Sabar (sebuah Cerpen)











“Karena sabar itu tidak ada batasnya, tiap individulah yang menentukan batas kesabarannya.”


**


Guru agama di sekolahku sering bahkan hampir selalu menerangkan tentang keutamaan sabar setelah selesai mengajar satu materi di kelasku. Dari sekian banyak siswa yang hanya mengangguk-ngangguk pura-pura paham atau memang benar-benar paham. Entahlah. Tapi beruntung ada satu siswa di kelasku yang dengan sabar, dan benar-benar sabar mempraktikkan kesabaran yang selalu guru agamaku sampaikan setelah satu materi selesai dibahas. Sobri namanya.


Entah karena memang namanya yang secara arti berarti kesabaran atau memang sejak kecil dididik dengan disiplin agar selalu sabar oleh orang tuanya, tak ada yang tahu pasti. Tapi jika kau mencari orang paling sabar pasti siswa di sekolahku akan menyebut satu nama; Sobri.


Dengan kesabarannya, Sobri dengan mudah diterima oleh tema-temannya. Dia selalu sabar menghadapai masalah yang mendera dan dengan sabar pula mengatasi masalah-masalah yang datang satu per satu. Sungguh aku sangat iri terhadap Sobri, dengan kesabarannya banyak cewek di sekolahku yang membicarakannya, dari sekadar berbincang santai tentangnya, sampai kepo dengan kehidupan Sobri.


Memang kesabaran adalah suatu akhlak terpuji yang jika diterapkan dengan benar akan membawa banyak sekali manfaat, itulah yang kulihat dari sikap teman-teman terhadap Sobri. Maklum aku yang merupakan teman dekat Sobri kenal betul dengan perangainya yang sabar dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Tidak hanya itu, sebagai seorang organisator di sekolahku Sobri juga dikenal sebagai seorang yang pemurah, sering membantu dan merangkul teman-temannya yang membutuhkan bantuan.


**


Sobri dengan kesabarannya memang cukup dikenal di sekolahku. Itulah yang membuatnya seperti yang telah kukatakan sebelumnya menjadi incaran banyak cewek disekolahku. Terlebih rupanya yang bisa dikategorikan rupawan menjadi sebuah nilai tambah baginya.


Sering kudapati Sobri mandapat hadiah dari para pengagumnya, kadang pula mereka salah menaruh hadiah, bukannya ditaruh dilaci Sobri tapi malah nyasar ke laciku yang kebetulan sebangku dengan Sobri. Tapi para pengagum Sobri harus kecewa ketika di suatu pagi yang cerah saat masih sedikit siwa yang datang ke sekolah, di bawah pohon mangga yang tumbuh tinggi di belakang sekolah, dengan sepucuk mawar merah Sobri menyatakan perasaannya kepada Nabila. Sejak saat itu Sobri dan Nabila pun resmi berpacaran.


**


Tapi suatu cerita tidak akan dikenang jika itu berjalan mulus tanpa ujian dan rintangan. Entah memang sudah digariskan atau entah bagaimana, saat hari pertama setelah kenaikan kelas 2 SMA kelaku yang berarti juga kelas Sobri kedatangan satu teman baru. Alex namanya. Seorang anak pengusaha yang pindah ke sekolahku karena tuntutan keluarga jelas Pak Badrul, guru kimia yang mengantarkan Alex dan memperkenalkannya didepan kelas.


Awalnya aku mengira Alex adalah orang baik-baik, tapi seiring waktu aku akhirnya tahu alasan sebenarnya Alex pindah ke sekolahku. Di drop out oleh sekolah sebelumnya karena tingkah lakunya yang sungguh tidak sopan. Walaupun begitu, dia memiliki otak yang lumayan encer.


Hari-demi hari berjalan sebagaimana mestinya, Alex yang notabene murid baru masih mulai beradaptasi. Tapi seiring waktunya Alex jadi semena-mena kepada siswa lain. Mungkin karena gaya hidupnya yang hedonis dan kekayaan orang tuanya yang bejibun membuatnya merasa superior dan spesial. Sering Alex mengintimidasi teman sekelasku entah mengatai mereka hitam lah, bau lah, atau kata-kata umpatan lain yang menyakitkan perasaan. Bahkan sempat pula Alex mengintimidasiku, tapi beruntunglah ada Sobri dan anak buah Alex memisahkanku yang sudah naik darah kala itu.


Hampir seluruh siswa pernah diintimidasi, ada yang acuh, bahkan ada yang emosi. Sobri yang dikenal penyabar pun pernah diintimidasinya, bahkan bisa dibilang Sobri adalah sasaran Alex setiap harinya. Tiada hari tanpa ejekan Alex kepada Sobri kecuali hari itu hari libur atau Alex tidak sedang tidak masuk sekolah. Sobri yang diintimidasi setiap hari tetap sabar dan malah berlaku baik dan sesekali menyindir dengan harapan suatu saat Alex akan sadar dan meminta maaf atas semua kelakuannya selama ini.


Pernah suatu hari Alex datang ke sekolah tanpa membawa apa-apa, tanpa salam dia langsung duduk di bangkunya. Saat guru jam pertama datang dengan gampangnya dia berucap pada Sobri


“Minta penmu Sob, kan katanya kamu sabar, aku gak bawak apa-apa nih”


Melihat hal tersebut aku merasa sedikit kesal tapi Sobri menahanku, lalu dengan ramah dia memberikan bolpoin yang diambilnya dari tasnya


“Tidak sekalian buku dan tipe-Xnya Lex” tanya Sobri menyindir


“Ah.. boleh, boleh” ucap Alex tanpa malu dan sungkan sama sekali. Sobri pun memberikan buku dan Tipe-X yang diambil di tasnya. Sejak saat itu aku pun mulai menjaga jarak dengan Alex tapi tidak dengan Sobri dia tetap sabar dan bersikap ramah terhadap Alex


**


Suatu hari setelah menyelesaikan satu materi, Pak Muhaimin, guru agamaku seperti biasa menerangkan tentang kesabaran.


“Baiklah anak-anak, sambil menunggu bel pelajaran berakhir bapak akan menerangkan tentang sikap sabar”


“Ingat, sabar itu tidak ada batanya, tapi bukan berarti ketika kita dianiaya kita malah tidak berbuat apa-apa dengan dalih bersikap sabar, bodoh itu namanya bukan sabar. Jadi memang sabar itu tidak terbatas, tiap individu lah yang menentukan batas kesabarannya masing-masing”


Setelah menjelaskan hal tersebut pak Muhaimin pun menutup pelajaran dan berlalu meninggalkan kelas.


**


Memang apa yang dikatakan Pak Muhaimin bebrapa hari yan lalu benar. Tapi Sobri kurasa terlalu luas kesabarannya. Alex yang tiap hari kasar kepadanya ia balas dengan sikap kasih dan ramah kepada Alex. Tapi memang setiap orang memiliki batasan mereka sendiri. Begitu juga Sobri yang penyabar.


Suatu siang setelah bel pulang sekolah berbunyi, Sobri berjalan beriringan dengan Nabila, pacarnya. Hal yang Sobri biasa lakukan setiap sepulang sekolah. Tapi siang itu, tanpa babibu Alex langsung menghadang Sobri dan Nabila dan tanpa basa-basi langsut menggaet Nabila yang berada disamping Sobri, dengan santai Alex berucap:


“Aku bawa Nabila ya, dia kan udah bukan cewekmu”


“Nih, kemarin kita jalanbareng, so sweet kan” ucap Alex bangga sambil menunjukkan foto mesranya dengan Nabila. Sobri menjadi bingung, Nabila yang kini berada di samping Alex pun menundukkan kepalanya.


Melihat hal tersebut aku sungguh naik darah, aku yang tepat berada di belakang Sobri sudah siap melancarkan bogem mentahkepada Alex. Tapi sebelum hal tersebut terjadi, dengan penuh amarah Sobri menyumpah serapah: “Kau minta pen aku beri, keu minta buku aku beri, kau minta tipe-x aku beri, sekarang kau minta cewekku, ambil saja boneka rusak tak tahu diri itu! Aku sudah muak, dasar BABI!”


Sobri pun pergi meniggalkan Alex dan Nabila yang terperangah.

0 Komentar

Anda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.

Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.