Breaking

Taman Hidup Argopuro – Sebuah Perjalanan Penuh Cerita


“Menikmati proses adalah kewajiban, mencapai puncak adalah sebuah bonus” 

Setiap pendakian adalah soal menikmati dan feel enjoy dengan perjalanan pendakian tersebut. Mendaki bukan semata soal mendapatkan diri kita mampu mencapai puncak, menaklukkan tingginya gunung yang menjulang ke angkasa. 

Mendaki adalah sebuah perjalanan menaklukkan ego, mendorong kemampuan diri menuju batasnya. Dalam setiap pendakian pasti tercecer banyak cerita, banyak kenangan, serta kolase-kolase memori lain yang tersimpan dalam lubuk hati setiap insan. 

Bertemu pendaki lain, bertukar sapa, saling menyemangati, membantu teman rombongan yang mulai kelelahan, berhenti sejenak melepas lelah, mendirikan tenda guna bermalam, serta bejibun cerita lain yang kini sudah kusimpan dengan baik dalam loker ingatan di hatiku. 


Taman hidup argopuro memang sering menjadi tujuan dari para pendaki yang pergi ke pegunungan rengganis. Ada yang berenti cukup sampai disini, ada pula yang terus menlanjutkan hingga puncak. Kalau kamu? Iya! Kamu yang kadang suka nyubit tanpa alas an! Disini saja, jangan kemana-mana, nanti kita buat hubungan ini menjadi lebih serius! (nah lo! Mulai ngawur wkwkwk) 

Perjalanan Menuju Taman Hidup Argopuro 

Taman Hidup argopuro sebenarnya bisa ditempuh melalui 2 jalur. Jalur pertama sekaligus jalur yang direkomendasikan untuk pendaki pemula adalah jalur Bremi dari Probolinggo. Selain rutenya yang mudah dilalui, waktu tempuh yang dibutuhkan juga relative lebih singkat daripada melewati jalur pendakian Argopuro dari Desa Baderan, Kabupaten Situbondo yang membutuhkan 2-3 hari perjalanan. 

Dalam perjalanan ini, aku dan rombonganku memutuskan untuk melewati jalur bremi, selain karena daya tempuhnya yang lebih pendek, banyak wanita juga yang turut serta dalam rombongan kali ini. Jadi kami memutuskan untuk melewati jalur pendakian via Bremi daripada melalui Baderan. 

Taman Hidup Argopuro 

Taman Hidup Argopuro sebenarnya adalah sebuah savana luas dengan sebuah danau alami (Yakali danau nya dibikin sama orang, di atas gunung pula wkwkwk). Detail tentang Taman Hidup bakal aku jelasin via Gambar saja ya! -Untuk gambaran jelasnya, silahkan browsing di google. Aku yakin banyak tulisan yang sudah membahasnya secara terperinci.- 

Cerita Selama Mendaki? 

Banyak sekali cerita yang tersimpan, banyak tawa yang tercipta, senyum terpatri dengan tulus di bibir serta berjuta kenangan lain. Sebuah perjalanan singkat memang, tapi banyak yang tertinggal, banyak yang tercecer dan tersimpan dengan baik dalam benak di dalam hati. 


Benar, setelah satu pendakian. Rasanya tidak cukup hanya menaklukkan sebuah puncak, bawaanya nagih untuk menaklukkan puncak-puncak lain secara bertahap. Perlahan menjejakkan kaki menorehkan langkah di jalan-jalan setapak yang mengantarkan setiap pendaki menuju ke puncak paling tinggi. 

Sebenarnya tulisan ini bukan tentang atau bagaimana perjalanan menuju Taman Hidup. Ini hanya celoteh, tumpahan rasa yang aku rasakan usai sebuah perjalanan singkat menuju Taman Hidup. Tidak banyak rambu jalan maupun penunjuk arah yang aku jelaskan. Semua hal dalam tulisan ini hanya soal dingin udara pegunungan, hangatnya hawa api unggun di tengah gulita malam, riuhnya canda tawa dikala melepas lelah, teriakan semangat dari teman-teman yang turut serta dalam rombongan. Sebuah memori, rasa sekaligus kenangan yang mungkin tidak akan didapatkan jika hanya berdiam diri di rumah. 

Aku sudah sampai ke Taman Hidup nih! Kalian sudah sampai juga atau belum? Atau kalian punya tempat lain yang ingin kalian kunjungi? Yuk saling berbagi cerita! 

Salam Hangat Rahman

___
*Note!
All Visual in this article originally belongs to Tita Wulan
Edited and color graded with VSCO

8 komentar:

  1. Hmmm tengghu tak ajak2 iki. Aku pengen ksna jg man hahaha. Kerennnnn buat konten di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedia logistik mas, ndak cukup sehari doang kalo lewat baderan. Kalo lewat bremi 2 harian keknya cukup 🤣 at least kudu nge camp gabisa main sampe, bikin konten langsung pulang..


      Hayuk kapan kapan coleb lagi mas Joe 😉👍

      Hapus
  2. Argh... Belom kesampean ke Argupuro Mas. Kepengen banget dari dulu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk hayukk... agendakan.. udah mau new normal nih, mari kita sapa kembali keindahan alam yang terpaksa kita tahan belakangan ini 🔥🔥🔥

      Hapus
  3. Balasan
    1. Hai mas Rahman, wah namanya sama nih 🤣

      Terima kasih telah berkunjung yak

      Hapus
  4. Keren banget deh ... suatu saat ingin rasa nya nyempetin waktu buat exploring tempat yang lebih jauh eheheh

    BalasHapus

Anda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.

Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.

Diberdayakan oleh Blogger.