| Nangghala, instrumen musik hasil perpaduan bajak sawah dan perahu kecil karya Ali Gardy Rukmana. |
Mulai bermusik profesional sejak tahun 2014, kecintaannya pada eksplorasi bunyi dan instrumen tradisional membawanya terlibat sebagai salah satu komposer muda dalam Katabunyi Forum 2022, sebuah ruang prestisius bagi para kreator musik eksperimental di tanah air.
Ungkapan Ali itu awalnya terdengar seperti definisi umum yang sering kita baca di buku seni budaya. Tapi setelah melihat langsung karya terbarunya, saya sadar: bagi Ali, musik bukan sekadar bunyi. Musik adalah cara membaca lanskap, tradisi, bahkan alat-alat yang selama ini hanya kita anggap benda kerja.
Nama instrumen itu: Nangghala.
Bukan gitar, bukan kecapi, bukan pula alat petik yang biasa kita temui di etalase toko musik. Nangghala lahir dari persilangan yang nyaris tak terpikirkan: rangka bajak sawah dan lambung perahu kecil. Sebuah perpaduan agraris dan maritim yang bukan hanya unik secara visual, tapi juga sarat makna.
Ungkapan Ali itu awalnya terdengar seperti definisi umum yang sering kita baca di buku seni budaya. Tapi setelah melihat langsung karya terbarunya, saya sadar: bagi Ali, musik bukan sekadar bunyi. Musik adalah cara membaca lanskap, tradisi, bahkan alat-alat yang selama ini hanya kita anggap benda kerja.
Nama instrumen itu: Nangghala.
Bukan gitar, bukan kecapi, bukan pula alat petik yang biasa kita temui di etalase toko musik. Nangghala lahir dari persilangan yang nyaris tak terpikirkan: rangka bajak sawah dan lambung perahu kecil. Sebuah perpaduan agraris dan maritim yang bukan hanya unik secara visual, tapi juga sarat makna.
Nangghala sendiri merupakan istilah lokal (Bahasa Madura) yang sangat erat kaitannya dengan dunia pertanian. Kata tersebut bisa bermakna alat pembajak sawah tradisional yang menggunakan kerbau atau sapi sebagai motor penggeraknya. Kata tersebut juga bisa bermakna kegiatan penyiapan tanah untuk kemudian ditanami komoditas pertanian. Harapannya, tanah yang di nangghala bisa jadi subur dan gembur.
Ali menjelaskan dengan gaya khasnya yang tenang namun penuh imajinasi:
Kalimat itu mungkin terdengar puitis, tapi memang itulah cara Ali bekerja. Ia tidak sekadar membuat alat musik; ia seperti merakit cerita yang bisa dipetik menjadi suara.
Ali menjelaskan dengan gaya khasnya yang tenang namun penuh imajinasi:
“Nangghala adalah instrumen yang saya ciptakan dari pertemuan dua pengetahuan tradisi—antara teknologi pembajak sawah dan konstruksi perahu kecil. Tubuh bajak menjadi rangka, sementara lambung perahu berfungsi sebagai tabung resonansi. Ia menyatukan gerak membelah tanah dan mengarungi laut.”
Kalimat itu mungkin terdengar puitis, tapi memang itulah cara Ali bekerja. Ia tidak sekadar membuat alat musik; ia seperti merakit cerita yang bisa dipetik menjadi suara.
| Naskah penjelasan tentang proses kreatif di balik pembuatan Nangghala oleh Ali Gardy Rukmana. |
Bagi Ali, Nangghala adalah representasi dari perjalanan itu. Bajak yang biasa membelah tanah kini “berlayar” sebagai resonansi bunyi. Perahu yang biasanya membawa hasil laut kini “mengantar” nada. Dua fungsi lama dipelintir menjadi satu fungsi baru: musik.
Di sinilah saya melihat bagaimana tradisi tidak harus selalu dipajang dalam bentuk lama. Ia bisa dibongkar, dipinjam, lalu dirakit ulang menjadi sesuatu yang tetap berakar tapi terasa segar. Nangghala bukan nostalgia, instrumen ini adalah transformasi.
Pertemuan saya dengan Ali sendiri terjadi secara tak sengaja, dan jujur saja, cukup menghibur. Malam itu Ali sedang menjamu seorang musisi tamu dari Belgia. Sebagai komposer yang karyanya sudah diputar di berbagai forum internasional, saya membayangkan Ali pasti fasih ngobrol dalam bahasa Inggris. Minimal “How are you?” atau “Nice to meet you.”
Ternyata saya salah besar.
Ali benar-benar tidak bisa bahasa Inggris. Sama sekali. Nol. Alhasil, malam itu saya mendadak menjadi translator dadakan, menghubungkan obrolan seorang komposer kelas dunia dengan tamu asingnya.
Ironis? Sedikit. Lucu? Banget.
Bayangkan saja: orang yang bisa “berbicara” melalui nada sampai lintas negara, justru kesulitan menyebut satu kalimat Inggris pun. Tapi mungkin di situlah keindahannya. Bahasa musik memang tidak butuh grammar. Nada tidak perlu tenses. Bunyi tidak mengenal TOEFL.
Saya sempat berpikir sambil tertawa kecil malam itu: mungkin saat Ali tampil di panggung internasional nanti, ia tetap akan “kesulitan” berbicara secara verbal. Tapi begitu Nangghala dipetik, semua orang akan langsung paham pesan yang ia bawa. Karena pada akhirnya, musik selalu punya cara sendiri untuk menjembatani apa yang tak sanggup diucapkan kata.
Buat kalian yang dengerin musiknya Ali Gardy, bisa banget langsung nonton di YouTube Nusantara Rhytem. (*)

.jpg)
22 Komentar
Pembahasan Nangghala terasa kaya makna karena bukan sekadar musik, tapi juga identitas, ritus, dan cara masyarakat menjaga hubungan dengan tradisi serta ruang hidupnya
BalasHapusKarena musik adalah sekumpulan bunyi yang berirama.
HapusPenjelasan yang informatif. Btw belum tahu nangghala itu apa. Punya ciri khas ya ini apalagi berkaitan dengan tradisi...
BalasHapusBetul, Nangghala sendiri adalah istilah pertanian yang berarti proses penyiapan lahan supaya subur dan gembur. Kata itu juga kadang dimaknai sebagai alat pembajak sawah tradisional bertenaga hewan ternak.
HapusNangghala digambarkan bukan hanya sebagai bunyi, tetapi sebagai jembatan antara aktivitas sehari-hari, alam, dan ekspresi budaya yang terus berkembang.
BalasHapusSebuah hasil dari pemikiran, perenungan, dan observasi yang mendalam.
HapusBaru tahu ada Nangghala dan musisi Ali Gardy penciptanya. Asli, keren ini!
BalasHapusSalut dengan Beliau yang meski kesulitan berbicara secara verbal tapi bisa bicara dengan bahasa musik yang universal, yang mampu menyampaikan emosi dan makna secara intuitif tanpa kata dan menyatukan perbedaan latar belakang manusia
Ternyata berasal dari Jawa timur dengan memanfaatkan alat lokal yang banyak di daerah pedesaan bisa menghasilkan alat musik yang otentik
BalasHapusTerimakasih artikenya jadi bikin tau kalo ada musisi Aligardy putra Situbondo sebagai pencipta Nangghala, yang sudah go public. Aku sampe liat video di youtube karena pingin tau musiknya.. Keren, menginspirasi, dan bikin bangga!
BalasHapusMembaca kisah Ali Gardy Rukmana dan Nangghala ini membuat saya sadar bahwa kreativitas memang tidak punya batas, bahkan bahasa sekalipun. Salut bagaimana beliau menggabungkan filosofi agraris dan maritim Situbondo menjadi sebuah instrumen yang sarat makna.
BalasHapusMelihat bajak sawah dan perahu "berkolaborasi" menghasilkan nada adalah bentuk pelestarian tradisi yang sangat segar dan jauh dari kata membosankan. Ternyata benar ya, musik itu bahasa universal—nggak butuh skor TOEFL untuk bisa menyentuh hati pendengarnya.
Dan ungkapan Mas Ali juga masih membekas di saya. "Musik adalah sekumpulan bunyi yang berirama,"
HapusAlat musik Nangghala , baru pertama mendengar namanya, ternyata terciptanya juga unik ya mengambil perpaduan ladang dan laut, seni itu luas..dan penuh makna
BalasHapusSeru banget lihat bagaimana alat nangghala nyambungin tradisi pertanian dan musik modern, bikin tradisi jadi terasa hidup lagi...
BalasHapusSaya justru baru tahu Nangghala lho. Ternyata tradsi ini hidup di kota situbondo yang dekat dengan kampung halaman saya.
BalasHapusDan salut sekali dengan Mas Ali yang dengan kreatifitasnya ini, mengakat provinsi situbondo dan tradisinya dikenal luas.
Dan suka sekali dengan frasanya bahwa musik itu tak perlu tenses untuk bisa dinikmati. Nice.. ❤️❤️❤️
Keren ya. Udah lama juga ternyata berkecimpung di dunia musik. Apalagi mulai bermusik profesional sejak tahun 2014, berpengalaman banget pastinya.
BalasHapusMembuktikan kalau kecintaannya pada eksplorasi bunyi dan instrumen tradisional membawanya terlibat sebagai salah satu komposer muda dalam Katabunyi Forum 2022. Luar biasa...
sebuah ruang prestisius bagi para kreator musik eksperimental di tanah air. Salut pokoknya
Aku punya kenalan guru musik yang selalu ngajakin anak2 bermusik bukan pakai alat musik, meliankan pakai alat dapur apa aja yang ada di rumah masing2.
BalasHapusNangghala ini unik juuga ya bisa memadukan pembajak sawah dengan perahu yang menghasilkan bunyi2an unik. Penemunya bisa diakui nih punya kecerdasan musik yang bagus.
Btw musik emang salah satu alat komunikasi terbaik, kadang bahkan orang bisa merasakan feelnya tanpa harus paham arti/ bahasanya ya :D
Baru tahu lho ada Nangghala, perpaduan teknologi pembajak sawah dan konstruksi perahu kecil. Meskipun pada kenyataannya Ali ngga bisa bakhasa selain bahasa ibunya, tapi dia bisa merangkul orang di seberang benua. Karena music selalu punya cara sendiri menghubungkan apa yang tak terucap kata.
BalasHapusMakanya musik dianggap bahasa universal, ya. Karena bahasa percakapan bisa berbeda-beda. Dan, mungkin kita juga gak paham dengan bahasa daerah atau negara lain. Tapi, musik bisa menyatukan banyak orang.
BalasHapusArtikel ini nambah pengetahuanku banget. Aku jadi tahu tentang Ali dan alat musik ciptaannya. Sebuah alat musil yang unik dan penuh unsur lokalitas.
BalasHapusMenarik sekali terkait alat musik Nangghala ini. Ternyata beneran transformasi ya. Penggabungan dari dua basic, menjadi sebuah alat musik yang sangat indah, mendunia. Keren banget. Semoga kedepannya Alinkembali belajar bahasa Inggris, setidaknya saat opening dia bisa menyapa penonton nya. Salut sekali sih sama gebrakan yang ia buat, kreatif dan mencintai budaya akar.
BalasHapusSekarang sudah bisa dengan sigap pakai Google Translate, sih. Begitu katanya, kak. ~hehe
HapusNangghala itu unik banget, karena lahir dari keseharian masyarakat yang akrab dengan sawah dan laut. Dari bajak dan perahu kecil bisa muncul bunyi yang punya karakter sendiri, seolah-olah menceritakan kehidupan mereka lewat nada. Ada sisi sederhana, tapi justru di situ letak kekuatannya musik yang tumbuh dari akar budaya dan pengalaman hidup, bukan sekadar pertunjukan.
BalasHapusAnda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.
Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.