Pernahkah Anda mengirim pesan WhatsApp, centang birunya muncul, tapi balasan tak kunjung datang? Tanpa kata sedikit pun, Anda langsung paham pesan tersirat di baliknya. Nah, selamat.
Semiotika terdengar seperti mata kuliah yang bikin ngantuk, padahal praktiknya ada di mana-mana: lampu lalu lintas, logo makanan, emoji, sampai ekspresi wajah mertua saat melihat menantunya datang tanpa oleh-oleh. Mari kita bahas pelan-pelan supaya nanti bisa sama-sama paham.
Apa Itu Semiotika?
Kata semiotika berasal dari bahasa Yunani, yaitu semion yang berarti “tanda” dan semeiotikos yang berarti “ahli/ilmu tentang tanda”. Jadi secara sederhana, semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda, termasuk sistem tanda dan bagaimana tanda itu dipakai dalam kehidupan manusia.
Tanda di sini luas sekali cakupannya. Bisa berupa kata, gambar, bunyi, warna, gerakan tubuh, bahkan keheningan. Intinya, semiotika bertanya: “Bagaimana sesuatu hal bisa bermakna bagi kita?”
Nah, kalau semiotika itu ilmu tentang tanda, apakah ilmu tentang tanda tanya itu namanya ujian? Baik, lanjut.
Sejarah Singkat Perkembangan Semiotika
Ada pepatah, tak kenal maka tak sayang. Jadi, mari kita pahami terlebih dahulu sejarah perkembangan semiotika itu. Dasarnya, semiotika tidak lahir kemarin sore. Perjalanannya panjang, kira-kira begini:
- Zaman Kuno. Plato memandang tanda bahasa sebagai sesuatu yang alami sekaligus konvensional, artinya disepakati oleh masyarakat tertentu. Aristoteles (384-322 SM) melangkah lebih jauh: bunyi yang kita ucapkan adalah tanda dari gambaran di benak kita, dan gambaran itu mirip dengan objek yang sebenarnya. Tulisan, pada gilirannya, adalah tanda dari ucapan.
- Abad Pertengahan. Pada masa ini, filsafat bahasa berjalan beriringan dengan teologi. Bahasa Latin menjadi pusat pendidikan, dan tata bahasa (gramatika) menjadi pilarnya. Soal makna, ada dua pandangan: makna melekat pada tanda itu sendiri, atau makna datang dari Tuhan.
- Zaman Renaissance. Kajian tentang tanda nyaris tidak mengalami pembaruan berarti. Penelitian semiotika saat itu masih menjadi bagian dari perkembangan linguistik.
- Zaman Modern. Inilah masa keemasannya. Menurut Zoest, ada dua tokoh yang dikenal sebagai bapak semiotika modern: Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce. Setelahnya, Roland Barthes mengembangkan gagasan Saussure ke arah yang lebih budaya.
Ferdinand de Saussure: Tanda Itu Punya Dua Sisi
Saussure (1857-1913) adalah ahli linguistik asal Jenewa, Swiss. Ia memandang bahasa sebagai sistem tanda. Menurutnya, setiap tanda terdiri dari dua bagian yang tak terpisahkan:
Penanda (signifier): wujud fisik tanda, berupa bunyi atau gambar.
Petanda (signified): makna atau konsep yang muncul di pikiran.
Contohnya, ketika Anda membaca kata “kucing”, huruf dan bunyinya adalah penanda, sedangkan bayangan hewan berbulu yang suka tidur di motor Anda adalah petanda. Hubungan keduanya disebut signifikasi, dan hubungan ini terbentuk lewat konvensi atau kesepakatan bersama.
Itulah mengapa hewan yang sama disebut “cat” di Inggris dan “kucing” di Indonesia. Kucingnya tidak protes, yang beda hanya kesepakatannya.
Petanda (signified): makna atau konsep yang muncul di pikiran.
Contohnya, ketika Anda membaca kata “kucing”, huruf dan bunyinya adalah penanda, sedangkan bayangan hewan berbulu yang suka tidur di motor Anda adalah petanda. Hubungan keduanya disebut signifikasi, dan hubungan ini terbentuk lewat konvensi atau kesepakatan bersama.
Itulah mengapa hewan yang sama disebut “cat” di Inggris dan “kucing” di Indonesia. Kucingnya tidak protes, yang beda hanya kesepakatannya.
Charles Sanders Peirce: Segitiga Makna
Peirce adalah filsuf dan ahli logika dari Amerika. Berbeda dengan Saussure yang berangkat dari linguistik, Peirce berangkat dari logika. Ia mengusulkan segitiga makna (triangle of meaning) dengan tiga unsur:
- Sign (tanda): hal yang kita tangkap.
- Object (objek): realitas yang diacu tanda itu.
- Interpretant: makna yang terbentuk di benak penafsir.
Tiga Jenis Tanda Berdasarkan Hubungannya dengan Objek
| Jenis | Dasar Hubungan | Contoh |
|---|---|---|
| Ikon | Keserupaan | Foto atau gambar, misalnya pas foto di KTP (walau kadang tidak serupa) |
| Indeks | Sebab-akibat | Asap menandakan ada api |
| Simbol | Kesepakatan | Warna merah sebagai tanda berani di Indonesia |
Klasifikasi Lain dari Peirce
Peirce juga membagi tanda berdasarkan hubungan tanda dengan tanda (qualisign, sinsign, legisign) dan hubungan tanda dengan interpretant (rheme, dicent sign, argument). Ini versi ringkas dan contohnya:
- Qualisign: tanda berdasarkan sifatnya, misalnya sifat “merah” yang bisa berarti cinta atau bahaya.
- Sinsign: tanda berdasarkan kenyataan individual, misalnya satu jeritan tertentu yang bisa berarti kaget atau senang.
- Legisign: tanda berdasarkan aturan atau kode, misalnya lampu merah berarti berhenti.
- Rheme: tanda yang bisa ditafsirkan beragam, misalnya mata merah bisa berarti baru bangun, habis menangis, atau sakit mata.
- Dicent sign: tanda sesuai kenyataan, misalnya rambu “rawan kecelakaan” di jalan yang memang sering ada kecelakaan.
- Argument: tanda yang langsung memberi alasan, misalnya larangan merokok di SPBU.
Kalau pusing, tenang. Yang penting pahami tiga serangkai ikon, indeks, dan simbol dulu. Sisanya bisa dicicil, seperti cicilan, tapi tanpa bunga.
Roland Barthes: Dari Denotasi ke Mitos
Barthes (1915-1980) adalah penerus pemikiran Saussure yang terkenal dengan konsep mitos. Ia menekankan bahwa makna tidak hanya ada di dalam teks, tetapi lahir dari pertemuan antara teks dengan pengalaman pribadi dan budaya pembacanya. Kajiannya dapat dijabarkan dalam tiga tahap:
- Denotasi: makna sebenarnya, apa yang tampak oleh panca indra.
- Konotasi: makna tambahan yang muncul karena konstruksi budaya.
- Mitos: konotasi yang sudah dianggap wajar dan menjadi pemikiran populer di masyarakat.
Contoh gampangnya adalah bunga mawar. Denotasinya adalah tanaman berduri dengan kelopak indah. Konotasinya adalah cinta dan romantisme. Mitosnya adalah anggapan bahwa “pria sejati harus memberi mawar di hari Valentine”. Padahal, bagi sebagian banyak istri, mawar yang paling romantis adalah yang dibelikan beserta transfer uang belanja bulanan.
Perbandingan Singkat tentang Pandangan Tiga Tokoh
| Aspek | Saussure | Peirce | Barthes |
|---|---|---|---|
| Latar belakang | Linguistik | Filsafat dan logika | Kritik budaya |
| Model | Dua sisi (penanda dan petanda) | Segitiga (tanda, objek, interpretant) | Denotasi, konotasi, mitos |
| Fokus | Struktur bahasa | Hubungan tanda dengan realitas | Makna budaya di balik tanda |
| Cocok untuk | Analisis bahasa | Analisis tanda secara umum | Analisis media dan iklan |
Mengapa Semiotika Penting untuk Dipelajari?
Di era banjir konten seperti sekarang, kita dikepung tanda: iklan, meme, poster, video pendek, hingga thumbnail yang berani menjanjikan “Kamu tidak akan percaya apa yang terjadi selanjutnya!”. Semiotika membantu kita membaca pesan di balik semua itu secara kritis. Bagi mahasiswa komunikasi, pendidik, desainer, dan pembuat konten, semiotika adalah bekal untuk menganalisis teks media dan merancang pesan yang tepat sasaran.
Penutup: Semua Orang Adalah Penafsir
Pada akhirnya, semiotika mengingatkan kita bahwa makna tidak jatuh dari langit begitu saja. Ia dibentuk bersama oleh kesepakatan, pengalaman, dan budaya. Karena itu, satu tanda bisa dibaca berbeda oleh orang yang berbeda, seperti centang biru tadi: bagi satu orang berarti “sibuk”, bagi yang lain berarti “sudah tidak sayang”.
Jadi, tanda apa yang paling sering Anda salah tafsirkan akhir-akhir ini? Silakan tulis di kolom komentar, dan mari kita bedah bersama.
Daftar rujukan:
- Alizamar, & Couto, N. (2016). Psikologi persepsi dan desain informasi: Sebuah kajian psikologi persepsi dan prinsip kognitif untuk kependidikan dan desain komunikasi visual. Media Akademi.
- Barthes, R. (1972). Mythologies (A. Lavers, Trans.). Hill and Wang. (Original work published 1957)
- Ikhsan, T. R. N. (n.d.). Semiotika komunikasi. Academia.edu.
- Saussure, F. de. (1959). Course in general linguistics (W. Baskin, Trans.). Philosophical Library. (Original work published 1916)

0 Komentar
Anda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.
Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.