Thursday, December 21, 2017

Si Pahit Pengikat Kenangan


Mungkin bagi segelintir orang, secangkir kopi hanyalah secangkir kopi. Si hitam pahit bercaffein. Tapi tidak bagi saya. Dalam secangkir kopi tersimpan banyak kenangan. Tentangku, kopi, dan kebersamaan.

Sejak masih kecil saya sudah mengenal kopi. Setiap pagi, dengan rutin ibu selalu menyeduhkan secangkir kopi hitam untuk ayah. Kopi hitam yang memiliki aroma khas. Awalnya saya tidak terlalu menyukai kopi. Rasanya pahit, warnanya pun hitam. Tapi seiring waktu berlalu saya pun mulai tahu cara menikmati kopi.

Memang kopi itu pahit, warnanya hitam, dan disajikan saat panas. Tapi dibalik itu semua kopi memiliki daya magisnya tersendiri. Sebuah perjamuan terasa tidak nikmat tanpa secangkir kopi menengahi. Obrolan menjadi renyah dengan secangkir kopi menemani. Dengan kopi semuanya menjadi lembut dan mengalir.

Awalnya saya pikir setiap kopi itu pahit (dan memang setiap kopi itu pahit 😂). Tapi saya mulai sadar bahwa antara kopi yang satu dengan yang lainnya memiliki ciri khas dan cita rasa yang berbeda.  Saya pun mulai menjelajahi kekayaan kopi nusantara. Menyesap kopi satu ke kopi lainnya.

Kopi, Teman di Setiap Waktu


Hampir di berbagai acara saya menemukan kopi di dalamnya. Acara nonton bareng makin hangat dengan secangkir kopi. Aktivitas ronda malam pun menjadi lengkap dengan secangkir kopi sebagai teman berjaga. Kopi sudah menjadi bagian dari kehidupan.

Karena seringnya saya bertemu dengan kopi, saya pun akhirnya juga turut mencicipi dan akhirnya jatuh cinta kepada kopi. Bagai cinta pertama saya langsung jatuh cinta pada secangkir kopi yang tersuguh dalam acara reuni keluarga saya. Aroma yang khas, aroma yang membuat saya menjadi seorang pecinta kopi. 

Tapi waktu itu saya masih belum terlalu peduli dengan kopi. Tapi di kemudian hari saya sungguh menyesal. Menyesal karena tidak sempat bertanya kopi apa yang terseduh waktu itu. Sejak itu saya pun memulai petualangan saya mencari kopi ternikmat. Kopi yang membuat saya jatuh cinta pada kopi. 

Pencarian Kopi Ternikmat

Telah berbagai macam kopi saya cicipi. Setiap pergi untuk travelling, saya pasti menyempatkan diri untuk mampir di warung kopi. Duduk sebentar menikmati secangkir kopi. Pertama untuk menambah referensi kopi nusantara, menggerakkkan ekonomi 😀, dan mensyukuri limpahnya keragaman kopi nusantara.

Tak terhitung sudah berapa kopi yang saya coba. Dari kafe, restoran, maupun warung pinggir jalan. Semuanya sudah pernah saya sambangi. Setiap kopi pun memiliki ciri khas, aroma, dan cita rasa masing-masing. 

Tapi entah kenapa, hati saya tertambat pada sebuah kopi yang disuguhkan di warung pinggir jalan. Saat pertama kali melangkahkan kaki di warung tersebut, saya disambut dengan aroma kopi yang khas. Aroma kopi yang segar, aroma yang menggugah selera untuk duduk mencicipi secangkir kopi. Aroma yang juga mengingatkan saya pada kopi yang terseduh dalam acara reuni keluarga saya. Secangkir kopi yang membuat saya jatuh cinta pada kopi. Saya pun langsung duduk dan memesan secangkir kopi.

Tak butuh waktu lama, secangkir kopi pun segera tersaji. Segera saya seruput secangkir kopi tersebut setelah bertata krama dengan “monggo pak!” kepada pelanggan lain. Aroma kopi tersebut membuat saya tak tahan untuk segera menikmatinya. Benar saja. Cita rasa kopi itu sungguh nikmat.  Tak mau kehilangan momen tersebut, segera saya bertanya kepada si embok empunya warung.

  “Buk, ini kopi apa?”
  “Kopi Kapal Api le!” jawab si embok
  “Kapal api buk?” saya meyakinkan
  “Iya le, yang biasa dijual di toko kelontong itu!” si embok meyakinkan saya

Tak kusangka, kopi yang saya caroi-cari adalah kopi yang dengan mudah saya temukan di toko kelontong depan rumah. Sungguh terkejut, karena yang saya cari selama ini berada sangat dekat. Bagai pepatah

“Semut di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tak nampak”

Setelah itu saya pun segera mencari informasi tentang kopi kapal api. Bertanya sana sini. Membaca berbagai tulisan. Akhirnya saya paham kenapa “kopi kapal api” itu “jelas lebih enak”. 

Ternyata jawabannya sederhana. Komitmen dari kapalapi untuk menyuguhkan kopi terbaik melalui penyeleksian biji kopi terbaik. Dengan proses pengolahan yang optimal menciptakan bubuk kopi yang nikmat dan memiliki ciri khas. Biji kopi pun tersaji dengan kualitas terbaik dalam sebungkus sachet kopi kapal api. Proses pengepakan yang baik pun membuat kopi kapal api memiliki aroma yang khas dan sungguh menggugah.

Ternyata tidak hanya disitu, dengan sistem pengolahan yang optimal dari kapal api. Kopi kapal api pun bersahabat dengan lambung. Memang lambung adalah momok nyata bagi mereka para penikmat kopi. Banyak pecinta kopi yang terpaksa beristirahat karena lambung mereka tidak mau bersahabat :D. Tapi tidak dengan kopi kapal api.

Selain itu, kenangan yang tersimpan dalam secangkir kopi juga menjadi pelengkap kenikmatan secangkir kopi. Memang benar ia si pahit pengikat kenangan.

Semanjak saat itu, kopi kapal api pun selalu menjadi pendamping setia perjalanan saya. Setiap saya menikmati secangkir kopi, terlintas perjalanan saya mencari kopi ternikmat. Kenangan dari satu warung ke warung lainnya. Semuanya terikat erat dalam secangkir kopi kapal api yang kini selalu terseduh setiap pagi.




Artikel Terkait

Anda bebas berkomentar selama tidak mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI. Selamat berbagi pendapat dan berdiskusi di kolom komentar ini.

Orang baik berkomentar dengan baik.
Jadilah komentator yang baik.
EmoticonEmoticon