Sebagai perantau yang telah menjalani kehidupan di kota jauh dari kampung halaman, setiap hari adalah perjalanan dan perjuangan penuh rasa rindu mendalam terhadap rumah. Menjadi perantau artinya juga menjadi pribadi yang mandiri. Mandiri secara finansial, kesehatan dan diri kita sendiri secara keseluruhan.

Rindu rumah atau homesick adalah hal akrab yang saya rasakan selama menjadi perantau. Ada saja momen kecil yang mengingatkan pada hangatnya rumah di kampung halaman. Ntah itu teman kantor tiba-tiba membawa bekal yang cukup familiar atau bahkan hal-hal kecil yang terjadi selama berkumpul dengan teman-teman. Rasa rindu itu semakin mengental, membawa kenangan hangat akan rumah dan kasih sayang orang tua.

Setiap kali hujan turun dengan deras, aroma tanah basah selalu mengingatkan saya pada kampung halaman yang hijau. Di kala itulah, kerinduan terhadap rumah menjadi begitu kental, terutama saat memikirkan masakan ibu yang selalu mengusik selera makan saya di tengah hujan yang sejuk.

Ibu saya adalah ibu-ibu kampung yang cukup kreatif dan pandai memasak. Ada saja masakan yang disajikan. Bahkan, sejak beberapa tahun lalu setelah saya menghadiahkan Ibu sebuah smartphone untuk menunjang pekerjaannya yang mau tidak mau harus beradaptasi secara digital karena covid-19. Siapa sangka, Ibu menjadi semakin kreatif karena keranjingan nonton tutorial masak di internet.

“Ibu masak apa hari ini, Pak?” tanya saya kepada Bapak seketika sampai di rumah dalam kepulangan terakhir.
“Ndak tau, yang pasti enak dan ndak atos (keras),” bapak tertawa. saya ikut tertawa. kami tertawa.

Sementara Bapak adalah tipikal yang suka menyantap apa saja. Rentang toleransi rasanya cukup luas. Selama ada nasi dan lauknya tidak keras pasti diminati oleh bapak saya. Sehingga, apapun yang Ibu masak pasti dimakan dan dinikmati sepenuhnya oleh Bapak. Kombinasi hangat yang selalu saya rindukan ketika jauh dari kampung halaman.

Asiknya lagi, bapak juga tidak pernah makan di luar. Bapak selalu menyempatkan diri makan di rumah dan bercanda gurau dengan ibu membahas masakan yang dimasaknya hari itu. Ketika lapar tengah malam pun, alih-alih membeli makan diluar, bapak lebih memilih untuk menghangatkan lauk dan makan nasi sisa yang ada di Rice Cooker Miyako rumah kami. Kenikmatannya jauh berkali lipat kalau makan di rumah. Begitu kata bapak suatu hari.

Momen-momen kecil nan hangat itu kerap menyusupi ingatan selama menjadi perantau. Terlebih, menjadi perantau bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Mulai dari tantangan di tempat kerja sampai tantangan yang datang dari dalam diri sendiri. Kerinduan yang luar biasa terhadap rumah, kehangatannya, dan kenikmatan masakan Ibu.

Tantangan Menjadi Perantau: Banyak dan Tidak Mudah


Sebagai anak perantau, ada saja rintangan dan tantangan yang harus dihadapi selama jauh dari kampung halaman. Semua itu tentu harus dihadapi agar bisa terus bertahan dan mencapai titik yang lebih baik. Toh, kita semua merantau untuk mencapai titik yang lebih baik dan menggapai masa depan lebih cerah. Tentu, jalannya tidak akan pernah mudah dan pastinya terjal penuh rintangan.

Menghadapi tantangan-tantangan yang hadir, saya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapinya. Meski terkadang hampir menyerah karena lelah, namun semangat kembali bertumbuh ketika mengingat kondisi orang tua di rumah dan perjuangan mereka selama ini.

“Kamu harus bertahan. Kamu harus kuat. Kamu harus menjadi lebih hebat,” itulah sugesti yang selalu saya berikan kepada diri sendiri ketika merasa lelah dan sedang berada di titik terendah.

Warung “Masakan Ibu” Obat Sementara Dikala Rindu Melanda



Ketika mulai merasa lelah, saya biasa mengobatinya dengan cara mencari makan di luar. Berkeliling sambil mencari warung “Masakan Ibu”. Warung dengan menu familiar yang sudah lama tidak dirasakan. Menu-menu sederhana yang cukup familiar dengan aromanya yang khas. Sebuah obat atas rindu rumah dan masakan hangat Ibu.

Benar, cita rasa menu di Warung “Masakan ibu” adalah obat paling ampuh untuk mengatasi kerinduan. Meski tidak dimasak langsung oleh Ibu, masakan di warung “Masakan Ibu” selalu berhasil mengobati kerinduan terhadap rumah dan kehangatannya. Sajian-sajian hangat seperti soto, rendang, atau gulai selalu mengundang kenangan akan meja makan keluarga yang penuh tawa dan cerita. Bahkan aroma bumbu dapur yang khas sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari memori masa kecil di kampung halaman.

Namun, sebagai perantau, saya tidak bisa makan di luar setiap hari. Saya harus menjadi seefisien mungkin mengatur keuangan agar tidak boncos di tengah bulan. Bayangkan saja, jikalau sehari saya bisa makan sampai 3 kali dengan asumsi seporsi nasi dan lauk sekitar Rp 15 ribu. Artinya, dalam sebulan saya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 1.350.000 untuk makan. Belum juga biaya transportasi, bayar kost dan kebutuhan lainnya. Jika tidak diatur dengan baik, bukannya sukses tapi bangkrut jadinya. Mau tidak mau saya harus memikirkan cara lain nan efektif untuk mengatur keuangan sembari mengobati rasa rindu terhadap masakan Ibu.

Menanak Nasi Sendiri adalah Jalan Ninjaku



Dihadapkan dengan dinamika tersebut, saya akhirnya memilih untuk menanak nasi sendiri. Beruntung, Ibu kost tidak memberikan biaya tambahan untuk penggunaan alat elektronik seperti Rice Cooker. Ibu Kost, terima kasih.

Singkat cerita, setiap pulang kampung akhirnya saya biasa membawa kembali sekarung beras untuk stok di perantauan. Tentu, dengan Rice Cooker Miyako rumah yang saya boyong ikut ke perantauan juga. Setidaknya, nasi hangat yang dimasak dengan Rice Cooker Miyako membawa kenikmatan dan kehangatan yang khas. Mengobati rindu akan rumah yang suka datang tanpa mengucap salam.

Oh iya, selain memberikan Rice Cooker Miyako keluarga untuk dibawa ke perantauan. Ibu juga menitipkan beberapa resep sop bening sederhana nan bergizi untuk membuat makanan saya lebih nikmat dan tentunya tidak polos. Ibu memberikan resep ini setelah saya mengatakan hanya bisa menggoreng telur dan merebus mie saja sambil cengengesan. ~hehe

Berikut resep Sop Bening sederhana dengan bahan yang mudah didapatkan.



Bahan-bahan:


  • 500 gram daging ayam, potong dadu. (Kondisional, kadang saya ganti dengan telur goreng ketika akhir bulan.)
  • 2 liter air
  • 2 buah wortel, potong dadu
  • 1 buah kentang, potong dadu
  • 100 gram buncis, potong-potong
  • 1 batang daun bawang, iris
  • 1 batang seledri, iris
  • Garam dan merica secukupnya

Cara membuat:


  1. Didihkan air dalam panci.
  2. Masukkan daging ayam dan masak hingga mendidih.
  3. Kecilkan api, lalu masukkan wortel, kentang, dan buncis. Masak hingga sayuran setengah matang.
  4. Masukkan daun bawang dan seledri. Masak hingga sayuran matang.
  5. Tambahkan garam dan merica secukupnya. Kemudian, sesuaikan rasa dengan selera masing-masing.
  6. Angkat dan sajikan selagi hangat.

Berangkat dari rasa penasaran. Saya akhirnya mencoba mencari tahu kandungan gizi dari resep yang diberikan Ibu. Ternyata, dalam sup sederhana yang diresepkan itu, terdapat banyak manfaat dan kandungan gizi bagi tubuh. Berikut ikhtisarnya.

Melansir laman Fatsecret, semangkuk sop sayuran rendah natrium mengandung sekitar 56 kalori.Selain itu, sajian ini juga mengandung berbagai nutrisi lainnya seperti:

  • 0,76 gram lemak (11%)
  • 2,02 gram protein (13%)
  • 12,14 gram karbohidrat (76%)

Jumlah kalori sayur sop wortel kentang cenderung rendah karena kandungan airnya tinggi. Jadi, sop bening ini adalah menu yang cocok bagi kalian yang lagi diet. Nikmat, murah dan penuh dengan nutrisi.

Tidak hanya itu, sop bening ternyata merupakan sumber vitamin yang baik, seperti vitamin A, vitamin C, dan vitamin B kompleks. Vitamin A berperan penting untuk menjaga kesehatan mata, kulit, dan sistem kekebalan tubuh. Vitamin C berperan penting untuk menjaga kesehatan kulit, tulang, dan gigi. Vitamin B kompleks berperan penting untuk metabolisme energi, fungsi otak, dan kesehatan saraf.

Nah, setelah sop matang, saya kemudian menakar satu piring nasi untuk dibiarkan dingin sejenak sembari menggoreng satu butir telur sebagai pelengkap menu makan. Menikmati menu sederhana dengan sepiring nasi membuat rindu sedikit terobati. Rindu hangatnya rumah, masakan ibu dan kasih sayangnya.

Terdapat beberapa alasan kenapa saya menggunakan Rice Cooker Miyako untuk menanak nasi, berikut diantaranya:

  • Harga terjangkau. Rice cooker Miyako tersedia dalam berbagai varian harga, mulai dari harga Rp100.000-an hingga Rp500.000-an. Harga yang cukup menggoda bagi saya dengan budget hemat.
  • Kualitas terbaik. Meskipun harganya terjangkau, rice cooker Miyako tetap memiliki kualitas yang baik. Rice cooker Miyako terbuat dari bahan-bahan yang berkualitas, sehingga awet dan tahan lama.
  • Desain yang menarik. Rice cooker Miyako memiliki desain yang menarik dan modern dalam beragam pilihan warna.
  • Fitur melimpah. Produk Rice Cooker Miyako menawarkan berbagai fitur lengkap dengan harga terjangkau. Mulai dari fitur ramah energi, penghangat 24 jam dan fitur bermanfaat lainnya.

Kehangatan Masakan Ibu dalam Sepiring Nasi Rice Cooker Miyako

Rice Cooker Miyako


Bicara soal alat masak nasi terbaik, ya Rice Cooker Miyako. Miyako adalah salah satu produsen beragam kebutuhan peralatan rumah tangga kebanggaan Indonesia. Mengusung brand tagline #TemanWajibAnda Miyako menyajikan produk-produk peralatan rumah tangga dengan harga terjangkau, standar kualitas tinggi serta desain yang estetik.

Soal kualitas? Gak usah diragukan. Rice cooker Miyako sudah menggunakan standar SNI sejak tahun 2017. Bahkan, Miyako secara kontinyu sudah tersertifikasi ISO 9001 : 2015 yang menjamin kualitas dalam setiap produknya.

Ada sedikit fun fact, Rice cooker Miyako adalah produk asli Indonesia yang telah mendunia, lho!

Apalagi, baru-baru ini Miyako baru saja merilis produk Rice Cooker baru dengan kode MCM-586 BH. Apa saja keunggulan dan kelebihan dari produk baru Miyako ini? Yuk bahas bareng-bareng.

Keunggulan Rice Cooker Miyako MCM-586 BH: Si Nanoal Anti Lengket



Rice cooker Miyako MCM-586 BH hadir dengan teknologi Nanoal anti lengket ini memiliki banyak keunggulan dan kelebihan. Membuat produk ini jadi andalan banget soal memasak nasi yang sehat, enak dan gak ribet.

Fitur Lengkap 3 in 1


Rice cooker Miyako MCM-586 BH hadir dengan fitur lengkap 3 in 1. Kita bisa memasak, menghangatkan dan bahkan mengkukus lauk di saat bersamaan dengan satu produk saja. Luar biasa banget kan.

Hal yang paling saya sukai dari fitur 3 in 1 Miyako adalah bisa menanak nasi dan mengkukus lauk di saat bersamaan. Bikin proses masak makin praktis. Tinggal goreng telur doang, deh.

Thermostat system



Rice cooker Miyako MCM-586 BH juga hadir dengan fitur Thermostat system. Sistem canggih yang dapat menjaga nasi tetap hangat, tidak kering, dan tidak mudah basi.

Magic tonjolan


Pada bagian atas rice cooker terdapat fitur Magic Tonjolan, berguna untuk mengatur sirkulasi saat memasak dan menghangatkan. Membuat nasi tetap enak dan pulen setiap saat.

Dilengkapi Panci Berteknologi Nanoal Berlian Hitam



Rice cooker Miyako MCM-586 BH dengan Panci Nanoal Berlian Hitam yang anti lengketnya 10x lebih tahan lama. Panci ini juga lebih tebal dengan ketebalan 1.4 mm, serta dilapisi Double Coating pada permukaan dalam dan luar panci. Membuat tampilan panci lebih mewah dan elegan.

Panci Nanoal Berlian Hitam Miyako juga diproses dengan teknologi etching. Membuat lapisan anti lengket-nya meresap ke dalam pori-pori aluminium, menjadikan anti lengket-nya lebih awet dan tahan lama, memberikan permukaan yang lebih halus, dan lebih mudah dibersihkan.

Selain itu, Panci Nanoal Berlian Hitam Miyako sudah lulus uji food grade serta bersertifikasi bebas dari zat kimia asam perfluorooctanoic (PFOA) berbahaya. Membuat nasi aman untuk dikonsumsi dan tentunya sehat bagi tubuh.

Ada Garansi elemen pemanas 5 tahun



Elemen pemanas merupakan komponen penting dalam rice cooker. Jika elemen pemanas rusak, maka rice cooker tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya. Semua Rice Cooker Miyako termasuk MCM-586 BH telah dilengkapi dengan Garansi Elemen Pemanas selama 5 tahun,lho!

Kapasitas besar



Rice cooker Miyako MCM-586 BH ini punya kapasitas yang besar. Mempunyai kapasitas hingga 1.8 liter beras dan menghangatkan 5 liter nasi. Rice Cooker Miyako MCM-586 BH mampu menyajikan hingga 15 porsi nasi dalam sekali masak. Dengan kapasitas besar itu, kita tidak perlu memasak nasi berulang kali.

Hemat listrik


Rice cooker Miyako MCM-586 BH memiliki spesifikasi yang hemat listrik. Produk terbaru dari Miyako ini hanya membutuhkan tenaga 395 watt dan tegangan 220 VAC agar bisa digunakan. Gak perlu takut listrik bakal jeglek, deh.

Tampilan memukau dengan kualitas premium


Rice Cooker Miyako MCM-586 BH dibalut dengan body anti karat dan anti penyok. Hadir dengan varian warna spesial “Baby Pink” yang menawan. MCM-586 BH tentunya sangat menggoda bagi para penyuka warna pink.

Selain itu, Rice Cooker ini dilengkapi fitur Soft Touch Opening untuk memudahkan proses membuka cukup dengan satu sentuhan lembut.


Nikita Willy Pakai Miyako



Ternyata bukan hanya kita saja yang peduli terhadap gizi dan nutrisi dalam sepiring nasi. Selebriti sekaligus public figure seperti Nikita Willy juga memasak nasi menggunakan Miyako MCM-586 BH, Rice Cooker dengan teknologi Nanoal Berlian Hitam.

Baginya, sarapan sehat tak lengkap tanpa nasi. Apalagi untuk buah hatinya. MPASI (Makanan Pendamping ASI) baby Issa dimasak menggunakan rice cooker Miyako.

Bahkan, saat travelling ke Belanda, Nikita Willy membawa rice cooker ini. Tujuannya, agar beras untuk Issa, agar putranya tetap bisa makan sesuai dengan menu masakan yang biasa dimasak saat berada di Jakarta.

“Setiap perjalanan, untuk Issa kita membawa rice cooker dan beras jadi tinggal beli protein dan sayur dimasukin masak bareng nasinya,” tulis Nikita Willy di Instagram Story.