SARJANA COVID
, begitulah panggilan bagi saya dan kawan-kawan yang kebetulan lulus di tengah merebaknya pandemi COVID-19 alias corona. Panggilan satire, sekaligus pengingat atas momen penting perjalanan hidup ini.

Merebaknya covid memanglah sebuah momen menyedihkan. Segala sesuatu harus dilaksanakan dengan serba terbatas. Aktivitas luar ruangan sangat dibatasi, bahkan sulit dilakukan. Namun, tanpa kehadiran covid-19, mungkin saya tidak akan pernah menjadi seorang sarjana covid atau bahkan seorang digital savvy (self-proclaimed) seperti hari ini. Bekerja secara digital, fleksibel dari mana saja dan tetap memperoleh bayaran yang layak untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebetulnya, saya pernah merasa untuk berhenti dan menyerah karena kondisi covid yang tak kunjung membaik. Kala itu, ketika covid tengah berada di masa puncaknya. Saat kecemasan dan keterbatasan yang memenuhi pikiran, sebuah pikiran untuk menyerah sempat terlintas dalam kepala.

"Kenapa gak berhenti saja? Ambil cuti terminal beberapa semester menunggu semuanya kembali seperti sediakala?" begitu lintas pikiran saya.

Harus berkuliah secara daring karena keterbatasan aktivitas fisik dan protokol kesehatan berlaku benar-benar terasa melelahkan. Belum lagi mempersiapkan materi dan data untuk tugas akhir serta seabrek kebutuhan administrasinya. Mental dan tenaga benar-benar terkuras kala itu. 

Beruntung, keputusan untuk menyerah yang sempat terlintas tidak saya pilih dan terus berjuang hingga akhir. Di tengah keterbatasan saya melakukan semuanya semaksimal mungkin. Melakukan riset tugas akhir, berkomunikasi dengan dosen pembimbing, mengurus berbagai kebutuhan administrasi, serta terkadang mencari peluang pekerjaan agar bisa langsung bekerja setelah lulus. Semuanya saya lakukan secara digital dengan bantuan laptop kesayangan dan koneksi internet dari teathering handphone.

Awalnya memang cukup sulit. Terbiasa melakukan berbagai hal secara langsung dan tiba-tiba dipaksa beralih ke digital memang cukup memakan waktu untuk beradaptasi. Namun, akhirnya karena terbiasa  semuanya menjadi mudah dan dapat dilakukan dengan cepat. Benar, semuanya menjadi mudah karena terbiasa. Begitu juga dengan mencintaimu.

Perjuangan sekuat tenaga di tengah keterbatasan pandemi covid membuat saya akhirnya lulus tepat waktu. Meskipun harus puas dengan prosesi wisuda secara daring, saya tetap bangga dan mengingatnya sebagai momen penting dalam kehidupan. 

Melek Teknologi dan Menjadi Digital Savvy Karena COVID-19


“Satu pintu bila tertutup, sepuluh pintu lagi kan terbuka.”


Tanpa covid-19, saya mungkin tidak akan semelek teknologi hari ini. Tanpa covid-19, saya juga mungkin tidak akan semultitasking hari ini. Tidak akan pernah menjadi seorang digital savvy yang kemudian memperoleh pekerjaan dan hidup dengan penghasilan dari pekerjaan yang dilakukan secara daring. 

Ilustrasi kondisi perekonomian Nasional yang melesu selama pandemi.(Sumber: Freepik)

Kondisi ekonomi nasional benar-benar seram dan mengerikan selama covid melanda. Panic buying dan kondisi perekonomian terus melesu akibat pandemi. Sebagai sarjana covid, bayang-bayang menjadi pengangguran benar-benar memenuhi kepala. "Sudah lelah kuliah daring, waktu lulus masih susah cari pekerjaan karena pandemi," begitu seloroh kami kala itu. 

Kementerian Keuangan mencatat pandemi Covid-19 memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap perekonomian Indonesia, mulai dari perubahan rantai pasok dunia hingga penurunan investasi asing ke Indonesia. Penurunan tersebut dapat dilihat melalui perlambatan pertumbuhan ekonomi yang turun dari 5,02 Persen di tahun 2019 menjadi 2,97 Persen pada tahun 2020. 

Perlambatan pertumbuhan ekonomi juga diikuti dengan peningkatan jumlah pengangguran, yang menurut data Bank Dunia, meningkat dari 5,28 Persen pada tahun 2019 menjadi 7,07 Persen pada tahun 2020. Sementara itu, Kementerian ketenagakerjaan sendiri melaporkan ada 2,9 Juta karyawan yang di PHK (per Mei 2020), sedangkan KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) justru lebih tinggi, ada 6,4 juta karyawan di PHK selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Infografis data pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi covid-19.(Infografis: Katadata)

Kendati kondisi ekonomi terus melesu dan kondisi sulit terus berlanjut selama pandemi, saya terus menjaga optimisme dalam hati. Bagi saya, saat satu pintu tertutup, maka pintu lain akan terbuka. Begitulah pandangan saya terhadap kondisi selama pandemi. 

Optimisme itu ternyata bersambut hal baik. Tak berselang lama dari waktu kelulusan, lamaran saya di sebuah start-up di ibukota diterima. Di tengah pesimisme akibat pandemi, start-up memperoleh momentum bertumbuh pesat. 

Peralihan paradigma masyarakat dari tradisional/konvensional menuju digital membuat start-up dapat bertahan dan berkembang pesat selama pandemi. Menghadirkan jutaan lahan pekerjaan baru yang tersedia secara digital bagi masyarakat. Hadirnya banyak peluang pekerjaan daring/jarak jauh atau disebut remote working juga menjadi salah satu imbas dari momentum perkembangan Start-up.

Singkat cerita, saya berhasil memperoleh pekerjaan sebagai copywriter untuk sebuah start-up berbasis di ibukota. Pekerjaannya sesuai dengan passion di bidang tulis menulis, kerjanya fleksibel bisa darimana saja atau bahasa populernya remote working. 

Menjadi Copywriter: Hidup Akrab dengan Layar Komputer


“Love what you do, Do what you love" -Wayne W. Dyer


Seorang copywriter bertugas menulis konten kreatif dan persuasif untuk berbagai konten dan media perusahaan tempat bekerja. Bergabung selama pandemi, saya bekerja sebagai copywriter secara daring atau disebut remote work.

Melakukan riset dan analisis, mengembangkan konsep dan ide, menulis konten, hingga melakukan editing dan revisi adalah beberapa tugas seoragng copywriter. Benar, semuanya dilakukan di depan layar komputer, membuat hidup semakin akrab dengan layar komputer. Berkat passion dan ketertarikan terhadap dunia tulis menulis, saya dapat menikmati pekerjaan sebagai copywriter dan menikmati rutinitas di depan layar komputer. 

Menjalani keseharian sebagai copywriter membawa banyak perubahan dalam hidup saya. Memang, screentime di depan layar bertambah, namun hal itu juga beriringan dengan peningkatan skill menulis. Tulisan menjadi lebih baik dari hari ke hari. Semakin renyah, semakin nyaman untuk dibaca. 

Melakukan riset dan analisis untuk setiap konten yang diproduksi juga menambah wawasan. Tidak hanya itu, kewajiban untuk menyunting dan mengecek naskah sebelum diterbitan membuat saya semakin teliti dan meminimalisir typo (salah ketik) dalam naskah. 

Selain perubahan positif yang dirasakan, bekerja sebagai copywriter secara remote membuat saya bukan sekedar self-proclaimed digital savvy. Kenapa status itu sangat penting, karena kemampuan dan kecakapan digital saya akhirnya diakui setelah perjalanan panjang. 

Digital Savvy: Cakap dan Akrab dengan Digitalisasi


Digital savvy

Digital Savvy adalah istilah yang menggambarkan seseorang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang luas dalam menggunakan teknologi digital. Istilah ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mampu memahami dan memanfaatkan teknologi digital untuk tujuan tertentu dengan baik

Terdapat beberapa karakeristik yang harus dimiliki oleh seorang digital savvy, antara lain:

  • Pengetahuan yang luas tentang teknologi digital, seperti perangkat keras, perangkat lunak, dan internet.
  • Keterampilan yang baik dalam menggunakan teknologi digital, seperti mengoperasikan komputer, menggunakan aplikasi, dan mengakses informasi.
  • Kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi digital.

Menjadi seorang copywriter sekaligus digital savvy memang menyenangkan. Saya dapat bekerja secara fleksibel darimana saja kapansaja. Namun, seiring meningkatnya screen time saya mulai merasakan beberapa masalah pada indra penglihatan. Kelopak mata suka terasa berat, mata sepet dan perih serta terkadang sakit kepala karena terlalu lama menatap layar komputer. 

Awalnya, kondisi tersebut tidak terlalu saya risaukan. Ketika gejala itu terasa, saya hanya meneteskan obat tetes mata dan kembali melanjutkan pekerjaan di depan layar komputer. Begitulah saya mengatasi gejala mata karena meningkatnya screentime di depan layar komputer. Namun, lama-kelamaan efeknya semakin terasa. Hingga, ibu mulai menyadari keanehan di mata saya.

Matamu kok merah terus belakangan. Kurang tidur, nak? tanya Ibu ketika berkunjung ke kamar mengingatkan untuk makan.
Ndak tau, sudah ditetesi obat tapi masih suka merah, saya menjawab.
Coba periksakan saja. Besok kan libur, saran Ibu yang langsung saya iyakan.

Singkat cerita, saya akhirnya membuat janji temu dan memeriksakan kesehatan mata pada dokter mata terdekat. Beberapa tes dan kuisioner perlu saya lewati untuk memperoleh diagnosa kondisi kesehatan mata. Kemudian, saya juga sekaligus melakukan tes dengan Auto Refrakto Keratometer (ARK) untuk mengukur kelengkungan kornea. Siap siaga, andaikata harus mengenakan kacamata di kemudian hari.


Angka-angka yang ditunjukkan oleh Auto Refrakto Keratometer cukup membuat saya kaget dan gelisah. Beruntung, dokter menyadari bahasa tubuh dan menjelaskan hasil diagnosis kesehatan mata saya. 

Singkat cerita, saya didiagnosa mengalami sindrom mata kering. Salah satu penyebabnya adalah  terlalu banyak menatap layar komputer dan elektronik serta kurang beristirahat.

“Penggunaan komputer dapat memberikan efek yang buruk terhadap kesehatan individu penggunanya. Salah satunya adalah gangguan mata akibat penggunaan mata yang terus menerus menatap monitor komputer.” dokter mulai menjelaskan hasil diagnosanya.

“Dari diagnosa, kondisi mata bapak mengalami mata kering. Beruntung, bapak rutin pakai obat tetes sehingga kondisinya tidak berkembang. Ini resep dan beberapa tips untuk menjaga kesehatan mata kedepannya,” penjelasan dokter membuat perasaan saya tenang.

Sindrom Mata Kering: Gejala, Penyebab dan Bahayanya


Sindrom mata kering atau Dry Eye Syndrome adalah kondisi ketika mata tidak mendapatkan pelumasan yang cukup dari air mata. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman di mata, bahkan bisa merusak lapisan bening di bola mata yang berakibat pada gangguan penglihatan.

Air mata terdiri dari air, garam, minyak, lendir, dan protein. Fungsinya adalah untuk melumasi dan membuat permukaan mata tetap halus. Air mata juga berperan melindungi mata dari benda asing, unsur yang mengganggu, atau kuman penyebab infeksi.

Normalnya, air mata akan mengaliri permukaan mata ketika mata berkedip. Akan tetapi, pada mata kering, produksi atau komposisi air mata mengalami gangguan. Akibatnya, permukaan mata tidak terlumasi dengan baik. Kondisi ini menimbulkan sindrom mata kering atau keratoconjunctivitis sicca.

Beberapa penyebab sindrom mata kering adalah penurunan produksi air mata dan peningkatan penguapan air mata. Beberapa pemicunya bisa berupa terlalu banyak beraktivitas di ruang be-AC, jarang mengedipkan mata karena terlalu fokus dalam suatu aktivitas, penggunaan lensa kontak dalam jangka waktu panjang serta penguapan air mata yang berlebih juga menjadi salah satu pemicu gejala mata kering.



Klasifikasi  penyakit mata kering berdasarkan etiopatogenesis.(Sumber: Victor Nugroho Wijaya Elvira/CONTINUING MEDICAL EDUCATION) 

Selain itu, meningkatnya aktivitas digital masyarakat akibat pandemi dan terlalu lama menatap layar HP juga dapat menyebabkan munculnya sindrom mata kering. 

Saat menatap layar HP, kita cenderung kurang berkedip. Berkedip berfungsi untuk melumasi permukaan mata dengan air mata. Jika kita kurang berkedip, maka permukaan mata akan menjadi kering dan iritasi sehingga menjadi pemicu awal gejala mata kering.

Selain itu, layar HP dan elektronik memancarkan cahaya biru atau blue light dapat mengganggu produksi air mata. Ditambah dengan pencahayaan yang tidak sesuai ketika menatap layar HP di ruangan yang gelap, maka mata akan bekerja lebih keras untuk menyesuaikan fokus. Hal ini juga dapat menyebabkan mata kering.

Gejala Awal Sindrom Mata Kering


Terdapat beberapa gejala dan indikasi awal mata kita mengalami sindrom mata kering. Berikut adalah beberapa diantaranya yang bisa kita gunakan sebagai self-diagnosis awal dan menentukan apakah kita membutuhkan perawatan medis atau cukup dengan penanganan sederhana. Gejala-gejala tersebut, antara lain:

  • Mata terasa gatal, perih, atau panas
  • Mata terasa berat atau lelah
  • Penglihatan menjadi kabur
  • Mata berair

Peningkatan Screeen Time dan Dampak Sinar Biru Terhadap Kesehatan Mata



Sebagai Sarjana Covid dan digital savvy, yang kemudian juga bekerja secara digital, saya menyadari bahwa screen time saya mengalami peningkatan pesat. Dari awalnya hanya menatap layar komputer atau HP untuk berbalas pesan dan (sedikit) scroll sosial media, kini menjadi sebuah keharusan untuk mengetahui trend dan menganalisisnya. 

Sebuah studi global mengungkap bahwa anak-anak sekolah dasar mengalami peningkatan waktu layar (screen time) paling signifikan di antara kelompok usia lainnya selama pandemi Covid-19. Mereka rata-rata menghabiskan ekstra satu jam lebih 20 menit lebih lama di depan layar setiap hari.

Peningkatan waktu layar (screen time) harian memang ditemukan paling banyak pada anak berusia antara enam dan 10 tahun. Meski begitu, menurut Anglia Ruskin University yang memimpin analisis studi global, peningkatan signifikan justru terlihat di antara semua kelompok umur termasuk orang dewasa (Mabruroh, 2022).

Setelah itu, inisght dan trend yang sudah saya pelajari itu harus diproses menjadi konten untuk kemudian dipublikasikan di media tempat saya bekerja. Benar-benar peningkatan screen time yang luar biasa. 

Peningkatan screen time itu tentu membuat saya mulai memikirkan kondisi kesehatan mata saya. Terlebih, sebelumnya sudah pernah didiagnosa dengan sindrom mata kering. Alhasil, saya mulai melakukan riset kecil dan mencari tau lebih lanjut tentang dampak peningkatan screen time serta paparan berkelanjutan dari cahaya biru layar elektronik. Ternyata, menghabiskan banyak waktu didepan komputer dapat berimplikasi buruk terhadap kesehatan mata jika tidak dicegah sejak dini.

Dampak buruk paparan cahaya biru secara terus menerus itu disebabkan oleh blue light yang tergolong sebagai high-energy visible light (HEV light). Sinar tersebut memiliki spektrum gelombang yang pendek sekitar 415 hingga 455 nm dan tingkat energi yang tinggi. Sementara, mata manusia pada umumnya sensitif terhadap 1 bagian dalam spektrum gelombang cahaya, yaitu visible light. Sehingga,  sinar biru sejatinya berbahaya bagi kesehatan manusia.

Digitalisasi dan trend remote working membuat banyak masyarakat mengalami peningkatan screen time yang signifikan.(Ilustrasi: Unsplash)

Blue light merupakan sinar biru yang dipancarkan oleh layar perangkat digital seperti TV LED, laptop, smartphone, tablet, dan perangkat gawai lainnya. Paparan secara terus menerus dari layar elektronik dan pola hidup tidak sehat tak hanya menyebabkan mata lelah dan kering. Namun, juga menyebabkan beberapa implikasi lain, seperti:

Merusak siklus jam tidur. Paparan cahaya biru yang berlebihan pada malam hari bisa menyebabkan terganggunya produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang muncul pada saat seseorang menjelang tidur di malam hari. Biasanya tubuh manusia memproduksi hormon melatonin dalam jumlah yang banyak pada waktu-waktu tertentu, seperti malam hari beberapa jam sebelum tidur dan mencapai puncaknya saat tengah malam.

Kelelahan pada mata. Menatap layar gawai terlalu lama bisa menyebabkan ketegangan pada mata yang bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mata. Alasannya karena bermain gawai selama lebih dari 20 jam bisa menurunkan jumlah kedipan mata. Hal ini memicu kelelahan pada mata yang disebut dengan computer vision syndrome (CVS). Gejala CVS biasanya ditandai dengan penglihatan kabur atau ganda, peka terhadap cahaya silau, sulit berkonsentrasi, sulit membuka mata, sakit kepala, serta nyeri di leher, bahu dan punggung.

Hilangnya kemampuan melihat. Layar smartphone memancarkan sinar biru (blue light) yang berdampak buruk bagi mata. Paparan langsung sinar biru dapat menyebabkan kerusakan retina. American Macular Degeneration Foundation memperingatkan bahwa kerusakan retina yang disebabkan sinar biru dapat menyebabkan degenerasi makula. Hal ini menyebabkan hilangnya penglihatan sentral, yakni kemampuan untuk melihat apa yang ada di depan kita. 

Bahaya Mata Kering Jika Tidak Segera Diobati


Kondisi umum dry eye syndrome di seluruh dunia 5,5 persen hingga 33,7 persen, dengan faktor risiko termasuk usia 50 tahun ke atas, operasi refraktif, dan perempuan. Sebuah penelitian juga menunjukkan, Sebuah peneltiain tentang Dry eye syndrome pada karyawan kantor di Jepang yang menggunakan komputer memiliki prevalensi 10,1 persen pada laki-laki dan 21,5 persen pada perempuan, dan untuk gejala berat dry eye syndrome terdapat pada 26,9 persen dan 18,7 persen dari subjek laki-laki dan perempuan. 

Risiko terjadinya dry eye syndrome meningkat pada durasi penggunaan komputer lebih dari 4 jam dalam sehari. 

Prevalensi atau tingkat penyebaran adalah jumlah kasus hidup dalam satu periode waktu tertentu. Prevalensi memungkinkan kita untuk menentukan kemungkinan seseorang menderita penyakit.

Menurut penelitian oleh Lee, dkk di Indonesia, dari 1.058 sampel penelitian, prevalensi dry eye syndrome adalah 27,5 persen. Distribusi gejala dry eye syndrome pada usia 21-29 ditemukan 19,2 persen dan usia diatas 60 tahun sebanyak 30 persen.

Apabila mata kering tidak diatasi akan menyebabkan abrasi kornea berulang atau robekan dalam yang persisten dan dapat menyebabkan jaringan parut kornea yang mengganggu ketajaman penglihatan dan mengurangi kualitas hidup yang terkait pada aktivitas yang terfokus pada penglihatan seperti membaca, mengemudi, penggunaan komputer dan dampak buruk pada mereka yang menjalani pengangkatan katarak atau prosedur refraktif. 

Cegah Mata Kering dan Jaga Kesehatan Mata dengan Insto Dry Eyes




Berbekal rekomendasi dari dokter, saya mulai membiasakan diri untuk rehat sejenak di tengah pekerjaan. Hal itu saya lakukan untuk menjaga kesehatan mata dan kadar air mata sehingga sindrom mata kering yang didiagnosa tidak berkembang semakin parah.

Selain beristirahat, kita dapat mencegah sindrom mata kering dengan menstimulasi dan memberi efek pelumas seperti air mata dengan obat tetes yang dapat dengan mudah dibeli di apotik terdekat.

Insto Dry Eyes menjadi pilihan saya untuk menjaga kesehatan mata dan menjaganya tetap lembab dan tidak kering.

#InstoDryEyes mengandung hydroxypropyl methylcellulose yang memberikan efek pelumas dan lembab seperti air mata sehingga dapat mengurangi rasa tidak nyaman ketika lapisan air mata berkurang, misalnya saat berada di tempat yang dingin atau karena menatap layar terlalu lama.

Untuk manfaat maksimal, gunakan Insto Dry Eyes sebanyak 1–2 tetes pada tiap mata, 3 kali sehari.

MENGAPA INSTO DRY EYES?



Ada beberapa alasan kenapa Insto Dry Eyes adalah pilihan terbaik untuk jadi #SolusiMataKering dan menjaga kesehatan mata. Berikut alasannya:  

  • Insto Dry Eyes mengandung bahan aktif yang bekerja memberikan efek pelumas seperti air mata untuk mengatasi mata kering.
  • Instro Dry Eyes juga mengandung bahan aktif yang dapat meringankan iritasi mata yang disebabkan oleh kekurangan produksi air mata.
  • Tersedia dalam ukuran 7,5ml. Bentuknya kecil, mudah dibawa kemana saja. Kepraktisan itu membuat Instro menjadi must have item banget untuk digital savvy dan sarjana covid seperti saya yang setiap hari berhadapan dengan layar komputer. 

Selain itu, Insto merupakan pionir edukasi kesehatan mata di Indonesia. Data menunjukkan 9 dari 10 orang Indonesia pernah mengalami iritasi mata, tetapi hanya 1 dari 9 orang yang menggunakan obat tetes mata ketika mata terkena iritasi. Prevalensi besar, namun penetrasi tetes mata di Indonesia masih rendah. Kondisi itu yang membuat Insto aktif mengkampanyekan edukasi kesehatan mata sejak tahun 2015 dengan tagline 'Buka Mata Buka Insto'. Dengan ‘Buka Mata Buka Insto’, Insto secara konsisten mengedukasi konsumen mengenai aktivitas apa saja dalam keseharian yang dapat menyebabkan iritasi mata dan apa solusi yang tepat untuk permasalahan mata tersebut, yaitu Insto.

Konsistensi dan edukasi kesehatan mata oleh Insto itu secara tidak langsung juga membuat Insto memiliki Brand Association yang kuat. Dimana, tanpa sadar kita menyebut obat tetes dengan nama 'Insto'. Alih-alih menyebutnya obat tetes mata. 

Sejalan dengan misi Combiphar, Insto turut berkomitmen untuk selalu menghadirkan produk-produk berkualitas dengan harga yang terjangkau, karena bagus tak harus mahal dan sehat itu untuk semua.

Tips Tambahan Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital


Selain menjaga kesehatan mata dengan Insto Dry Eyes, terdapat beberapa tips lain yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan mata di era digital. Poin pentingnya adalah mengubah pola bekerja kita dan memberikan waktu istirahat untuk mata di tengah kesibukan bekerja di depan layar komputer ataupun elektronik lainnya. Berikut beberapa tipsnya: 

  1. Istirahat Mata Secara Berkala. Sering-seringlah mengambil istirahat sejenak dari layar, minimal setiap 20-30 menit sekali. Selain itu, praktikkan aturan teknik  20-20-20: setiap 20 menit, fokuslah pada objek yang berjarak 20 kaki selama minimal 20 detik.
  2. Pengaturan Cahaya dan Kontras. Sesuaikan tingkat kecerahan dan kontras layar agar nyaman untuk mata. Menggunakan penutup layar atau filter cahaya biru juga dapat menjadi opsi untuk mengurangi radiasi cahaya biru yang dapat merusak mata.
  3. Sesuaikan Posisi Monitor yang Benar. Pastikan monitor berada pada tingkat mata atau sedikit di bawahnya, agar mata tidak perlu terlalu tinggi atau rendah saat fokus pada layar.
  4. Berkedip yang Cukup. Ingatlah untuk berkedip secara teratur saat bekerja di depan layar untuk menjaga kelembaban mata dan mencegah mata kering.
  5. Latihan Mata. Lakukan latihan mata ringan seperti melihat ke arah yang berbeda dan menggerakkan mata dalam pola tertentu untuk mengurangi ketegangan otot mata.
  6. Minum Air yang Cukup. Pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan cukup minum air, karena kekurangan cairan dapat menyebabkan mata kering.
  7. Jaga Pola Tidur. Pastikan Anda mendapatkan cukup tidur malam, karena kurang tidur dapat menyebabkan mata lelah dan kemerahan.
  8. Pilih Makanan Bergizi. Konsumsi makanan yang kaya akan nutrisi, terutama vitamin A, C, E, dan zinc, yang mendukung kesehatan mata.

_______________

DAFTAR RUJUKAN

Uchino M, Schaumberg DA, Dogru M, Uchino Y, Fukagawa K, Shimmura S, et al. Prevalence of dry eye disease among Japanese visual display terminal users. Ophthalmology. 2008;115(11):1982–8

Rouen PA, White ML. Dry eye disease: prevalence, assessment, and management. Home Healthc now. 2018;36(2):74–83.

Mabruroh. “Studi Global Ungkap Screen Time Meningkat Selama Pandemi, Ini Bahayanya.” Online. Republika Online, 5 Juli 2022. https://republika.co.id/share/rejtpq414.