"Mohon kebijaksanaannya, Pak."
Kita pasti sering dengar kalimat itu. Entah dari mahasiswa yang nilainya jeblok minta didongkrak, atau pelamar kerja yang ditolak terus berharap ada keajaiban dari kata "bijaksana". Ironisnya, kata yang harusnya berkonotasi mulia ini malah sering dipakai buat meredam protes atau lepas dari tanggung jawab saja.
Pernah nggak kita mikir, sebenarnya apa sih arti kebijaksanaan yang sesungguhnya?
Kata Mulia yang Bergeser Jadi Kata Serbaguna
Kita hidup dengan kata "kebijaksanaan" atau "wisdom" hampir setiap hari. Tapi jarang banget ada yang benar-benar berusaha melacak makna aslinya.
Dalam keseharian, kita cenderung mengartikannya sebagai kebaikan praktis, kemurahan hati, atau tindakan yang mempertimbangkan kepentingan orang lain. Pemaknaan seperti ini nggak salah, tapi jujur saja, makna itu masih terlalu reduktif.
Terlalu sederhana untuk sebuah konsep yang sebenarnya jauh lebih dalam. Kata mulia itu kemudian akhirnya berubah makna menjadi kata serbaguna sebagai bentuk lari dari tanggung jawab. Bukannya belajar lebih giat supaya nilai bisa meningkat, atau mempersiapkan diri lebih matang untuk meningkatkan peluang pekerjaan.
Hidup Bijaksana ala Filsuf: Hidup yang Pas adalah Kebijaksanaan
Kalau mau disederhanakan, hidup secara bijaksana adalah hidup dalam kondisi dan posisi yang pas. Pemaknaan ini saya dapatkan dari buku Fahruddin Faiz, Sebelum Filsafat.Apa yang dimaksud hidup dalam kondisi yang pas? Bukan posisi asal-asalan, tapi posisi yang benar-benar mencerminkan siapa kita sebagai manusia seutuhnya.
Banyak pemikir besar sepakat: kata "pas" itu identik dengan posisi tengah. Sebaik-baiknya urusan memang ada di titik tengah, bukan di ujung-ujung ekstrem. Keseimbangan, proporsionalitas, keadilan, dan menghindari sikap berlebihan.
Jadi, bijaksana bukan berarti selalu mengalah atau selalu memaafkan. Bijaksana adalah kemampuan menemukan titik seimbang di antara berbagai kepentingan dan kemungkinan.
Banyak pemikir besar sepakat: kata "pas" itu identik dengan posisi tengah. Sebaik-baiknya urusan memang ada di titik tengah, bukan di ujung-ujung ekstrem. Keseimbangan, proporsionalitas, keadilan, dan menghindari sikap berlebihan.
Jadi, bijaksana bukan berarti selalu mengalah atau selalu memaafkan. Bijaksana adalah kemampuan menemukan titik seimbang di antara berbagai kepentingan dan kemungkinan.
Menjadi Bijaksana dengan Lima Alat untuk Memahami Kehidupan
Nah, biar kita bisa sampai ke posisi tengah itu, kita perlu alat untuk memahaminya dulu. A. Charris Zubair, dalam bukunya Dimensi Etik dan Asketik Pengetahuan Manusia, menjelaskan bahwa manusia secara normal punya lima alat sumber pengetahuan dalam hidupnya.
- Indra: Menggarap wilayah fisik material
- Naluri: Memahami potensi kemanusiaan dalam hidup dan kehidupan
- Rasio: Memahami proses sebab akibat dan abstraksi
- Nurani: Memahami martabat sebagai makhluk spiritual dan moralitas
- Intuisi: Memahami dimensi transenden dalam kehidupan
Kelima alat ini saling melengkapi. Indra membantu kita mengenal dunia fisik, naluri membantu kita bertahan dan memahami kehidupan secara insting, rasio membantu kita berpikir logis, nurani menjaga kompas moral kita, dan intuisi membuka ruang bagi pemahaman yang lebih transenden.
Kebijaksanaan sejati mungkin lahir ketika kelima alat ini bekerja secara seimbang, bukan cuma mengandalkan satu atau dua saja. Kebijaksanaan juga hadir dari penggunaan alat yang tepat untuk kondisi yang tepat.
Contohnya begini: Rasio dipakai memutuskan urusan moral. Argumen seperti "korupsi kecil tidak apa-apa karena secara hitungan kerugiannya tidak signifikan" itu logis secara kalkulasi, tapi keliru karena yang seharusnya bekerja di situ adalah nurani, bukan kalkulator.
Masih ada banyak contoh lainnya. Tapi, mari cukupkan dengan satu contoh dan mungkin bisa kita jadikan bahan diskusi di kolom komentar, kan?
Jadi, Sudah Bijaksana Belum Kita?
Kalau kita tarik benang merahnya, kebijaksanaan bukan sekadar kata sakti untuk minta keringanan atau menghindari konsekuensi. Kebijaksanaan adalah proses panjang menemukan posisi tengah, dengan memaksimalkan semua alat yang kita punya sebagai manusia: indra, naluri, rasio, nurani, dan intuisi.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sekadar mengucapkan kata "bijaksana" sebagai formalitas, dan mulai benar-benar mempraktikkannya dalam hidup sehari-hari. Karena pada akhirnya, hidup yang bijaksana adalah hidup yang pas: seimbang, proporsional, dan adil terhadap diri sendiri maupun orang lain.
*) Referensi: Zubair, A. C. (n.d.). Dimensi Etik dan Asketik Pengetahuan Manusia.

9 Komentar
Makna bijaksana ternyata bukan sekadar mengalah atau memberi keringanan ya. Mencari posisi yang “pas”, karena dalam kehidupan sehari-hari memang sering banget kita perlu menempatkan sesuatu secara seimbang. Lima alat untuk memahami kehidupan yakni indra, naluri, rasio, nurani, dan intuisi, juga bikin aku mikir, jangan-jangan selama ini kita terlalu sering mengandalkan satu sisi aja. Tulisan ini jadi pengingat bahwa bijaksana itu bukan cuma diucapkan, tapi perlu dipraktikkan dalam banyak keputusan kecil sehari-hari.
BalasHapusSelama ini kita memang sering mendengar kalimat “mohon kebijaksanaannya” seolah-olah kebijaksanaan identik dengan memberikan kelonggaran atau pengecualian. Padahal setelah membaca tulisan ini, saya jadi melihat bahwa menjadi bijaksana justru membutuhkan kemampuan menempatkan sesuatu secara pas dan proporsional. Hidup yang bijaksana bukan berarti selalu mengalah, tetapi tahu kapan harus berada di titik yang tepat. Hm, jadi ikut berpikir, jangan-jangan selama ini kita juga masih sering salah memahami arti bijaksana
BalasHapusBagian tentang kata “kebijaksanaan” yang sering digunakan sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab cukup menohok. Aku juga suka gagasan tentang hidup dalam kondisi yang “pas”, bukan sekadar melakukan sesuatu yang dianggap baik tetapi memahami posisi dan keadaan diri sebagai manusia. Jadi bijaksana ternyata bukan berarti selalu mengalah atau memudahkan segala sesuatu, melainkan tahu kapan harus bertindak dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri
BalasHapusMemang berat sih untuk menjadi orang yang bijaksana. Apalagi harus bertindak dan bertanggung jawab pasti itu harus dilakukan dari diri sendiri.
BalasHapusSering banget kan nemu orang minta kebijakan tapi sebenarnya cuma males tanggung jawab atas kecerobohan sendiri. Padahal makna bijaksana itu jauh lebih dalam ya, tentang nemuin titik pas antara logika sama nurani. Kadang kita emang suka salah pake alat, kayak urusan moral malah dihitung pakai kalkulator rasio doang, padahal nurani yang harusnya jalan duluan.
BalasHapusbeneran bikin mikir ulang tentang arti hidup seimbang yang proporsional setiap hari.
Terusterang saja, sejauh pengamatan saya, masyarakat Indonesia nih hobi banget memelintir makana kata, baik disengajq maulun tidak disengaja gara-gara malas memahami arti dan tidak mindfullness dalam memahaminya.
BalasHapusSederhananya bijaksana adalah ketika kita mampu untuk membuat pilihan dengan resiko yang seminimal mungkin untuk semua pihak. Untuk mencapainya kita perlu melihat semua sisi secara helicopter view. Terima kasih sharing ya pak
BalasHapusNah iya suka ada aja orang yang meminta "kebijaksanaan" ke orang lain supaya dimaklumi kesalahannya. Pada akhirnya malah jadi lari dari tanggungjawab. Memang udah seharusnya diluruskan lagi makna kebijaksanaan. Suka ada aja yang memelintir makna tersebut.
BalasHapusSetuju banget, Mas Rahman. Makna kebijaksanaan emang bukan sekadar teori tinggi di atas kertas, tapi tentang bagaimana kita membumikan pemahaman itu di tengah riuhnya keseharian. Membaca artikel ini rasanya seperti diingatkan untuk kembali melambat dan berpikir jernih di antara hiruk-pikuk dunia. Keren banget pembahasannya.
BalasHapusAnda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.
Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.