Berapa kali dalam seminggu ini kamu merasa capek… bukan karena pekerjaan, tapi karena pikiranmu sendiri?
Capek karena merasa belum sejauh yang “seharusnya”. Capek karena melihat orang lain tampak lebih cepat, lebih sukses, lebih bahagia. Padahal kalau ditarik mundur, hidupmu sebenarnya baik-baik saja. Kamu masih bisa tertawa, masih punya hal-hal kecil yang patut disyukuri. Tapi entah kenapa, rasanya tetap kurang.
Di situlah sering kali masalahnya bermula: harapan dan ekspektasi yang kita pasang terlalu tinggi, bahkan kadang tidak masuk akal.
Disukai atau tidak, kebahagiaan kita memang sangat dipengaruhi oleh harapan. Semakin tinggi dan semakin jauh dari realitas, semakin besar pula tekanan mental yang harus kita tanggung demi merasa “cukup” atau “berhasil”.
Dan sayangnya, tekanan mental itu jarang datang sendirian.
Saat Harapan Berubah Jadi Beban Mental
Tekanan mental berlebih pelan-pelan menggerogoti kondisi emosional kita. Mood jadi naik-turun tanpa sebab yang jelas. Hal kecil terasa mengganggu. Kita jadi lebih mudah kesal, gampang membandingkan diri, dan tanpa sadar… lupa menikmati hidup yang sedang berjalan.
Ada momen di mana kita masih diberi kesehatan, masih bisa bekerja, masih bisa tertawa. Tapi semua itu terasa hambar karena fokus kita tertuju pada satu hal: apa yang belum tercapai.
Kalau mau jujur, ini semacam “kufur nikmat” versi modern. Bukan karena kita tidak tahu harus bersyukur, tapi karena harapan yang terlalu tinggi membuat kepekaan kita tumpul. Yang ada di depan mata jadi tak terlihat nilainya.
Padahal secara biologis, otak kita bekerja dengan cara yang cukup sederhana. Salah satu pemicu kebahagiaan terbesar adalah ketika kita berhasil mencapai harapan. Saat itu, otak akan mengirimkan sinyal bahagia yang kemudian mempengaruhi emosi, energi, bahkan cara kita memandang hari.
Masalahnya, jika harapan kita terlalu tinggi dan tidak realistis, proses menuju ke sana akan terasa sangat berat. Dan ketika harapan itu tak kunjung tercapai, yang datang bukan rasa bangga, melainkan kelelahan mental dan emosional.
Ironis, ya? Kita ingin bahagia, tapi justru terjebak dalam ekspektasi yang menjauhkan kita dari rasa itu sendiri.
Mengelola Harapan: Mudah di Teori, Sulit di Praktik
Kita sebenarnya sudah paham hubungan erat antara harapan dan kebahagiaan. Kita tahu pentingnya bersyukur, menikmati proses, dan tidak membandingkan diri dengan orang lain. Tapi mengelola harapan tetap terasa seperti dua hal yang bertolak belakang: mudah diucapkan, sulit dijalankan.
Karena mengelola harapan bukan soal mengurangi mimpi. Bukan tentang pasrah atau berhenti berusaha. Ini tentang menyetel ulang ekspektasi agar selaras dengan kapasitas diri dan fase hidup yang sedang kita jalani.
Dan kabar baiknya, kita semua berhak bahagia. Bukan nanti setelah sukses besar. Bukan setelah mencapai versi ideal menurut standar orang lain. Tapi sekarang, di tengah proses.
Berikut salah satu langkah sederhana—tapi sangat berdampak—untuk mengelola harapan agar kebahagiaan tetap dalam jangkauan.
Mari Merayakan Apa Pun, Sekecil-Kecilnya
Mengelola harapan dimulai dari pembiasaan. Dan pembiasaan selalu dimulai dari kemauan. Masalahnya, kemauan sering kalah oleh rasa malas, rasa “ah, itu belum apa-apa”.
Di titik ini, kita perlu sedikit memaksa diri sendiri. Memaksa untuk berhenti meremehkan pencapaian kecil. Memaksa untuk merayakan progres, sekecil apa pun itu.
Karena sejatinya, pencapaian kecil tetaplah pencapaian.
Namun, kemampuan kita merayakan pencapaian sangat dipengaruhi oleh ekspektasi. Semakin sederhana ekspektasi kita, semakin mudah pula kita merasa cukup dan bahagia.
Coba kita renungkan lewat cerita sederhana.
Bayangkan kamu mengikuti sebuah kompetisi. Semakin tinggi ekspektasimu untuk menjadi juara satu, semakin besar pula tekanan yang kamu rasakan. Setiap kesalahan kecil terasa seperti kegagalan besar.
Sebaliknya, jika kamu tetap berusaha maksimal dengan ekspektasi yang lebih membumi, hasil apa pun akan terasa lebih ringan diterima. Bahkan ketika “hanya” mendapat juara tiga atau juara harapan, rasa bangga dan bahagia tetap hadir. Karena fokusmu bukan semata pada hasil tertinggi, tapi pada usaha dan progres.
Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari.
Tentang Pernikahan, Harapan, dan Kepekaan
Ambil contoh pernikahan.
Pada dasarnya, pernikahan itu sederhana: saling mencintai, saling membantu, dan bertumbuh bersama. Ketika harapan tidak dibebani kepentingan berlebihan, hal-hal kecil justru terasa istimewa.
Secangkir teh hangat di sore hari. Piring nasi yang dimasak dengan niat baik. Obrolan singkat sebelum tidur. Semua itu cukup untuk menghadirkan rasa syukur dan kebahagiaan.
Bandingkan dengan pernikahan yang dipenuhi ekspektasi tinggi dan tuntutan tak berujung. Romantis kecil jadi tak terasa. Bukan karena pasangan kurang peka, tapi karena harapan yang terlalu tinggi membuat hati kita mati rasa.
Dan ini bukan hanya tentang pernikahan. Ini tentang hidup secara keseluruhan.
Kebahagiaan Itu Lebih Dekat dari yang Kita Kira
Menjadi bahagia ternyata tidak serumit yang sering kita bayangkan. Kadang, kebahagiaan hadir dalam bentuk paling sederhana: secangkir kopi di pagi hari, dengan aroma khas yang menemani kita bersiap menghadapi tantangan hidup.
Tidak harus selalu pencapaian besar. Tidak perlu menunggu validasi siapa pun.
Bahagia sering kali hanya sejauh kemampuan kita mengatur harapan agar tidak melampaui kapasitas diri. Ketika harapan selaras dengan realitas, hidup terasa lebih ringan. Kita tetap bertumbuh, tetap bermimpi, tapi tanpa harus menghukum diri sendiri di setiap langkah.
Mungkin hari ini kamu belum sampai ke tujuan besar itu. Tidak apa-apa. Selama kamu masih melangkah, masih belajar, dan masih mau menghargai proses, kamu sudah layak merasa bahagia.
Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukan tentang seberapa tinggi kita melompat. Tapi seberapa tulus kita menikmati tanah tempat kaki kita berpijak hari ini. (*)
Sumber rujukan:
- Housel, Morgan. Same as Ever: A Guide to What Never Changes. New York: Portfolio/Penguin, 2023.
- Kringelbach ML, Berridge KC. The Neuroscience of Happiness and Pleasure. Soc Res (New York). 2010 Summer;77(2):659-678. PMID: 22068342; PMCID: PMC3008658.
- https://tecscience.tec.mx/en/health/brain-and-happiness/
- https://www.theguardian.com/commentisfree/2016/mar/21/secret-happy-marriage-low-expectations
22 Komentar
Tulisannya reflektif banget. Bagian soal menurunkan ekspektasi terasa relevan, karena sering kali sumber lelah itu datang dari tuntutan diri sendiri
BalasHapusTuntutan berlebihan karena ekspektasi yang terlalu tinggi (kadang di luar kemampuan kita) sering menjadi penyebab kita gagal merasa bahagia.
HapusSehat selalu dan terima kasih banyak sudah berkenan membaca, kak
Adakalanya kita tidak sadar memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi untuk digapai. Bisa jadi hal itu adalah impian sejak lama yang idealnya bisa diraih. Jika tidak, maka akan menyalahkan diri sendiri atas kegagalannya. Terima kasih Rahman sudah membagikan ilmu dan wawasannya :) Oh ya, sekecil apapun pencapaian kita, tentu harus dirayakan. Setuju :)
BalasHapusApapun itu, harus kita rayakan. Meskipun sederhana.
HapusDan yang paling penting membahagiakan diri sendiri yang paling penting sih menurutku. Sementara harapam belum tentu bakalan terjadi...
BalasHapusKebahagiaan itu dimulai dari diri sendiri.
HapusBahagi diri sendiri dulu sebelum mebahagiakan orang lain gitu sih yang sering kudengar hehehe semoga senantiasa berbahagia ya kak
BalasHapusBahagia adalah hak kita semua.
HapusSetuju sekali, seringkali kita justru "kufur nikmat" bukan karena kurang materi, tapi karena terlalu sibuk mengejar bayangan ideal yang kita ciptakan sendiri.
BalasHapusMenurunkan ekspektasi memang bukan berarti menyerah, tapi memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas dan merasa "cukup". Terima kasih sudah mengingatkan untuk lebih menghargai secangkir kopi pagi dan langkah-langkah kecil hari ini. Bahagia itu sederhana, selama kita tidak membuatnya rumit dengan tuntutan yang tak masuk akal.
Karena bahagia adalah milik kita semua.
HapusSangat ngena dan mencubit sekali. Bener banget, kadang ekspektasi yang ketinggian dan tidak masuk akal malah menggerus rasa bahagia yang semestinya ada. Apalagi kalau mulai membandingkan diri sendiri sama oranglain, semakin berat, OVT dan hilang rasa syukur akan hal-hal sederhana.
BalasHapusJadi, mari tetap bersyukur dan rayakan hal-hal kecil yang terjadi dalam keseharian. Semoga bahagia tetap bisa terasa dalam setiap momen kehidupan.
Semoga selalu bahagia dan penuh senyum.
HapusKadang kita mudah kecewa saat harapan tak sesuai dengan realita yang kita inginkan yaa.
BalasHapusMemang ada baiknya mengelola harapan kita, apalagi kalau berharap sama manusia, biasanya ada aja kurangnya.
Trus, setuju, kurang2in minta validasi siapapun, yang penting kita tahu kapasitas dan kemampuan kita. Kita hargai pencapaian kita sendiri, self love, supaya nggak mengharapkan pujian dari orang lain.
Mari sederhanakan ekspektasi kita. Karena bahagia adalah milik kita semua.
HapusKita yang tau batasan diri kita sendiri, jadi ada kalanya kita perlu menurunkan ekspektasi apabila itu diluar kapasitas diri. Namun yang cukup sulit adalah menurunkan ekspektasi orang terdekat terhadap kita, karena mereka hanya melihat dari satu sisi saja.
BalasHapusBegitulah, menjaga ekspektasi tetap dalam batas jangkauan adalah hal termudah sekaligus paling sukar untuk dilakukan.
HapusSaya setuju bahwa seringkali penderitaan bersumber dari ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri maupun orang lain. Menurunkan standar bukan berarti menyerah, tapi lebih ke arah memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas dan bersyukur.
BalasHapusKita boleh berekspektasi, tapi harus masuk akal dan bisa kita capai. Supaya sakitnya nngak begitu sesak di dada.
HapusBanyak yang bilang bahagia itu sederhana tapi kenyataannya nggak sederhana karena kita terbiasa buat bahagia dalam bentuk atau gambaran yang besar.
BalasHapusDan setuju banget, kalau bahagia tuh mensyukuri hal² sepele kayak bisa blogwalking satu hari satu aja udah bagus. Nggak telat datang ke kantor juga bagus. Makan dengan tahu tempe juga bagus. Bukankah kita semua bisa bahagia dengan hal² sepele seperti itu? Apa kita saja yang ego untuk mengakui itu pun bentuk kebahagiaan yang sebagian orang nggak bisa dapet? 🤧❤️
Ngena sekali, mbak.
HapusYup, bahagia itu memang tergantung pada sikap kita sendiri. Bahagia itu kalau kita menikmati hidup apa adanya dengan ikhlas. Berjuangeraih mimpi wajib, tapi ikhlas menerima hasilnya adalah kunci yang lainnya.
BalasHapusBerjuang dan berusaha semaksimal mungkin.
HapusAnda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.
Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.