Mata adalah salah satu organ paling penting bagi manusia. Berperan sebagai indra penglihatan, mata adalah penyerap informasi terbesar sekaligus alat navigasi utama bagi tubuh kita. Sayangnya, menurut data dari Kementerian Kesehatan ada lebih dari 3 juta penduduk Indonesia mengalami masalah penglihatan bahkan kebutaan, lho.
Ironisnya, masalah kesehatan mata itu tidak terjadi begitu saja, tapi berangsur-angsur dari masalah sepele yang disepelein menjadi masalah serius seperti kebutaan. Saya punya pengalaman pribadi merasakan mimpi buruk itu secara langsung. Mengalami bagaimana masalah mata awalnya dianggap sepele, hingga kemudian mata teriak karena tak mampu lagi menjalani 3 peran sekaligus.
Tiga Peran untuk Sepasang Mata
Semua cerita barawal dari momen penting dalam hidup saya. Ketika akhirnya memutuskan untuk berkeluarga setelah menyelesaikan studi pascasarjana, datang masa ketika saya harus memilih: menyelesaikan satu pekerjaan dengan baik, atau menjalani tiga pekerjaan sekaligus dengan seadanya.
Salah satu momen yang paling saya tunggu tahun ini adalah hari wisuda mahasiswa bimbingan skripsi saya. Momen itu bagi saya bukan sekadar seremoni kampus biasa, tapi hasil dari proses panjang membimbing, merevisi, dan meyakinkan mahasiswa yang sempat hampir menyerah di tengah jalan itu.
Gejala itu tidak datang tiba tiba. Ia menumpuk pelan pelan, seperti debu yang menempel di kaca tanpa disadari.
Belum selesai di situ, beralih ke peran kedua sebagai petani, musim kemarau membuat debu di ladang makin mudah beterbangan. Bekerja di bawah terik matahari sambil mengecek tanaman cabai dan tembakau membuat otot di sekitar mata sering menegang, sementara di sisi lain produksi air mata justru menurun akibat panas terik matahari. Alhasil, mata jadi lebih mudah lelah karena tidak terlumasi dengan cukup dan akhirnya mengalami gejala mata kering.
Mari lanjutkan cerita dengan peran ketiga sebagai peternak puyuh. Rasa lelah dan stres mengurus ribuan ekor puyuh, memantau suhu kandang, dan mencatat hasil panen telur setiap hari, ikut menambah beban pada mata yang sudah lelah sejak subuh.
Hari wisuda pun tiba. Saya sudah membayangkan momen itu penuh senyum dan foto bersama, tapi kenyataannya mata saya memerah, berair tanpa henti, dan terasa perih setiap kali terkena angin AC ruangan wisuda.
Saat momen foto bersama mahasiswa bimbingan, saya harus beberapa kali menahan kedipan berlebihan agar tidak terlihat aneh di kamera. Konsentrasi saat memberi ucapan selamat pun sedikit terganggu, karena pandangan sesekali buram dan mata terasa tegang.
Momen yang seharusnya jadi kebanggaan penuh itu jadi sedikit terganggu oleh rasa tidak nyaman di mata. Saya sadar, kondisi kelelahan mata itu bukan sekadar lelah biasa. Menurut data JEC Eye Hospitals and Clinics (2023), prevalensi mata kering di Indonesia berada pada rentang 27,5 hingga 30,6 persen, dan angka ini diperkirakan terus bertambah seiring meningkatnya waktu menatap layar elektronik.
Selain meningkatnya waktu penggunaan gawai, gejala mata kering juga bisa dipicu oleh menurunnya produksi air mata dari kelenjar lakrimal. Ketika produksi air mata berkurang, permukaan mata tidak lagi mendapat pelumasan yang cukup, sehingga mudah teriritasi dan memunculkan rasa tidak nyaman seperti mata sepet, perih, hingga terasa mengganjal seperti ada pasir halus di dalamnya.
Memasuki musim kemarau, gejala ini biasanya makin terasa. Cuaca yang panas membuat air mata lebih cepat menguap, sementara debu juga jadi lebih mudah beterbangan di udara. Sebagai petani sekaligus peternak, saya merasakan sendiri bagaimana debu musim kemarau ini bisa membuat mata tanpa sadar berubah jadi perih dan sepet, bahkan di saat saya tidak sedang bekerja terlalu berat.
Senja dalam perjalanan pulang itu pun akhirnya begitu saya nikmati. Senja yang sebenarnya selalu saya saksikan setiap pulang dari tempat kerja itu terlihat berbeda sore itu. Mungkin, tuhan memberikan ujian dalam bentuk mata kering dan mengantarkan pelipurnya dalam sebotol Insto Dry Eyes supaya saya bisa menikmati senja dengan lebih takdzim lagi. Senja yang sengaja Sukab curi untuk kemudian dikirimkan kepada Alina di dalam sepucuk surat.
Insto Dry Eyes tuh bukan cuma solusi cepat, cari produknya juga gampang banget. Mencari Insto Dry Eyes ternyata tidak perlu jauh jauh. Produk ini hampir selalu tersedia di minimarket dekat rumah, jadi kapan pun gejala muncul, saya tidak perlu buang waktu keliling toko. Kemasan barunya juga tampil bersih dan gampang dikenali, jadi meski rak minimarket penuh dengan berbagai produk obat tetes mata, Insto Dry Eyes tetap mudah ditemukan sekilas mata.
Setelah dicoba, saya baru tahu alasan Insto Dry Eyes jadi andalan banyak orang untuk atasi mata kering. Formulasinya mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose yang berfungsi sebagai pelumas utama, meniru air mata alami sehingga mata tidak lagi terasa kering, perih, atau seperti kemasukan pasir halus.
Sejak hari wisuda itu, saya selalu menyimpan INSTO DRY EYES di tas kerja, di rumah, dan bahkan di gudang penyimpanan hasil ladang. Setiap kali mata mulai terasa sepet setelah berjam jam di depan laptop, atau perih karena debu ladang, saya tinggal Tetesin Insto Dry Eyes dan dalam beberapa saat mata terasa lebih lega, tidak tegang, dan lebih fokus kembali menjalani aktivitas.
Pengalaman itu mengajarkan saya satu hal sederhana, bahwa menjalani banyak peran sekaligus bukan berarti harus mengorbankan kesehatan mata. Justru karena mata adalah alat kerja utama saya sebagai dosen, petani, dan peternak puyuh, ia harus dijaga sebaik mungkin.
Kini saya paham, gejala mata yang tampak sepele justru bisa mengubah jalannya momen momen yang sudah lama dinanti. Wisuda mahasiswa bimbingan saya tetap berjalan lancar, panen cabai tetap terkontrol, dan produksi puyuh tetap stabil, tapi saya belajar untuk tidak lagi menyepelekan sinyal kecil dari tubuh, terutama dari mata. #MataSePeLeJanganSepelein bukan sekadar slogan kampanye, tapi pengingat nyata bagi siapa pun yang menjalani hari hari padat seperti saya.
Kalau kamu juga menjalani lebih dari satu peran sekaligus, entah sebagai pekerja kantoran yang merangkap freelancer, mahasiswa yang sambil kerja paruh waktu, atau siapa pun dengan jadwal padat, jangan tunggu mata benar benar perih baru bertindak.
[1] https://www.facebook.com/IndonesiaBaikId/posts/mata-merupakan-salah-satu-organ-tubuh-yang-paling-penting-karena-berfungsi-sebag/1342851275876561
[4] HeadphonesAddict (2023): “33+ Startling Screen Time Statistics: US vs. World (2023)”; https://headphonesaddict.com/screen-time-statistics/
[5] US National Library of Medicine (2021): “The Relationship Between Dry Eye Disease and Digital Screen Use”; https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8439964/#cit0014
[6] All-eyes.org: “Electronic Devices And Dry Eye”; https://www.all-eyes.org/eye-care-services/dry-eye-optometrist/electronic-devices-and-dry-eye/
Saya memilih yang kedua, bukan karena gagah gagahan, tapi karena keadaan memaksanya demikian. Sebagai perintis, bukan pewaris, saya tidak punya warisan usaha atau modal yang bisa membuat hidup lebih santai. Semua harus dibangun dari nol, dan itu artinya mau tidak mau harus menjalani tiga peran sekaligus -- menjadi dosen, petani, dan peternak puyuh.
Kenapa ternak puyuh? Karena lahan di rumah saya terbatas, dan puyuh adalah hewan ternak yang cocok untuk kondisi itu. ~hehe 😄🙏
Kenapa ternak puyuh? Karena lahan di rumah saya terbatas, dan puyuh adalah hewan ternak yang cocok untuk kondisi itu. ~hehe 😄🙏
Tiga peran itu punya ritme berbeda, tapi tujuannya sama: memastikan ada pemasukan harian, mingguan, dan bulanan saling menopang mencukupi kebutuhan keluarga.
Pendapatan harian didapatkan dari telur puyuh yang dipanen setiap pagi, mingguan dari hasil ladang cabai dan tembakau, dan bulanan dari gaji sebagai dosen (meskipun nominalnya tidak seberapa. Miris? Iya, tapi fitrahnya ilmu itu memang untuk dibagikan, kan).
Sekilas terdengar produktif. Tapi di balik itu, ada satu bagian tubuh yang paling sering jadi korban karena sering disepelein -- mata.
Mimpi Buruk di Momen yang Sudah Lama Dinanti
![]() |
Rutinitas sebagai dosen membuat saya terbiasa duduk berjam-jam menatap layar laptop. Mulai dari mempersiapkan materi pembelajaran, mengajar, membimbing, dan mengevaluasi mahasiswa. |
Salah satu momen yang paling saya tunggu tahun ini adalah hari wisuda mahasiswa bimbingan skripsi saya. Momen itu bagi saya bukan sekadar seremoni kampus biasa, tapi hasil dari proses panjang membimbing, merevisi, dan meyakinkan mahasiswa yang sempat hampir menyerah di tengah jalan itu.
Sialnya, hari itu termasuk cukup hectic karena tepat bersamaan dengan masa panen cabai perdana musim ini, dan puncak produksi telur puyuh sedang tinggi tingginya. Tiga dunia saya bertabrakan di satu titik waktu, dan saya bertekad tidak ada satu pun yang boleh terbengkalai.
Tapi, mata saya ternyata sudah berteriak terlebih dahulu karena sering disepelein.
Ketika Gejala Mata SePeLe Mulai Muncul
Gejala itu tidak datang tiba tiba. Ia menumpuk pelan pelan, seperti debu yang menempel di kaca tanpa disadari.
Sebagai dosen, mata saya setiap hari dipaksa menatap layar laptop untuk menyiapkan materi kuliah, mengajar daring lewat Zoom, dan mengurus administrasi kampus yang tak pernah habis. Perjalanan dari rumah ke kampus juga tidak sebentar, setidaknya memakan waktu sekitar satu jam perjalanan. Di perjalananpun mata terus terpapar angin dan sinar matahari lewat kaca mobil. Tidak jarang saya harus mencuci muka ketika sampai di kampus. Bukan hanya untuk terlihat segar, tapi untuk merilekskan mata yang lelah dipapar debu jalanan.
Belum selesai di situ, beralih ke peran kedua sebagai petani, musim kemarau membuat debu di ladang makin mudah beterbangan. Bekerja di bawah terik matahari sambil mengecek tanaman cabai dan tembakau membuat otot di sekitar mata sering menegang, sementara di sisi lain produksi air mata justru menurun akibat panas terik matahari. Alhasil, mata jadi lebih mudah lelah karena tidak terlumasi dengan cukup dan akhirnya mengalami gejala mata kering.
Tak hanya masalah cuaca, sebagai seorang petani cabai, mata saya sering mengalami rasa perih luar biasa. Tak lain tak bukan penyebabnya adalah tangan sendiri yang tanpa sadar mengusap mata setelah memetik cabai.
Residu kapsaisin (capsaicin) dalam cabai yang menempel di tangan dan mengenai mata akibat refleks tanpa sadar memberikan rasa nyari dan panas yang nyata. Dan, saya paling sering merasakan hal ini. Maklum, masih petani pemula dan suka refleks ngucek mata. Saya pun hanya bisa menahan perih dan bilang pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi, namanya juga refleks, tidak sampai 15 menit, mata kembali perih karena dikucek tanpa sadar 😂😭
![]() |
| Selalu sedia Insto Dry Eyes untuk atasi gejala mata SePeLe. |
Mari lanjutkan cerita dengan peran ketiga sebagai peternak puyuh. Rasa lelah dan stres mengurus ribuan ekor puyuh, memantau suhu kandang, dan mencatat hasil panen telur setiap hari, ikut menambah beban pada mata yang sudah lelah sejak subuh.
Iya, saya mencurahkan banyak usaha untuk peternakan puyuh supaya memiliki data akurat dan tepat. Data itu kemudian saya gunakan untuk kebutuhan pengembangan usaha, pengendalian penyakit, dan monitoring berkala. Karena penghasilan harus maksimal dan tidak boleh ada kebocoran finansial akibat pengeluaran tidak terhitung.
Ketiga peran itu benar-benar membuat mata bekerja keras tanpa henti. Alhasil, tepat tiga hari sebelum wisuda, saat saya begadang menyusun ucapan untuk mahasiswa bimbingan sambil sesekali membuka laporan panen cabai dan catatan produksi puyuh di ponsel, saya mulai merasakan gejala mata SEpet, PErih, dan LElah datang bersamaan. Mata terasa seperti ada pasir halus, berair tapi kering, dan susah fokus meski sudah dipejamkan sesaat.
Awalnya, gejala itu saya sepelekan. Saya biarkan saja dan mungkin akan sembuh dengan sendirinya (?). Namun, keputusan untuk menyepelekan gejala mata kering itu ternyata berubah menjadi mimpi buruk di momen penting hidup saya.
Ketika Gejala Mata Kering Jadi Mimpi Buruk di Momen Penting
Hari wisuda pun tiba. Saya sudah membayangkan momen itu penuh senyum dan foto bersama, tapi kenyataannya mata saya memerah, berair tanpa henti, dan terasa perih setiap kali terkena angin AC ruangan wisuda.
| Foto wisuda dengan kacamata hitam bukan untuk bergaya, tapi karena mata kering memerah. (Sumber ilustrasi: PNGtree) |
Saat momen foto bersama mahasiswa bimbingan, saya harus beberapa kali menahan kedipan berlebihan agar tidak terlihat aneh di kamera. Konsentrasi saat memberi ucapan selamat pun sedikit terganggu, karena pandangan sesekali buram dan mata terasa tegang.
Momen yang seharusnya jadi kebanggaan penuh itu jadi sedikit terganggu oleh rasa tidak nyaman di mata. Saya sadar, kondisi kelelahan mata itu bukan sekadar lelah biasa. Menurut data JEC Eye Hospitals and Clinics (2023), prevalensi mata kering di Indonesia berada pada rentang 27,5 hingga 30,6 persen, dan angka ini diperkirakan terus bertambah seiring meningkatnya waktu menatap layar elektronik.
Angka dari JEC itu bukan sekedar statistik, tapi bukti bahwa gejala mata kering memang sering disepelekan dan berakhir menjadi penyebab masalah mata yang lebih serius.
Selain meningkatnya waktu penggunaan gawai, gejala mata kering juga bisa dipicu oleh menurunnya produksi air mata dari kelenjar lakrimal. Ketika produksi air mata berkurang, permukaan mata tidak lagi mendapat pelumasan yang cukup, sehingga mudah teriritasi dan memunculkan rasa tidak nyaman seperti mata sepet, perih, hingga terasa mengganjal seperti ada pasir halus di dalamnya.
Memasuki musim kemarau, gejala ini biasanya makin terasa. Cuaca yang panas membuat air mata lebih cepat menguap, sementara debu juga jadi lebih mudah beterbangan di udara. Sebagai petani sekaligus peternak, saya merasakan sendiri bagaimana debu musim kemarau ini bisa membuat mata tanpa sadar berubah jadi perih dan sepet, bahkan di saat saya tidak sedang bekerja terlalu berat.
Meskipun kondisinya begitu, banyak masyarakat masih menyepelekan gejala mata kering. Hal itu biasa dianggap sebegai kelelahan biasa dan disepelein begitu saja. Alhasil, mata kita kemudian teriak duluan karena sudah tidak sanggup lagi bertahan di tengah kondisi berat tersebut. Akhirnya, momen penting kita jadi terganggu akibat gejala mata kering yang sudah parah akibat terlalu sering disepelin.
Kembali ke momen wisuda, beruntungnya minimarket dekat lokasi wisuda menyediakan Insto Dry Eyes yang kemudian langsung saya pakai. Beberapa tetes Insto Dry Eyes langsung terasa begitu menyegarkan dan sangat meringankan gejala mata kering.
Alhasil, meskipun momen wisuda itu menjadi sedikit kacau akibat mata kering dan memerah seperti zombie, saya masih bisa menikmati sisa momen wisuda itu berkat tetesan segar Insto Dry Eyes.
Sepulang dari wisuda, mata yang sudah jauh lebih segar bisa menikmati pemandangan jalan dengan lebih leluasa. Senja di ufuk barat pun terlihat begitu indah dalam dekapan mata yang sudah perlahan sembuh dari gejala mata kering. Momen itu mengingatkan saya pada 2 orang. Pertama pada Raim Laode dan lirik lagu Bersenja Gurau-nya, "sebab tuhan tlah berjanji setelah sempit ada kemudahan."
| Pemandangan senja di Kabupaten Situbondo dari Wisata Kampung Kerapu yang berada di sepanjang Jalur Pantura Situbondo.(Foto: Instagram.com/sigitdim) |
Senja dalam perjalanan pulang itu pun akhirnya begitu saya nikmati. Senja yang sebenarnya selalu saya saksikan setiap pulang dari tempat kerja itu terlihat berbeda sore itu. Mungkin, tuhan memberikan ujian dalam bentuk mata kering dan mengantarkan pelipurnya dalam sebotol Insto Dry Eyes supaya saya bisa menikmati senja dengan lebih takdzim lagi. Senja yang sengaja Sukab curi untuk kemudian dikirimkan kepada Alina di dalam sepucuk surat.
"Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu." ~Sepotong Senja untuk Pacarku (Seno Gumira Ajidarma)
Dan, mungkin itulah alasan kita harus menjaga kesehatan mata kita. Untuk menikmati senja sepulang kerja, untuk melihat dunia yang begitu indah, dan untuk melewati berbagai hal luar biasa lain dalam hidup yang penuh makna ini.
Pelajaran dan Tips Mengatasi Mata Kering di Tengah Kesibukan
Experience is the best teacher (Pengalaman adalah guru terbaik)
Mengalami secara langsung gejala mata kering yang menjadi mimpi buruk di momen penting mengajarkan saya banyak hal. Dari pengalaman itu, saya belajar hal penting soal cara menjaga kesehatan mata di tengah jadwal yang padat, lebih-lebih bagi kalian yang menjalani lebih dari 1 peran di saat bersamaan.
Berikut ini adalah beberapa langkah sederhana untuk mencegah dan mengatasi dry eyes syndrome supaya tidak jadi mimpi buruk di momen-momen pentingmu!
Pertama, jangan menunggu mata benar benar perih baru bertindak. Begitu terasa sepet atau lelah, segera istirahatkan mata beberapa menit, jauh dari layar dan debu. Memandang objek hijau alami seperti panorama alam di kejauhan juga sangat membantu, lho.
Kedua, terapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki selama 20 detik. Sederhana, tapi cukup membantu mengurangi ketegangan otot mata. Praktek ini benar-benar berdampak nyata buat kamu yang pekerjaannya benar-benar tech heavy. Sebagai dosen, saya juga punya beberapa momen di mana mata harus fokus di depan layar komputer. Aturan 20-20-20 sangat membantu meringankan beban kerja organ penglihatan dan mencegah mata kering.
Ketiga, perbanyak minum air putih, terutama saat bekerja di ladang dengan cuaca panas dan berdebu, karena tubuh yang terhidrasi baik juga membantu produksi air mata tetap stabil. Intinya, jangan lupa bawa bekal. Dan, jangan malu pada rekan kerja jika bawa bekal. It's for your own safety.
Keempat, gunakan kacamata pelindung saat berkendara jauh atau bekerja di area berdebu, agar mata tidak terlalu sering terpapar angin dan partikel debu secara langsung.
Kelima, dan ini yang paling saya rasakan manfaatnya, sediakan solusi cepat yang bisa diandalkan kapan saja gejala Gejala Mata Kering muncul di tengah aktivitas yang tidak bisa ditunda seperti Insto Dry Eyes.
Pertama, jangan menunggu mata benar benar perih baru bertindak. Begitu terasa sepet atau lelah, segera istirahatkan mata beberapa menit, jauh dari layar dan debu. Memandang objek hijau alami seperti panorama alam di kejauhan juga sangat membantu, lho.
Kedua, terapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki selama 20 detik. Sederhana, tapi cukup membantu mengurangi ketegangan otot mata. Praktek ini benar-benar berdampak nyata buat kamu yang pekerjaannya benar-benar tech heavy. Sebagai dosen, saya juga punya beberapa momen di mana mata harus fokus di depan layar komputer. Aturan 20-20-20 sangat membantu meringankan beban kerja organ penglihatan dan mencegah mata kering.
Ketiga, perbanyak minum air putih, terutama saat bekerja di ladang dengan cuaca panas dan berdebu, karena tubuh yang terhidrasi baik juga membantu produksi air mata tetap stabil. Intinya, jangan lupa bawa bekal. Dan, jangan malu pada rekan kerja jika bawa bekal. It's for your own safety.
Keempat, gunakan kacamata pelindung saat berkendara jauh atau bekerja di area berdebu, agar mata tidak terlalu sering terpapar angin dan partikel debu secara langsung.
Kelima, dan ini yang paling saya rasakan manfaatnya, sediakan solusi cepat yang bisa diandalkan kapan saja gejala Gejala Mata Kering muncul di tengah aktivitas yang tidak bisa ditunda seperti Insto Dry Eyes.
Menemukan Insto Dry Eyes dan Pengalaman Menggunakannya
![]() |
| Selalu sedia Insto Dry Eyes solusi ampuh bebas mata kering. |
Insto Dry Eyes tuh bukan cuma solusi cepat, cari produknya juga gampang banget. Mencari Insto Dry Eyes ternyata tidak perlu jauh jauh. Produk ini hampir selalu tersedia di minimarket dekat rumah, jadi kapan pun gejala muncul, saya tidak perlu buang waktu keliling toko. Kemasan barunya juga tampil bersih dan gampang dikenali, jadi meski rak minimarket penuh dengan berbagai produk obat tetes mata, Insto Dry Eyes tetap mudah ditemukan sekilas mata.
Setelah dicoba, saya baru tahu alasan Insto Dry Eyes jadi andalan banyak orang untuk atasi mata kering. Formulasinya mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose yang berfungsi sebagai pelumas utama, meniru air mata alami sehingga mata tidak lagi terasa kering, perih, atau seperti kemasukan pasir halus.
![]() |
| Pergi ke ladang pun kini selalu sedia Insto Dry Eyes di saku. |
Sejak hari wisuda itu, saya selalu menyimpan INSTO DRY EYES di tas kerja, di rumah, dan bahkan di gudang penyimpanan hasil ladang. Setiap kali mata mulai terasa sepet setelah berjam jam di depan laptop, atau perih karena debu ladang, saya tinggal Tetesin Insto Dry Eyes dan dalam beberapa saat mata terasa lebih lega, tidak tegang, dan lebih fokus kembali menjalani aktivitas.
![]() |
| Setiap kali gejala mata SePeLe terasa, langsung teteskan Insto Dry Eyes untuk mengatasinya. |
Pengalaman itu mengajarkan saya satu hal sederhana, bahwa menjalani banyak peran sekaligus bukan berarti harus mengorbankan kesehatan mata. Justru karena mata adalah alat kerja utama saya sebagai dosen, petani, dan peternak puyuh, ia harus dijaga sebaik mungkin.
Pengalaman itu juga membuat saya berkomitmen untuk lebih rutin memberi jeda pada mata, tidak menunggu sampai gejala mengganggu momen momen penting lainnya. Tidak lagi membuat mata harus "teriak" duluan, baru nyesel kemudian.
Penutup: Mata SePeLe, Jangan Disepelein
Kini saya paham, gejala mata yang tampak sepele justru bisa mengubah jalannya momen momen yang sudah lama dinanti. Wisuda mahasiswa bimbingan saya tetap berjalan lancar, panen cabai tetap terkontrol, dan produksi puyuh tetap stabil, tapi saya belajar untuk tidak lagi menyepelekan sinyal kecil dari tubuh, terutama dari mata. #MataSePeLeJanganSepelein bukan sekadar slogan kampanye, tapi pengingat nyata bagi siapa pun yang menjalani hari hari padat seperti saya.
Kalau kamu juga menjalani lebih dari satu peran sekaligus, entah sebagai pekerja kantoran yang merangkap freelancer, mahasiswa yang sambil kerja paruh waktu, atau siapa pun dengan jadwal padat, jangan tunggu mata benar benar perih baru bertindak.
Selalu sedia solusi cepat, jaga pola istirahat mata, dan ingat #BebasMataKering dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten. #InstoDryEyes
Daftar Rujukan
[1] https://www.facebook.com/IndonesiaBaikId/posts/mata-merupakan-salah-satu-organ-tubuh-yang-paling-penting-karena-berfungsi-sebag/1342851275876561
[2] JEC Eye Hospitals and Clinics. (2023, 18 Juli). Bahaya dry eye, penyakit yang disepelekan tapi bisa merusak permukaan mata. https://jec.co.id/en/article/mata-kering-yang-tak-tertangani-dapat-akibatkan-kerusakan-permukaan-mata
[3] Noor NA, Rahayu T, Gondhowiardjo TD. Prevalence of Dry Eye and its Subtypes in an Elderly Population with Cataracts in Indonesia. Clin Ophthalmol. 2020;14:2143-2150[4] HeadphonesAddict (2023): “33+ Startling Screen Time Statistics: US vs. World (2023)”; https://headphonesaddict.com/screen-time-statistics/
[5] US National Library of Medicine (2021): “The Relationship Between Dry Eye Disease and Digital Screen Use”; https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8439964/#cit0014
[6] All-eyes.org: “Electronic Devices And Dry Eye”; https://www.all-eyes.org/eye-care-services/dry-eye-optometrist/electronic-devices-and-dry-eye/







35 Komentar
Bener banget. Banyak masalah mata serius berawal dari gejala ringan yang disepelin.
BalasHapusBtw, saya juga sering kelupaan ngucek mata habis megang cabe. Jadinya bener-bener perih ke mata. Mana panas juga rasanya.
Masalah sederhana yang bisa diselesaikan dengan tepat jika tidak disepelein --kesehatan mata.
Hapusaku juga selalu sedia Insto karena aku pake kacamata jadi kadang suka kering
BalasHapusSolusi andalan untuk atasi masalah mata kering, ya Insto Dry Eyes
HapusKadang kalo lama main hape mata juga lelah pak dosen, untungnya biasanya aku langsung berhenti lalu main sepeda sekitar 10 menit agar mata normal lagi.
BalasHapusMata segar, badan bugar ini, mah. Mantap sekali, Pak Agus.
HapusSaya paling susah mengalihkan pandangan dari laptop. Jadi cukup sulit menerapkan pola 20202020 itu pak Dos..salam kenal btw
BalasHapusMemang perlu pembiasaan. Kalau saya biasanya dibawa ambil minum di belakang, sih.
HapusSalam kenal kembali, Pak Fanirifanto.
Salut banget dengan aktivitasnya! Menjalani tiga peran sekaligus sebagai dosen, petani, dan peternak puyuh tentu bukan perkara mudah. Membaca ceritanya jadi ikut lelah, hehe , tapi sekaligus kagum karena semuanya dijalani dengan penuh tanggung jawab. Dan benar sekali, di tengah kesibukan seperti itu kesehatan sering jadi yang nomor sekian, padahal tubuh sudah kasih sinyal. Bagian tentang mata ini relate banget, apalagi sekarang kita juga nggak bisa lepas dari laptop dan HP. Semoga setelah ini matanya lebih diperhatikan dan nggak sampai “teriak” lagi. Sehat selalu dan semoga semua aktivitasnya lancar
BalasHapusBismillah, sehat selalu badan dan mata.
HapusProduktif itu penting, tapi jangan sampai kesehatan mata menjadi bayarannya. Meskipun sibuk dengan gadget, usahakan sesekali nengok ke pepohonan atau pemandangan berwarna hijau, buat relaksasi mata.
BalasHapusBetul, produktivitas juga harus dibarengi dengan kesaadran diri. Sadar akan kesehatan diri, utamanya kesehatan mata yang jadi aset berharga bagi kita.
HapusProduk ini bagus untuk semua orang yang mengalami sakit mata. Apalagi tidak merasa perih saat digunakan
BalasHapusInsto Dry Eyes, mata langsung segar kembali.
HapusAku pakai kacamata plus 1 kalau membaca lama maupun laptopan. Jika berolahraga di luar ruangan, kadang debu beterbangan tahu2 masuk ke mata. Hal-hal yang bikin mata pedih, lelah dan kering ternyata ga boleh disepelein ya. Aku juga sedia Insto Dry Eyes di kotak obatku di rumah.
BalasHapusAku juga pakai kacamata UV, mbak. Supaya iritasi mata bisa diringankan akibat blue light dari layar elektronik.
HapusPerjuangan 3 peran sekaligus—dosen, petani, plus peternak puyuh—beneran luar biasa, tapi mata emang kerap jadi korban yang tak terlihat ya. Apalagi kepikiran kepo reflek ngucek mata pas habis panen cabai, bayanginnya aja udah bikin ngilu sendiri haha!
BalasHapusPelajaran berharga banget emang, jangan nunggu mata SEPELE (sepet, perih, lelah) makin parah pas momen krusial kayak wisudaan anak bimbingan. Untung gercep nemu Insto Dry Eyes di minimarket. Sukses terus buat ladang, ternak, dan tugas ngajarnya ya mas!
Terima kasih banyak, Mas Don. Sehat selalu dan sukses selalu, ya.
HapusHebat kak bisa menjalani tiga pekerjaan sekaligus menjadi dosen, petani dan peternak puyuh. Pastinya sibuk sekali ya. Saya bisa membayangkan bagaimana panasnya saat memanen hasil tani, belum lagi debu yang dibawa angin bisa mengganggu penglihatan. Untungnya teratasi dengan Insto dry eyes ya jadi momen wisuda bisa dijalani dengan lancar.
BalasHapusSebenarnya berat, tapi mau tidak mau harus dijalani dengan penuh semangat karena kalau bukan kita, siaapa lagi yang mau mengubah nasib kita? Untungnya ada sobat andalan, Insto Dry Eyes
HapusMerawat mata itu sangat penting. Harus selalu konsisten dan teratur dalam menjaga kesehatan mata agar tidak mendapat gangguan penglihatan.
BalasHapusBetul banget, mbak. Sakit mata dikit, bisa-bisa tangan kena jarum waktu ngejahit. Untung ada Insto Dry Eyes, solusi handal atasi gejala mata kering.
HapusGejala mata kering seperti sepet, perih, dan lelah memang tidak bisa disepelekan. Terutama bagi yang memiliki banyak aktivitas seperti Pak dosen sekaligus peternak dan petani ini. Supaya semua bisa berjalan dengan lancar pastinya selalu sedia Insto Dry Eyes yaa...
BalasHapusPaling mengganggu kalau lagi di ladang, sih. Dikira jadi zombie sama petani lain. Untung sekarang selalu sedia Insto Dry Eyes.
HapusKadang mata sepet atau terasa kering memang gampang banget dianggap cuma karena kurang tidur, padahal kalau dibiarkan bisa makin mengganggu aktivitas. Apalagi kalau sehari-hari sering menatap HP atau laptop. Aku juga pernah mengalami mata terasa nggak nyaman setelah terlalu lama di depan layar, dan biasanya baru sadar ternyata sudah berjam-jam tanpa jeda. Jadi memang jangan menunggu sampai terasa parah baru mulai memperhatikan kesehatan mata, selalu sedia insto sangat membantu
BalasHapusBetul, gejala mata kering biasanya disebabkan oleh banyak gejala kecil yang disepelin. Alhasil, jadi gejala mata kering yang menyebalkan. Untung ada Insto Dry Eyes, solusi ampuh atasi mata kering.
Hapusbenar musim kemarau ini malah makin parah kering matanya, panas hidupin ac bikin kering gk hidupin kepanasan serba salah jadinya.
BalasHapusIya, kak. Debu dan cuaca bikin mata makin gampang kena mata kering, nih.
HapusSetuju banget, masalah mata kering ini sering diabaikan padahal dampaknya ke produktivitas kerasa banget. Apalagi kalau seharian di depan layar laptop/HP, mata jadi gampang sepet dan capek. Sedikit jadi ingat ke anak saya yang sedang menysuun skripsi. Bisa sampai tengah malam di depan lptop, Untung ada Insto Dry Eyes yang praktis buat penanganan pertama.
BalasHapusBener banget, kak. Apalagi kalau gejala SePeLe melanda waktu masih di kantor. Masih banyak pekerjaan yang perlu diberesin. Insto Dry Eyes adalah solusi ampuh atasi gejala mata kering.
HapusDi tengah kesibukan yang padat, kesehatan mata memang jadi aset berharga yang wajib dijaga. Pilihan yang tepat selalu sedia Insto Dry Eyes di tas/kotak obat. Terima kasih insight-nya, Kak!
BalasHapusKemasannya praktis, manfaatnya langsung terasa
HapusKesehatan mata memang harus diperhatikan ya, Mas .. apalagi kalau kerjaan kayak Mas Rahman ... sudahlah selalu natap layar laptop, berurusan lagi dengan tanaman yang bisa tiba2 mata terpapar sesuatu. Penting memang si mungil itu.
BalasHapusIya banget, gejala mata sepele jangan disepelein. Apalagi untuk momen yang emang udah ditunggu sejak lama. Gak asik banget kalo jadi gak enjoy dan gak maksimal ya. Untung deh ada Insto Dry Eyes, jadinya gejala mata sepele bisa segera diatasi. Aku pun begitu, ke mana-mana selalu bawa Insto Dry Eyes.
BalasHapusNah insto dry eyes ini yang aku butuhkan!
BalasHapusSehari bisa 8 jam di depan layar monitor, mata suka kering dan pedesss...
Kayaknya memang perlu stok Insto ini guna menjaga kenyamanan mata 🤔
Anda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.
Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.