Monday, December 28, 2015

Friday, December 25, 2015

Thursday, December 24, 2015

Sunday, December 20, 2015

Friday, December 11, 2015

Wednesday, December 9, 2015

Saturday, November 21, 2015

Ternyata Nge- Lay out itu melelahkan!

  No comments
Lay out majalah MISI SMA Nurul Jadid
Saya rasa menjadi seorang lay outer dalam struktur kepengurusan suatu majalah adalah tugas yang paling berat, bagaimana tidak, kita ditekan oleh deadline, hasil akhir, estetika dan masih banyak penilaian lainnya, itupun kalau tidak salah.
Sungguh lelah, ya minta sambungan doanya saja, semoga project lay out saya tepat waktu dan lancar hingga hari penerbitan tiba...

Bingung?

  No comments
Jujur saya sedang bingung,, saya kurang konsisten dalam mendalami bidang edit meng- edit foto,,, jadi ya seperti ini semua hasil editan saya nanggung hasilnya,. entah saya bingung.. saya butuh motivasi.............

Tuesday, November 10, 2015

Tuesday, October 27, 2015

Do’a Kami Untuk Kalian

  No comments
https://m.facebook.com/otock.wijaya?fref=nf&refid=18&__tn__=C


Saya merasa panangan asap di Kalimantan dan Riau nampak sangat miris. Kenapa tidak? Mereka hanya melakukan pemadaman demi pencitraan semata di depan Jokowi, namun 5 jam setelah kunjungan tersebut. Lahan-lahan tersebut telah sepi, dibiarkan begitu saja.
            Saya sungguh sedih melihat nasib saudara kita di Kalimantan dan Riau yang berjuang melawan kebalnya kabut asap hinggap bagaikan tiada siang bagi mereka, siang gelap bagaikan malam.
            Andaikan diri saya mampu terjun kesan, saya akan berusaha sekuat tenaga membantu mereka, bukannya pamer, tapi saya sadar suatu saat saya akan membutuhkan pertolongan seperti mereka. Ada kalanya manusia diatas dan ada kalanya pula manusia diobawah. Saya pun sadar saya tidak akan selamanya berada diatas. Jadi mumpung kita masih vberada diatas marilah kita bantu saudara kita. Jangan hanya dengan kicauan di sosial media. Tapi berilh bukti konkret.
            Gambar ini adalah karya salah satu teman saya Warna Visual, semoga dapat memicu sdemangat kalian untuk membantu saudara kita yang membutuhkan, tidak hanya sebatas mereka yang tertutupi asap. Sempatkanlah berbagi dengan mereka yang mengemis di jalan-jalan protokol. Bantulah mereka, karena hidup itu dinamis, hidup tak selalu berjalan sepeti kehendak kita. Jadi berbagilah.

Masjid, Kapankah kalian kesana?

  No comments
https://m.facebook.com/mochamad.ariyanto?fref=nf&refid=18&__tn__=C


sekarang ini sudah makin jarang muslim  datang menyambangi masjid. Masjid kini mulai sepi, hanya tinggal arsitektur megahnya yang mengisi kekosongan masjid. Orang berlomba-lomba membangun masjid dengan dana dan arsitektur yang waw.! Tapi sekarang masjid hanya menjadi sebuah ikon, sungguh ironi.
            Mungkin kita hanya setahun dua kali menginjakkan kaki kita di masjid. Hanya dikala takbir bersahutagan pakaian terbaru dan  paling necis untuk datang ke masjid. Itupun hanya 10 menit. Paling lama 30 menit. Begitu cepat.
            Gambar diatas adalah karya teman saya Mochammad Ariyanto. Saya hanya men-share karya-nya semoga saja bermanfaat. Dan shof masjid makin kebelakan bukan makin kedepan karena kekurangan jama’ah. Harapan saya uraian singkat ini bermanfaat, seperti yang sudah terpampang ini hanya coretan moga bermanfaat. Amiiin.

Tuesday, October 20, 2015

WPAP oh WPAP

  No comments
Tak kurasa sudah seminggu saya mempelototi layar komputer hanya untuk membuat sebuah WPAP. ternyata ini tak semudah yang saya bayangkan. Harus teliti, ini lah, itu lah,, waduh benar benar bingung, untuk sementara saya titip Work in Progress dulu.. semoga berkenan.

Tuesday, October 13, 2015

Cerita Pendek 2

  No comments

http://4.bp.blogspot.com/-wkKB84AcScI/UNlyXUDRo5I/AAAAAAAAAyY/KdMtuictHVQ/s1600/77+pohon.jpg


                                                                      

                                                                Pohon
                Entahlah, apa gerangan hingga aku bisa sampai di tepi taman ini. Tempat ku pertama kali melihatmu, melihat dirimu berjalan penuh kebahagian. Sungguh indah kala itu.
                Kupaksakan kakiku melangkah lebih jauh, menyusuri jalan setapak di taman itu, taman yang penuh dengan kenangan kita. Kenangan kita berdua yang tersimpan indah dalam memori alam, tahukah kamu bahwa alam memiliki daya ingat yang luar biasa tak seperti manusia yang masih muda sudah pikun. Kenangan kita terekan sempurna oleh alam.
                Ku terus melangkah semakin masuk ke bagian dalam taman, lumayan lah taman ini cukup luas. Akhirnya aku sampai ke tempat yang menjadi tujuanku kembali ke kota ini setelah sepuluh tahun pergi meninggalkan kota ini.
                Aku benar benar tak bisamenahan rasa ini, menahan perasaan yang mulai membuncah dalam hati, mengingat semua kenangan sepuluh tahun yang lalu. Kenangan yang mungkin terlalu indah untuk hilang hanya karena masalah sepele. Aku pun mulai mengingat kenangan sepuluh tahun yang lalu.
                ***
                Orang-orang bilang kotaku adalah kota yang indah dan terawat, itu memang benar karena seluruh rakyat di kotaku benar benar disiplin soal kebersihan. Tapi tidak hanya itu, kotaku terkenal dengan taman kotanyayang luas dan sebuah pohon linden besar di tengah taman itu, pohon dengan daun berbentuk hati sebagai representasi cinta.
                Aku sering menghabiskan sore hariku di taman kota, menikmati suasana senja yang terlihat cukup indah seakan akan ini adalah senja terakhir yang dapat aku lihat. Sungguh indh. Setiap hariku kuhabiskan hanya bersantai di taman kota, maklum, waktu itu aku masih remaja yang baru luls sekoolah dan tak tahu apa yang harus kulakukn. Hingga suatu hari ku bertemu dirimu, gadis yang berjalan dengan menawan diantara daun daun pohon linden yang berguguran. “oh bidadariku’ ucapku dalam hati.
                Aku terkejut karena dirimu ternyata juga sering menghabiskan sore harimu menikmati senja di taman kota. Akhirnya dengan sedikit keberanian yang terkumpul aku memberanikan diriku untuk berkenalan dengan mu, ternyata harapanku tidak bertepuk sebelah tangan. Engkau menerimaku sebagai teman barumu, kita pun ngobrol ngalor ngidul sore itu hingga sang senja hilang di balik tumpukan gunung di ufuk barat sana.
                Tak terasa ada rasa yang tumbuh dalam hatiku, rasa yang kian lama kian tak mampu aku pendam. Akhirnya setelah aku meyakinkan diriku akhirnya aku pun menyatakan perasaanku padamu, oh sungguh kenangan yang indah, disore yang indah itu. Dengan cahaya senja yang menawan dan sebuh mawar di tangan, ku menyatakan perasaanku, mengungkapkan semua yang aku rasakan.
                Setiap hariku pun berjalan makin indah, kau selalu ada  di sampingku. Telah banyak tempat yang kita kunjungi dan di setiap akhir kunjungan kita kita meninggalkan tulisan berupa inisial nama kita ditempat itu.
                ***
                Tubuhku mulai kaku, aku tak bisa terus melangkah, kenangan sepuluh tahun silam masih terngiang dalam kepalaku. Tapi aku harus terus melangkah, aku harus berdamai dengan perasanku. Kukumpulkan seluruh tenagaku, mencoba mengesampingkan kenangan yang terus terngiang. Aku pun mendekat ke pohon linden itu, aku pasti bisa.
                ***
                Hari hariku makin berwarna dengan kehadiranmu. Seakan dunia hanya milik kita berdua. Canda tawamu yang riuh, pembawaanmu yang anggun, senyummu yang meneduhkan hati. Ah tiap hari, ku makin mencintaimu. Orang bijak memang benar, Love simplify everything. Seakan semua hal menjadi mudah jiakalau kau ada disampingku.
                Kurasa kala itu kita adalah pasangan yang paling serasi di kota kita. Pasangan yang selalu menikmati indahnya senja di taman kota. Tahukah kamu bahwa andaikan aku bisa menyimpan senja sore itu, ingin sekali ku menghadiahkan keindahan senja padamu.
                Kutahu kau senang bercerita, maka aku pun menceritakan banyak cerita tentang cinta padamu. Kau sebut aku bagaikan shakespear yang mampu merangkai kata kata indah layaknya cerita Romeo dan Juliet. Aku benar benar tersanjung dengan pujianmu, aku pun menceritakn makin banyak cerita padamu, kadang engkau bergantian menceritakan cerita kepadaku.
                Seakan bercerita denganmu tidak pernah ada habisnya. Selalu saja ada cerita untuk diceritakan, entahlah itu kisah nyata atau hanya karangan kita belaka. Tapi cerita cerita cerita itu sungguh indah.
                ***
                Aku sungguh terkejut, dipagi indah itu ibuku datang menjemputku di taman kota. Aku memang jarang tinggal di rumahku. Aku rasa taman kota adalah rumah keduaku.
                Aku sungguh terkejut karena orang tuaku memintaku untuk melanjutkan studiku ke luar negeri. Sungguh aku benar benar tak mampu membayangkan hidup tanpamu disisiku. Sungguh pilihan yang berat antara menuruti perintah orang tuaku atau memilih tinggal. Akhirnya aku pun menerima perintah orang tuaku untuk melanjutkan studiku ke luar negeri
                Sore harinya aku menguatkan perasaanku untuk memberitahumu pilihanku. Tapi sebelum menjelaskannya aku menanyakan seuatu kepadamu, Dapatkah engkau menyimpan perasaanmu jikalau suatu saat aku pergi, dengan mantap engkau mengatakan akan menjga seluruh perasaanmu karena aku adalah cinta pertama dan terakhirmu. Aku pun lalu menceritakan rencana kepergianku, sore itu pun menjadi sore yang pilu.
                Akupun pergi meninggalkan kotaku dan  dirimu.
                ***
                Seketika aku terduduk dibawah naungan pohon linden itu. Segala pertahan hatiku jebol seketika oleh semua kenangan kita. Seluruh pertahanan yang aku persiapkan untuk berdamai dengan perasaanku hancur sudah, aku sedih tapi tak mengucurkan air mata. Mungkin melepaskan adalah satu-satunya cara untuk berdamai dengan perasaan ini.
                ***
                Dua tahun tersa cukup lama bagiku. Akhirnya seluruh studiku telah usai. Aku pun pulang kembali ke kotaku. Aku sudah mempersiapkan semuanya, kita akan bersama selamanya.
                Sekembalinya aku ke kota, aku langsung mencarimu. Kudatangi rumahmu, tapi engkau tiada, ku mencarimu ke taman kota engkau tiada. Entahlah engkau berubah semenjak aku kembali. Aku jarang bertemu denganmu, seakan engkau berusaha menghindar dariku.
                Akhirnya pada sore itu, aku tau mengapa engkau berubah. Engkau lebih memilih anak walikota dariapada diriku. Engkau lupa akan semua kenangan kita. Mataku benar benar tak bisa dibohongi, sore itu dibawah pohon linden, engkau bercumbu dengan mesranya. Sungguh hati ini seakan tersayat, hancur berkeping-keping. Kuhampiri dirimu dan kulupakan segala amarah dalam hati. Engkau meminta maaf dengan sangat. Tapi sayang diriku telah mencapai batas, aku pun pergi.
                Aku sungguh tak percaya aku kembali untuk dikhianati, pohon linden itu menjadi saksi kisah kita. Tempat kita bertemu dan tempat engkau menghancurkan segalanya.
                ***
                Sungguh kenangan yang memilukan, sungguh aku tak punya  kekuatan untuk bangkit. Kejadian sepuluh tahun yang lalu, penghianatanmu. Ahhh hatiku benar benar kecut, ternyata aku masih belum sanggup untuk berdamai dengan perasaanku. Tapi aku tahu kehidupan harus tetap berjalan, dan pohon ini akan menjadi saksinya.

Cerita Pendek

  No comments


http://philipcoppens.com/vendetta_07.jpg

                                                                              Bedebah
                Mungkin kalian menganggap aku hanya pembual, hanya oirang dengan omongan besar, atau apalah istilah untuk menggambarkan itu. Ini adalah ceritaku, ku hanya ingin menceritakannya agar kalian tak akan bernasib sama seperti diriku, menjadi seorang bedebah yang tak pantas dikasihani.
                ***
                Sebelum kalian mendenghar ceritaku, lebih baik kalian tau siapa aku. Agar nantinya kalian tak akan menyesal telah mendengar rangkaian cerita tentang hidupku ini.
                Aku hanyalah seorang siswa biasa di sekolahku, nilaiku standar, aku tidak terlalu dikenal. Mungkin itu adalah konsekuensi dari kebiasaanku nongkrong di belakang sekolah.  Ya itulah kebiasanku menghindar dari keramaian.
                Seluruh kebiasaanku berjalan seperti biasa, sesai pelajaran aku pasti berada di belakang sekolah, entah apa yang kulakukan, mungkin hanya sekedar duduk memandangi pemandangan gunung yang tepat berada di belakang sekolahku.
                Suatu hari aku terkejut, bagaimana tidak. Ada seorang gadis yang duduk di tempat biasanya aku menghabiskan waktuku sepulang sekolah. Dia duduk memandang ke arah tumpukan pegunungan yang tertumpuk rapi, tempat dimana sang surya bersembunyi di kala senja.
                Kucoba untuk mendekati gadis itu, nampaknya dia tidak menyadari kehadiranku. Aku pun langsung saja duduk disampingnya. Diam. Memandangi gunung. Bebrapa menit kemudian aku pun mengambil anisiatif untuk memulai percakapan, mencairkan suasana yang terasa beku.
                Tak kusangka ternyata gadis itu memiliki wawasan yang luas. Dibalik tubuhnya yang mungil dia memiliki sesuatu yang berbeda. Entahlah, tapi selalu ada saja topik yang dia bicarakan sehingga tak terasa senja sudah menyingsing di ufuk barat. Aku pun berpisah dengan gadis mungil itu.
                ***
                Hari demi hari ku semakin akrab dengan gadis itu. Dia yang seolah mencari ketenangan dengan duduk menghabiskan waktu dibelakang sekolah sama sepertiku. Gadis itu sering bercerita tentang hubungannya dengan pacarnya. Ya aku hanya mampu mendengarkan dan mengiyakan semua perkataannya. Aku memang cenderung tidak tertarik membicarakan masalah percintaan. Maklum lah, diriku memiliki memori buruk soal masalah cinta mencintai.
                Hari demi hari, aku makin tau tentang gadis itu, cuikuplah kalian tau ciri gadis itu tanpa tau siapa nama gadis itu. Ya karena ini hanya cerita fiktih dengan tokoh yang tidak fiktif.
                Gadis itu seakan sangat percaya kepadaku. Dia mencritakan semuanya tanpa tedeng aling-aling. Akupun merasa tidak enak sendiri kepada gadis itu. Ida memberitahuku segalanya. Dia bilang “Aku percaya kepadamu kok” itu pun membuat ku merasa terbebani denngan semua cerita yang dia ceritakan. Tapi apa daya, akupun menjaga semua cerita itu.
                Entah kenapa, pada hari itu. Gadis mungil itu tidak berada di tempat biasanya dia menghabiskan waktunya bersamaku. Entahlah, kemana gadis mungil itu, batinku bertanya tanya. Akupun menghabiskan sore itu sendiri, duduk menyendiri memandangi pegunungan yang tertumpuk rapi di barat sana.
                Kumelirik waktu di jam tanganku, sudah sore pikirku melihat jam tanganku menunjukkan angka lima. Aku pun bersiap-siap pulang, tapi terkejutlah aku. Gadis itu datang, langsung menubrukku dengan wajah penuh air mata. Dia menangis tersedu-sedu.
                Kuurungkan niatku untuk pulang, aku pun menghabiskan waktu senja sore itu dibelkang sekolah, menenangkan gadis mungil itu. Akhirnya gadis itu pun berterus terang. Dia menceritakan semuanya. Kenapa dia bersedih. Mendengar semua ceritanya, akupun bertekad untuk menjaganya membuatnya selalu tersenyum. Akupun mengantarkannya pulang.
                ***
                Setelah kejadian sore itu, aku dan gadis itu pun menjadi semakin dekat. Aku sering memberinya kejutan dia pun begitu. Tak kurasa adfa rasa suka yang tumbuh dalam hatiku. Tapi entah kenapa aku tak mempunyai keberanian untuk menyatakannya. Akupun membiarkan semuanya berjalan sebagai mana mestinya. Aku sudah terlalu lelah menentang kehendak langit, itu pula yang menjadi alasanku senang menghabiskan waktuku dibelakang sekolah. Karena kurasa disana alam dapat mendengar semua keluhanku.
                ***
                Entah kenapa, apakah semua kepercayaan yang gadis itu berikan padaku atau hal lain yang membuatku terasa terbebani. Entahlah aku juga tidak mengerti. Aku bingung.
                Malam itu, akupun menjelaskan semua hal pada gadis itu. Menjelaskan semua kebusukan diriku. Memang diriku terlalu pandai bersandiwara. Mungkin. Tapi malam itu, gadis itu pun tau siapa sebenarnya aku. Pria yang selalu duduk memandangi gunung dan langit biru di ufuk barat di belakang sekolah. Malam itu aku mengingkari semua yang telah aku  katakan. Kubongkar semua kemunafikan diriku.
                keberterus terang, akulah sebenarnya yang meminta pacar gadis itu meninggalkan gadis itu. Aku pun menceritakan semua sandiwara yang aku jalankan. Tak pelak, satu tamparan keras pun mendarat dengan telak di pipiku. Aku memang pantas mendapatkannya. Bedebah sepertiku memang sepatutnya mendapatkan balasan atas semua kelakuanku. Maafkanlah aku yang telah membuat gadis itu menangis tersedu-sedu. Aku sudah tidak bisa lagi menahan semua kemunfikan ini.kuarap akulah bedebah terakhir yang dia pernah kenal. Biarlah langit malam penuh bintang itu menjadi saksi perpisahan gadis mungil itu dengan seorang bedebah sepertiku. Hidup harus tetap berjalan.