.

Jika Kita melakukan sesuatu sendirian, lantas ada beberapa hal yang tidak berjalan semestinya tentu Kita bisa dengan mudah melakukan penyesuaian dan perbaikan. Beda ceritanya jika yang Kita kerjakan adalah suatu pekerjaan beregu atau kelompok.

Perbedaan pendapat dan pemikiran tentu sudah pasti ada jika banyak orang yang terlibat dalam sebuah pekerjaan, saat ada kesalahanpun Kita tidak bisa semerta-merta menyalahkan salah satu pihak. Oleh karena itu diperlukan teamwork dalam sebuah tim untuk mencapai tujuan bersama.

Perbedaan Pendapat dan Perseteruan

Saat bekerja dalam kelompok, perbedaan pendapat adalah sebuah hal yang niscaya. Meski berjalan beriringan, belum tentu semua elemen dalam sebuah kelompok memiliki tujuan dan visi yang sama persis. Kerapkali sering terdapat perbedaan tipis seringpula perbedaan sengit terjadi dalam sebuah kelompok.

Saat hal tersebut terjadi, dibutuhkanlah manajemen masalah yang perlu diterapkan dengan baik. Hal tersebut tentu untuk menyelesaikan dan mendamaikan masalah ataupun perbedaan yang terjadi di dalam kelompok tersebut.

Manajemen Konflik

Sebuah permasalahan, perbedaan atau perseteruan dalam sebuah kelompok pada dasarnya bisa dengan mudah diatasi jika ada manajemen atau pengaturan yang baik. Upaya untuk melakukan mediasi dengan melakukan manajemen ini disebut dengan manajemen konflik.

Manajemen adalah pengelolaan untuk mengatur sebuah organisasi atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan organisasi.Sedangkan konflik adalah proses dua orang atau lebih yang melakukan tindakan untuk menyingkirkan orang lain. 

Sederhananya, manajemen konflik adalah sebuah pendekatan yang dilakukan serta diarahkan untuk komunikasi dengan pelaku konflik. Yang mana pelaku konflik dapat memengaruhi kepentingan bersama suatu organisasi.

Sedangkan menurut ahli Howard Ross, manajemen konflik adalah langkah yang diambil pihak ketiga dengan tujuan mengarahkan konflik ke hasil tertentu yang mungkin/tidak menghasilkan hasil akhir berupa penyelesaian konflik atau mungkin/tidak menghasilkan ketenangan atau hasil mufakat.

Tipe Manajemen Konflik yang Harus Di Ketahui

Model Manajemen Konflik



Dalam manajemen konflik ada beberapa tipe yang digunakan untuk menyelesaikan konflik yang ada, ada enam macam tipe manajemen konflik, yaitu :

Acomodating

Acomodating merupakan usaha yang dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai pendapat pihak yang terlibat konflik. Nantinya, akan digunakan untuk musyawarah atau menyelesaikan konflik tersebut. Namun, tetap mementingkan kepentingan dari salah satu pihak. Hal ini dapat merugikan salah satu pihak yang berkonflik.

Avoiding

Avoiding adalah sebuah upaya untuk menghindari sebuah konflik agar tidak terlibat di dalamnya. Hal ini menjadi cara yang efektif agar lingkungan terhindar dari konflik.

Compromising

Berbeda dari acomodating, cara ini lebih memerhatikan kepentingan bersama. Dengan mendengarkan pendapat dari semua pihak dan memutuskan jalan keluar dengan tetap mementingkan kepentingan bersama menjadi cara yang adil bagi semua pihak. Cara ini akan memberikan solusi bagi semua pihak. Ada 4 bentuk kompromi yaitu separasi, atrasi, menyogok, dan mengambil keputusan secara kebetulan.

  • Separasi artinya pihak yang terlibat konflik dipisahkan untuk menyelesaikan konflik yang ada.
  • Atrasi artinya pihak yang berkonflik setuju dengan keputusan yang diambil pihak ketiga atau penengah.
  • Mengambil keputusan berdasarkan faktor kebetulan, dengan cara ini bisa dilakukan dengan hal-hal yang sederhana tapi tetap berpegang pada aturan yang berlaku.
  • Menyogok merupakan memberikan imbalan untuk pihak yang mengambil keputusan dengan tujuan pihaknya dapat dimenangkan dalam konflik tersebut. Hal ini mungkin curang, tetapi bergantung pihak masing-masing yang menyelesaikannya.

Colaborating

Colaborating merupakan cara menyelesaikan konflik dengan bekerja sama yang hasilnya memuaskan semua pihak. Semua pihak akan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah dengan tetap memerhatikan kepentingan bersama.

Competing

Competing adalah cara yang digunakan dengan mengarahkan pihak yang terlibat konflik bersaing dan memenangkan kepentingan masing-masing pihak. Cara ini pastinya tidak akan memberikan solusi bagi kedua belah pihak dan yang pasti ada kalah ada yang menang.

Conglomeration

Conglomeration merupakan kombinasi atau campuran menyelesaikan konflik dengan cara menggabungkan lima tipe di atas. Tentunya cara ini akan lebih memakan banyak waktu dan tenaga.

Writter's Little Note

Pemilihan metode yang baik tentu akan menghasilkan hasil akhir yang baik juga. Oleh karenanya sangat penting untuk memilih metode terbaik dalam menyelesaikan sebuah masalah atau konflik yang terjadi dalam sebuah kelompok atau tim. Manajemen konflik yang baik dan tepat dapat membuat sebuah perbedaan maupun perdebatan dapat terselesaikan dengan lebih cepat serta meminimalkan dampak dan resiko yang bisa terjadi. 

Hal tersebut memang cukup mudah untuk diungkapkan namun sulit untuk diaplikasikan. Hal ini Saya pribadi cukup sayangkan. Dalam sedikit pengalaman yang pernah Saya alami dan lewati, kendala yang paling sering muncul adalah penolakan di antara salah satu pihak yang sedang bertikai atau berbeda pendapat. 

Jika dinilik lebih lanjut, sebenarnya bisa dibilang bukan masalah kepemimpinan yang perlu dipertanyakan jika terjadi sebuah perdebatan atau perbedaan pendapat. Saya cukup yakin jika setiap orang, generasi muda sudah mengenyam pendidikan kepemimpinan yang cukup di bangku sekolah.

Pelatihan kepemimpinan dan orientasi sudah sangat sering dilaksanakan di bangku pendidikan di negara Kita, namun masih sering terjadi perbedaan pendapat dan konflik meski generasinya sudah mengenyam pendidikan yang cukup. Hal ini Saya nilai sebagai bagian dari kurangnya edukasi yang berimbang.

Tentang Followership

Followership ini pertama kali dikenalkan oleh Robert Kelley pada bukunya yang berjudul in Praise of Follower diterbitkan oleh Harvard School Of Business pada tahun 1988(Baker, 2007), “Followership adalah suatu kemampuan dan keinginan untuk melakukan tingkah laku tertentu dengan tujuan untuk berpartisipasi dalam memenuhi tujuan bersama “. Followership juga merupakan bagian dari Leadership dan menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Selain itu followership merupakan konsep yang sederhana, konsep ini membahas bagaimana menerima arahan dengan baik,menjalankan suatu program yang telah disusun, menjadi bagian dari suatu tim danmenyampaikan hasil terbaik atas hal yang telah dilakukan(McCallum, 2013).

Jadi followership dapat juga dikatakan bagaimana cara individu dalam suatu kelompok, menerima sesuatu arahan atau informasi dari individu yang menjadi pusat di kelompok tersebut.

Dan masih menurut Robert Kelley, ada beberapa tipe followership yang ada disetiap individu, seperti antara lain :
  1. Sheep : individu yang sangat pasif dan butuh motivasi dari leader atau individu lain dalam kelompoknya
  2. Yess-man : ini tipe orang yang selalu berkomitmen untuk pemimpin kelompok, dan akan selalu di baris terdepan dalam menjalankan perintah dari pimpinan.
  3. Pragmatis : ini tipe-tipe orang yang tidak proaktif sama sekali, dan akan mengikuti apa yang menjadi sebagian besar kelompoknya.
  4. Alien : ini sebenarnya tipe yang cerdas, tetapi kurang cocok dengan anggota tim yang lain dan cenderung untuk menurunkan semangat anggota tim lain. Tipe ini cenderung akan selalu mempertanyakan keputusan dari pimpinan yang telah disepakati bersama.
  5. Star follower : Individu ini teladan yang pemikir positif dan aktif,. Tipe ini tidak akan secara membabi buta menerima keputusan atau tindakan seorang pemimpin sampai mereka pahami Selain itu, pengikut jenis ini bisa berhasil tanpa kehadiran seorang pemimpin

Secara sederhana, Saya menilai bahwa pendidikan keanggotaan sangat perlu untuk juga digembleng dan dibentuk. Tidak hanya mendorong dan menanamkan pendidikan kepemimpinan namun juga perlu diimbangi dengan followership education yang memadai berbarengan dengan leadership education yang sudah umum diajarkan di bangku sekolah.

___
Sumber gambar : 
https://unsplash.com/photos/0d3sN22lH0c
http://manajemen-sdm.com/manajemen-kinerja/5-strategi-utama-dalam-manajemen-konflik-dalam-organisasi/

Disadur dari berbagai sumber :
https://www.blj.co.id/2013/03/14/followership-sama-penting-dengan-leadership/
https://joglosemarnews.com/2018/04/leadership-dan-followership/
https://samahitawirotama.com/jenis-followership-dalam-dunia-organisasi/



Posting Komentar

32 Komentar

  1. siip...

    bermanfaat.... thank you fort sharing

    BalasHapus
  2. Bagus banget ini problem solving nya :)
    kalau saya menghindari konflik caranya memaklumi aja keadaan dan orangnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh, ternyata Mas Riza lebih milih untuk memakai cara avoiding sebagai manajemen konflik yang dihadapinya ya....

      Asik nih, udah punya cara masing-masing untuk menghadapi sebuah masalah dan memang tidak ada acuan tetap dalam pemilihan manajemen konflik yang dipakai dan digunakan...

      terima kasih banyak terlah berkunjung Mas Riza

      Hapus
  3. Balasan
    1. Sama-sama Mbak Tira, terima kasih banyak telah berkunjung

      Hapus
  4. Saya merupakan pribadi yg lebih suka menghindari konflik agar tidak terjadi perpecahan. Namun jika tidak ada konflik artinya tidak ada ide yang bermunculan. Intinya gimana konflik bisa diakomodir ya kak (mariatanjung)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener sekali kak, sebuah konflik sangat perlu untuk segera diselesaikan dan diberikan solusi. Hal tersebut untuk membuat suasana kembali menjadi kondusif dan proses kolaboratif dan team work bisa terus berlanjut dan berkembang sebagaimana mestinya 😁

      Hapus
  5. zaman aku sekolah dulu sering banget dimotivasi utk berkompetisi, dari SD sampe SMA. Dah selesai kuliah baru pada sadar bahwa sinergi jauh lebih penting ketimbang kompetisi. mental positifnya dapet, tapi minim konflik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama nih, belakangan juga baru sadar dan ngeh kalo kolaborasi jauh lebih beneficial daripada berkompetisi. Makanya banyak brand atau perusahaan besar lebih memilih kolaborasi dibandingkan berkompetisi, sederhananya daripada berlomba dan dapat membunuh pasar, lebih baik berkolaborasi membangun pasar yang lebih besar dan lebih baik 👍

      Hapus
  6. Dalam hidup pasti ada konflik dengan perseorangan maupun kelompok. Memang hal ini terkadang sulit dihindari, baiknya dihadapi dengan kepala dingin. Orang2 yang memiliki konflik ga selalu suka egois ya maunya menang sendiri, malah ada yang menjadi korban :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener tuh Kak Nurul, kadang ada yang lebih memilih diam dan menghindari konflik. Di lingkungan yang manajemen konfliknya buruk, kerapkali malah si Korban yang menjadi pihak yang paling dirugikan. Sungguh miris 😖

      Hapus
  7. Ulasannya menarik, Mas. Mencerahkan bagi saya. Thanks:)
    Selama WFH saya kerap mendengar (bukan nguping ya) suami bekerja. Dalam tim kerjanya konflik memang mau enggak mau pasti ada. Apalagi sudah mengarah ke sebuah keputusan. Ada pro dan kontra
    Nah, di artikel ini diulas soal followership , dari sisi anggota tim. Lalu bagaimana dengan pemimpinnya. Tipenya juga banyak yang menciptakan konflik, memperparah atau malah enggak mau menyudahi...Bisa nih jadi satu bahasan lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh, bener juga nih Mbak. Keknya asik nih kalo bahas soal followership dalam pandangan seorang pemimpin/leader. Noted, perlu baca-baca lagi untuk menguatkan referensi dan sumber rujukan 🙏 segera bakal coba bahas lebih lanjut soal hal tersebut

      Hapus
  8. Konflik-konflik kayak gitu rentan banget terjadi di dunia kerja. Apalagi kalau iklimnya kompetisi, waduh bisa jadi ada crash sesama teman. Nah, menyoal yesman itu lho kadang bahaya banget dimanfaatin orang karena selalu bilang iya tanpa bisa menolak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tipikal orang yang gabisa bilang Tidak, kadang sering disalah gunakan dan sering dimanfaatkan karena sifatnya yang selalu bilang Iya dan tidak pernah menolak.

      Dalam kasus tersebut, manajemen konflik yang tepat sangat perlu ditetapkan, terlebih seorang tipikal Yesman ini kebanyakan memilih untuk mengikuti alur dengan jawaban Iya saja.

      Hapus
  9. Konflik yang bikin stres dan depresi perlu tenaga ahli, kalau udah ada yang kayak gini perlu dibantu ya. Enggak enak banget kena kritik depan orang banyak, pernah deh mengalami dan emang luka...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah banget dapet pengalaman ini, untuk beberapa saat pernah terjun ke lingkungan masyarakat yang blak-blak an dan main tunjuk saat terjadi sebuah konflik. Positifnya, sebuah konflik dapat selesai lebih cepat karena diutarakan dengan tegas dan langsung, namun kadang malah menjadi lebih panjang karena penerimaan setiap orang berbeda-beda terhadap sebuah kritik

      Hapus
  10. Kayaknya aku tipe star follower deh. Kalau ada keputusan nggak beres bisa ngelakuin ala sendiri. Yang penting on the track 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih milih untuk berimprovisasi 🙌 keren

      Hapus
  11. Nah, aku jadi makin paham serba/i manajemen konflik
    tipe2 pekerja juga dibahas dgn detail di sini.
    artikel yg super bergizi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Isinya daging semua nih 🤣

      Seneng dengernya kalau tulisan ini bermanfaat buat semuanya 🙏 terima kasih telah berkunjung ☺🙏

      Hapus
  12. Betul sekali, tipe, sifat dan karakter orang berbeda-beda satu dengan yang lain. Maka cara menghadapinya juga beda pendekatannya, apalagi saat terlibat konflik. Harus diselesaikan dengan saling memperhatikan karakter masing-masing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, kadang perlu ada penerapan beberapa metode dan manajemen konflik dalam sebuah masalah karena terdapat perbedaan sifat/karakter yang ekstrim dalam konflik yang sedang terjadi

      Hapus
  13. Tipe perilaku saya memang lebih cenderung ke avoiding dimana seringnya menghindari sebuah konflik agar tidak terlibat di dalamnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pribadi juga terkadang memilih untuk avoid jika Saya menilai bahwa konflik tersebut dapat berimbas besar dan menjadi lebih rumit/besar jika Saya memilih metode lain. Namun kadang juga beberapa metode lain Saya terapkan tergantung dengan kondisi dan situasi yang berlangsung

      Hapus
  14. Sejujurnya, saya lebih senang bermain aman dan menghindari konflik
    Tapi ketika harus berhadapan dengan situasi seperti itu, mau tak mau, siap tak siap ya harus dihadapi. Pertama lapangkan hati untuk menerima masukan, lalu yakinkan diri untuk memberi masukan juga.
    Terimakasih tulisannya, menjadi pengingat yang baik untuk saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh, seneng banget tulisan ku bermanfaat untuk sesama 🙏

      Terima kasih banyak telah berkunjung ☺🙏

      Hapus
  15. hmmm, ada manajemen konflik jg ya ternyata...
    tulisannya perlu dipahami betul2 nih biar gak bikin konflik tambah parah..
    jujur aja sih, saya orgnya paling gak suka yg namanya konflik apalagi sampe berkepanjangan. Jadi begitu saya merasakan ada yg ganjil biasanya saya yg langsung minta maaf lebih dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama nih Kak, gasuka banget sebuah konflik berlarut dan tak kunjung selesai. Kadang ingin bersikap egois dan memaksa kehendak pribadi, namun menyadari hal tersebut tidak menghasilkan apa-apa selain masalah yang makin larut, Saya pun mulai membiasakan diri menggunakan metode yang tepat untuk berbagai konflik maupun perbedaan yang terjadi baik dalam tim maupun kehidupan sehari-hari

      Hapus
  16. Beberapa kali mendapatkan pemimpin komunitas yang mencak2 karena katanya anggotanya pada gak aktif padahal kan butuh pengetahuan tentang fellowership di atas ya.

    BalasHapus

Anda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.

Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)