Pengemis itu (Bukan) Pekerjaan


Apa yang anda pikirkan tentang pengemis? Seorang yang dengan wajah memelas meminta belas kasihan. Betulkah? Mungkin itu sebagian besar bayangan orang terhadap pengemis. Saya pribadi kadang merasa kasihan, kadang pula merasa malas melihat pengemis di pinggir jalan.

Saya kasihan ketika melihat pengemis tersebut telah tua renta dan tidak ada orang yang peduli terhadapnya. Sungguh rasa iba ini muncul, maka saya tidak masalah ketika tangan secara refleks merogoh saku dan mengambil beberapa lembar rupiah lalu saya berikan kepada orang itu. Toh, tangan di atas jauh lebih baik daripada tangan dibawah.

Hal itu berbeda saat saya bertemu dengan pengemis yang bisa dibilang masih sangat mampu untuk bekerja. Masih sangat mampu untuk berjuang menghidupi dirinya. Disaat itulah rasa kesal saya tercipta. Saya  memang masih berstatus mahasiswa, tapi saya merasa sungkan saat meminta uang kepada orang tua. Kecuali untuk dana pendidikan seperti SPP dan keperluan akademik lainnya. Untuk keperluan sehari-hari saya merasa sungkan.

Mengemis itu bukan sebuah pekerjaan. Itu adalah simbol dimana seorang sudah menyerah kepada hidupnya. Menggantungkan harapan kepada belas kasih sesama manusia. Tapi tidakkah kita berpikir hal itu tidaklah cukup. Dunia ini adil, semakin kita berjuang, semakin pula dunia ini memberi kita. Jika kita masih Mampu untuk berjuang alangkah lebih indah jika kita terus berjuang.

Ya, saya sadar betul tulisan ini tidak bakal dibaca oleh para pengemis, tidak bakal dibaca oleh orang-orang yang sedang berjuang menghidupi hidupnya, tapi semoga saja tulisan ini dibaca oleh beberapa orang sehinggasemangat dari tulisan ini bisa disebarkan.

Orang kaya maupun miskin itu bukan soal materi. Meskipun ia kaya tapi mentalnya miskin ia tak akan pernah merasa cukup! Contohnya koruptor, mereka kaya. Mereka berpendidikan, mereka dikenal, tapi mental mereka miskin. Gaji sebagai wakil rakyat atau jabatan yang ia ampu tidak pernah cukup. Akhirnya ia mulai mengkorupsi uang, mencatut dana sana sini lalu ia kumpulkan ke dompet pribadinya.

Berbeda dengan pengemis, mereka ini sebenarnya mentalnya kaya, buktinya tidak ada orang miskin yang berduit, tidak ada pengemis yang sarjana. Mereka sebenarnya orang yang punya potensi mental kaya tapi menyerah kepada kehidupan. Saya pribadi prihatin, iba, sekaligus kasihan dengan mereka. Tapi dunia ini memang kejam, dulu yang kuat menindas yang lemah, sekarang, yang jauh lebih parah lagi.

Terkait masalah pengemis itu, saya pribadi menyerahkan sikap kepada individu masing-masing terkait sikap kita jika bertemu pengemis, mau memberi atau mau mencuekinya itu terserah anda. Hak anda mau berbelas kasihan atau tidak. Apa hak anda bertanya kepada saya? (Hahahaha 😂 silahkan cek YouTube terkait insiden ini 😂😂)

Jadi gini sederhananya, mau kita jadi pengemis, mau jadi pengusaha, mau jadi presiden sekalipun, jika mental kita miskin maka kita akan terus merasa kekurangan. Mulai tumbuhkan mental kaya dalam diri kita, bisa dengan bersikap terbuka, pantang menyerah, dan banyak mendengarkan. Selain bermental miskin, jika kita juga tidak suka mendengarkan maka kita tetap akan menjadi pengemis secara tidak langsung.

Banyak-banyak lah memberi dan berbagi, mulai dari hal kecil seperti senyum atau hal bermanfaat lainnya. Berinteraksi langsung di dunia nyata, jangan hanya berkomentar tanpa bertanggung jawab di dunia Maya.

Kita hidup di jaman digital, maka hiduplah dengan bijaksana di dunia Maya. Di dunia nyata pun hiduplah dengan rukun. Jangan pernah tumbuhkan mental miskin dalam dirimu. Jangan biarkan dirimu menjadi pengemis. Karena pengemis itu bukan pekerjaan.

Salam hangat dari Situbondo

________
Sumber gambar : www.pixabay.com

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Pengemis itu (Bukan) Pekerjaan"

  1. sama...akupun ikhlas jika memberi pengemis yang sudah tua, tapi kalau yang masih muda cuma aku kasih kata maaf saja....

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget, kadang lihat dulu pengemisnya tua apa muda, kalau masih muda kek (maaf) orang yang kagak niat hidup

      Delete

Anda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.

Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.