Wednesday, May 24, 2017

Bangsa yang mudah dipecah-belah

  No comments




Kalau dipikir-pikir, bangsa kita sudah lama merdeka, 71 bahkan hampir 72 tahun kita hidup merdeka, hidup dibawah kedaulatan kita sendiri. Tapi apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini? Bukannya kita sebenarnya (atau seharusnya) lebih baik daripada pendahulu kita?

Mari kita berpikir bersama, apa yang kita lakukan sekarang adalah hasil dari pendahulu kita, hasil perjuangan keras sampai titik darah penghabisan. Tapi kenapa ummat sekarang ini dapat dengan mudah dipecah belah dengan isu yang sepele.

Benar, memang lebih sulit mempertahankan daripada meraih. Lebih sulit mempertahankan kesatuan dan kebinekaan yang dahulu kala menjadi senjata kita untuk merdeka. Maka relevanlah ucapan proklamator kita, “aku beruntung karena hidup melawan penjajah, tapi generasiku akan melawan musuh yang lebih tangguh yakni bangsa mereka sendiri”. Sungguh ironi dimana sekarang kita dapat melihat orang-oprang dengan mudah diadu domba.

Seorang filsuf Jerman pernah berucap “jika egnkau ingin mengadu domba suatu golongan maka gunakanlah agama” sungguh realita yang terjadi memang menunjukkan hal tersebut. Sejak beberpa bulan yang lalu negeri kita larut dalam kekacauan soal agama. Masalah penistaan yang walupun kini sudah jatuh vonis masih menuai konflik. Lalu apa yang terjadi?

Islam yang kita anaut sekarang adalah islam yang sama dengan para pendahulu, begitu juga agama yang lain. Apa yang kita anut sekarang tidaklah jauh berbeda dengan yang dianut pendahulu kita, hanya ada sedikit penyesuaian melalui beberapa musyawarah yang penuh perhitungan. Dan penulis pun yakin, setiap agama, setiap keyakinan tidak menganjurkan para jamaahnya menuai kekacauan. Seluruh agama dan keyakinan mengajarkan betapa indahnya kedamaian dan toleransi. Tapi kenapa kita masih mudah dipecah-belah? Baiklah berikut beberapa hal yang penulis rasa menjadi latar belakang tersebut.

Pertama adalah benyaknya masyarakat yang sekedar ikut-ikut tanpa memahami konteks masalah secara mendalam sehingga tidak tahu duduk perkara secara jelas. Giliran dimintai pertanggung jawaban mereka sembunyi tangan. Hal ini berkaitan dengan budaya masyarakat yang kurang kritis, cenderung menerima dan tidak mentelaah lebih dalam.

Kedua adalah berita simpang siur yang dengan mudah kita temukan, semakin terhubungnya manusia membuat arus informasi semakin mudah. Orang dengan bebas menyampaikan suaranya, tapi sayang kebebasan ini digunakan oleh segelintir orang untuk menyebar kebencian. Sebut saja hate speech, HOAX, serta social bullying. Ketiga hal tersebut dapat dengan mudah ditemui di media sosial. Maka yang harus kita lakukan adalah membiasakan diri menjadi kritis, tidak mudah bereaksi terhadap sentimen-sentimen yang bersifat mudah memicu pertikaian. Selain itu sebagai pengguna media sosial kita juga harus bijak menggunakan sosial media kita demi kebaikan. Budayakanlah membaca sebelum menshare, dan sisihkanlah waktu untuk bersosialisasi didunia nyata. Selain untuk menjaga silaturahmi juga sebagai sarana penyebar kebaikan sekaligus agar kita tidak gugup saat berhadapan dengan orang lain.

Jadi para pembaca yang budiman, semoga ulasan ini sedikit banyak bermanfaat dan dapat berbuah baik kedepannya. Mari mulailah dari diri kita para pembaca sekalian, karena saya yakin dengan membaca tulisan ini kalian telah berusaha menjadi kritis dengan menimang isi tulisan ini. Semoga bermanfaat dan selamat beraktivitas. Netizen

TIPS Menuli ala Habiburrahman El-Zirazhi

  No comments



Hari minggu (21/05) kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman El-Zirazhi berkunjung ke pondok pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo sebagai pengisi acara bedah buku “Api Tauhid”. Dan penulis sempat bersua dan juga berfoto bersama kang Abik (foto di akhir postingan). Nah dalam tulisan ini penulis akan membagikan beberapa tips dan saran kang Abik bagi patra penulis.

Kang Abik memulai acara dengan perkenalan lalu membahas akan pentingnya sebuah ide. Beliau menuturkan bahwa sebuah novel bestseller berawal dari sebuah letupan ide yang teramat kecil. Oleh karena itu jangan remehkan ide sekecil apapun. Nah ini merupakan kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis pemula. Saat penulis mendapat ide mereka lalngsung menuliskannya kedalam sebuah naskah, oleh karena itu sering kita temui penulis yang kemudian bingung ditengah karangannya. Penulis jadi stuck, dan tak ada ide sebagai lanjutan cerita. Jadi himbauan kang Abik adalah, supaya kita mendokumentasikan setiap ide yang terlintas.

Nah setelah didokumentasikan lalu apa? Ide yang sudah didokumentasikan lalu dimatangakan dengan cara bertanya dan dijawab, bisa kepada diri sendiri, kepada orang lain, ataupun melalui forum. Dengan bertanya ide kita akang matang dan dengan sendirinya akan tercipta kerangngka cerita yang menarik.

Beranjak kepada plot, agar menciptakan sebuah cerita menarik buat cerita dari sudut yang tidak biasa. Tapi ingat cerita kita harus logis, walupun kita membuat cerita fiktif setidaknya harus ada alasan yang membuat cerita kita menjadi logis. Sebagus apapun cerita kita jika kita bilang menara Eifel ada di Jakarta pembaca akan menjadi bingung dan enggan membaca tulisan kita.

Nah, maksud dari sudut yang tidak biasa itu adalah, anggap saja ada seorang mahasiswa Indonesia mendapat beasiswa studi ke Cairo lalu jatuh cinta kepada mahasiswi Indonesia yang juga dapat beasiswa ke Cairo. Hal itu sudah lumrah dan sering terjadi. Tapi jika kita membuat cerita tentang mahasiswa Indonesia yang kemudian menikahi putri kerajaan Bahrain, nah disitulah ada sudut pandang yang berbeda. And that’s the story. Kang Abik berpesan, buatlah sesuatu yang waw, tapi harus tetap logis dan dapat dicerna akal. Anggapannya batu, kenapa mereka tidak berharga? Karena mereka banyak, sedangkan kenapa berlian mahal karena mereka sedikit.

Lalu yang terakhir, sebagai penulis kita harus peka. Kita harus tanggap akan keadaan sekitar. Kebanyakan novel bestseller sukses karena ceritanya mengena dan benar-benar mencerminkan kehidupan nyata. Oleh karena itu sudut pandang yang berbeda dan kerangka yang logis jika diolah dan dimatangkan akan menjadi sebuah cerita yang seru dan terancam bestseller Hehehehhe :D

Lalu, diakhir acara ada asalah satu santriwati yang mengajukan pertanyaan seperti ini “dalam menulis perlu ilmu apa?” dengan lugas kang Abik pun menuturkan. Dalam menulis tak perlu ilmu. Karena menulis adalah keterampilan, dan keterampilan butuh latihan. Butuh jam terbang. Semakin sering ita menulis, semakin bagus lah tulisan kita. Imbangi juga kegiatan menulis kita dengan membaca. Lalu menulis itu tak butuh ilmu sama sekali? Tidak seluruhnya tanpa ilmu. Kita bisa belajar sambil berproses, kerennya learning by doing. Jadi kita harus terbuka terhadap kritik serta masukan. Jadilah legowo dan menerima kritik selama hal tersebut membangun dan bersifat positif.

Janganlah terlalu mempermasalahkan dialektika penulisan, gaya bahasa. Jika kita hanya berkutat dengan hal tersebut maka tak akan selesai itu tulisan, kita malah hanya berkutat dengan gaya dan kaidah kebahasaan. Menulislah, selesaikan lalu perbaiki. Kira-kira bagian mana yang perlu perbaikan. Bagian mana tyang klise, bagian mana yang jelek dan seterusnya. Intinya harus ada konsistensi, karena konsistensi akan berkata lain. Tomas AlVa Edison penah berkata yang arti nya, apa yang telah saya dapatkan adalah 1% bakat dan 99% keringat. Jadi konsistensi akan menjadi sebuah pembeda.

Dan bagi segenap penulis yang sudah sering menulis dan mencoba mengirimkannya ke media massa tapi masih ditolak, bersabarlah. Penulis sendiri pernah mengalami hal yang sama. Tulisan pertama penulis yang dimuat di media massa adalah percobaan penulis yang kedelapan. Tulisan itupun telah 3 kali penulis koreksi kepada guru bahasa Indonesia di sekolah penulis, tapi saat tulisan tersebut terbit sungguh hati menjadi senang ehhehehehe :D.

Sekian tulisan kali ini, saran masukan terbuka lebar bagi segenap pembaca. Silakan tinggalkan jejak di kolom komenatar atau hubungi penulis secara langsung untuk diskusi lebih jauh. Sekian. Selamat beraktivitas.

Penulis bersama Habiburrahman el-Zirazhi