Kalau ngobrol soal gadget, apalagi smartphone, nama iPhone hampir selalu muncul. Entah di tongkrongan, grup WhatsApp keluarga, atau kolom komentar media sosial. Setiap tahun, Apple selalu berhasil bikin orang menunggu. Rela begadang nonton peluncuran. Rela debat panjang soal kamera, chipset, sampai warna baru yang sebenarnya “gitu-gitu aja”.
Yang menarik, Apple bukan perusahaan yang pertama kali bikin smartphone. Bahkan untuk urusan inovasi teknologi, mereka sering kali bukan yang paling depan. Fitur-fitur canggih biasanya sudah lebih dulu hadir di brand lain. Layar lipat? Android duluan. Fast charging super ngebut? Juga Android. Kamera dengan zoom ekstrem? Sama.
Tapi entah kenapa, Apple tetap menang. Tetap relevan. Tetap jadi simbol “kelas tertentu” di dunia gadget. Pertanyaannya sederhana tapi nagih: kenapa bisa begitu?
Rasa penasaran itu akhirnya membawaku ke satu buku yang cukup sering dibahas belakangan ini, karya Morgan Housel berjudul Same as Ever. Di buku itu, ada satu benang merah yang kuat: hal-hal yang paling penting dalam hidup, bisnis, dan kesuksesan seringkali justru adalah hal-hal yang tidak pernah berubah. Dan salah satunya adalah fakta tentang cerita terbaik hampir selalu jadi pemenang.
Apple dan Cerita yang Lebih Kuat dari Teknologi
Di dalam Same as Ever, ada satu kisah tentang seorang penulis yang bukunya meledak jadi mega best seller. Padahal, dia bukan ahli sejarah, bukan arkeolog, dan jelas bukan orang pertama yang menulis tentang sejarah manusia. Topiknya pun bukan hal baru.
Nama penulis itu Yuval Noah Harari. Bukunya berjudul Sapiens.
Sebelum Sapiens terbit, sudah ada ribuan buku yang membahas sejarah manusia. Bahkan banyak yang ditulis oleh akademisi dengan riset jauh lebih dalam. Tapi kenapa justru Sapiens yang dibaca jutaan orang di seluruh dunia?
Jawabannya bukan karena isinya paling lengkap. Bukan juga karena datanya paling mutakhir. Jawabannya sederhana tapi sering diremehkan: Harari bisa bercerita dengan sangat baik. Ia mengemas sejarah manusia menjadi narasi yang terasa dekat, relevan, dan menggugah rasa ingin tahu. Pembaca tidak merasa sedang membaca buku sejarah, tapi seperti diajak ngobrol panjang tentang siapa diri kita sebenarnya.
Cerita yang bagus mengalahkan kompleksitas. Narasi yang kuat berhasil mengalahkan detail teknis.
Dan di titik ini, rasanya mulai kelihatan benang merahnya dengan Apple.
Apple Tidak Menjual Spesifikasi, Mereka Menjual Cerita
Kalau dibandingkan di atas kertas, spesifikasi iPhone sering kali “kalah” dari kompetitor. RAM lebih kecil. Baterai tidak sebesar flagship Android. Fast charging juga biasa saja. Bahkan beberapa fitur yang dianggap “baru” oleh Apple, sebenarnya sudah lama ada di perangkat lain.
Tapi Apple hampir tidak pernah menjual produknya lewat spesifikasi. Mereka jarang teriak soal angka. Yang dijual adalah cerita.
Cerita tentang kemudahan hidup. Cerita tentang pengalaman yang mulus. Cerita tentang bagaimana sebuah perangkat “just works”. Dari iklan sampai presentasi produk, yang ditonjolkan bukan chip A-series dengan arsitektur sekian nanometer, tapi momen-momen sederhana: ambil foto anak, edit video dengan lancar, kirim file tanpa ribet, atau bekerja dari mana saja dengan nyaman.
Apple paham betul satu hal yang tidak pernah berubah: kebanyakan orang tidak peduli teknologi sedalam itu. Yang dicari adalah rasa aman, kenyamanan, dan identitas.
Konsistensi adalah Senjata Rahasia
Hal lain yang jarang dibicarakan tapi sangat penting adalah konsistensi. Apple sangat jarang melakukan perubahan ekstrem yang bikin penggunanya kaget. Desain iPhone berubah pelan-pelan. Sistem operasi berevolusi tanpa memutus kebiasaan lama. Ekosistem dijaga ketat agar tetap familiar.
Di dunia yang berubah cepat, konsistensi justru jadi punya nilai mahal.
Banyak brand berlomba-lomba terlihat paling inovatif, paling beda, paling futuristik. Tapi sering lupa satu hal: manusia tidak suka perubahan yang terlalu drastis. Kita suka peningkatan, tapi tetap ingin merasa “di rumah”.
Apple memahami ini sejak lama. Mereka tidak mengejar semua tren. Mereka memilih tren yang sejalan dengan cerita besar yang ingin dibangun. Sisanya? Dibiarkan lewat.
Identitas itu Lebih Penting dari Fitur
Menggunakan produk Apple sering kali bukan sekadar soal fungsi. Ada identitas yang melekat. Ada rasa menjadi bagian dari “ekosistem”. Ada kebanggaan yang, mau tidak mau, ikut terbentuk.
Ini bukan soal eksklusivitas murahan. Ini soal narasi yang dibangun puluhan tahun. Apple berhasil menempatkan dirinya sebagai brand yang “berbeda”, bahkan sejak era iklan legendaris “Think Different”.
Sekali lagi, ini bukan hal baru. Cerita tentang identitas sudah dipakai sejak manusia pertama kali berdagang. Tapi Apple mengeksekusinya dengan sangat rapi dan konsisten.
Hal-Hal yang Tidak Pernah Berubah
Dari Apple, dari Sapiens, dan dari Same as Ever, ada satu pelajaran penting yang terasa relevan ke mana-mana. Baik itu bisnis, karier, bahkan kehidupan pribadi. Semuanya tidak berubah. Semuanya hanyalah siklus yang berputar, di mana optimisme dan pesimisme berjalan bersamaan.
Teknologi akan berubah. Platform akan berganti. Tren datang dan pergi. Tapi manusia tetap manusia. Kita tetap menyukai cerita. Tetap terhubung dengan emosi. Tetap memilih sesuatu yang terasa “klik”, meskipun tidak selalu paling canggih.
Apple tidak menang karena selalu paling cepat. Mereka menang karena memahami hal-hal yang tidak pernah berubah dalam diri manusia.
Dan mungkin, itu juga pengingat buat siapa pun yang sedang membangun sesuatu. Mau itu produk, karya, atau personal brand. Kita tidak selalu harus jadi yang pertama. Tidak selalu harus paling mutakhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana bercerita, bagaimana membangun makna, dan bagaimana tetap konsisten pada hal-hal dasar yang memang tidak pernah berubah.
Pada akhirnya, cerita terbaik hampir selalu menang. Dan Apple adalah bukti nyatanya.
Selamat tahun baru 2026. Sehat selalu, bahagia selalu. Salam hangat.
Sumber rujukan:
- Housel, Morgan. Same as Ever: A Guide to What Never Changes. New York: Portfolio/Penguin, 2023
- https://medium.com/@oluodoayomide/apples-storytelling-strategy-how-it-sells-experiences-not-just-products-8bbf446b9ab1
- https://www.psychologs.com/the-psychology-of-consistency/?srsltid=AfmBOooIuxNwoSAsnA7bCXnlLuBRPS0MqlY8rGsd7OPaRR_3CACMtpVY
0 Komentar
Anda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.
Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.